Selasa, 22 Desember 2009

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT (Bagian IV)

Bagian ke-IV tulisan ini masih dalam rangka meluruskan "penyimpangan" artikel Sofyan Khalid –hadahullah- dalam tuduhannya terhadap para ulama dan gerakan dakwah WI. Sebelumnya perlu pembaca sekalian ketahui, bahwa wabah tasykik (upaya menanamkan keraguan) terhadap para
ulama, hujatan terhadap harga diri mereka serta upaya merongrong tsiqoh
(kepercayaan) umat kepada mereka yang marak menjamur akhir-akhir ini telah menjadi epidemi yang sangat memiriskan. Memalingkan dan menyibukkan perhatian para ulama dan du'at dari tumpukan kerja dakwah yang begitu berat. Bukan hanya pada ulama-ulama Ahlu Sunnah yang santer disebutkan namanya dalam tulisan-tulisan kaum "salafy" seperti Syaikh Dr. Safar al-Hawali, Syaikh Dr. Salman al-Audah dan selain mereka, bahkan merembet pula terhadap para Ulama-Ulama Kibar yang sebelumnya tidak pernah terlintas oleh akal sehat bakal menemui hal serupa, sebab mereka adalah mercusuar dalam dakwah Akidah dan Manhaj. Makanya jangan kaget kalau kita pernah mendengar sekelompok orang yang menyalahkan sebagian fatwa Lajnah Daimah (Dewan Tetap Urusan Fatwa dan Penerangan) yang beranggotakan banyak ulama-ulama besar yang terkenal, dalam masalah-masalah iman. Wallahul musta'an, dan kami hanya mengatakan sebagaimana perkataan Asy-Syaikh al-Allamah Sa'ad Alu Humayyidhafidzahullah- : "Jika kepercayaan umat terhadap ulama mereka telah goncang, maka kepada siapa lagi mereka harus percaya??".
# Sampai hari ini, apabila kita melihat situs-situs atau blog-blog pribadi orang-orang WI, maka kita akan dapati mereka mencantumkan sebagai LINK mereka, situs Ar Rahmah.com, dan Eramuslim.com. Demi Allah, hal ini tidak akan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecemburuan kepada manhaj yang haq dan terdidik di atas manhaj yang haq, mengingat dalam kedua situs tersebut dengan sangat jelas terdapat banyak sekali penyimpangan bahkan celaan kepada para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Tanggapan :
Pertama, sekali lagi, ini-lah ciri mencolok kelompok "salafy". Tergesa dalam menjatuhkan vonis hukum pada orang lain. Seakan-akan Sofyan telah menelusuri semua situs orang-orang WI tanpa terkecuali, lalu menarik kesimpulan bahwa seluruh orang WI mencantumkan situs-situs yang ia sebutkan itu sebagai LINK, tanpa terkecuali –silahkan perhatikan kalimat Sofyan di atas !!-.
Kedua, terlepas dari benar tidaknya statemen Sofyan di atas, sepanjang pengetahuan kami kedua situs yang disinggung itu pada hakekatnya hanya-lah situs berita, yang kebanyakan memberi informasi pada kita seputar perkembangan dunia Islam dan perjuangan kaum muslimin di belahan dunia, termasuk di tanah air. Adapun jika terdapat penyimpangan padanya, maka tidak sampai "banyak sekali" seperti ungkapan Sofyan, apalagi dalam hal celaan kepada para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Wallahu a'lam. Dan ia masih lebih ringan ketimbang situs-situs berita lainnya, yang banyak memuat hal-hal berbau maksiat, kabar-kabar burung dan sebagainya. Bahkan kalau mau memakai timbangan antum, maka kami juga sangat menyayangkan kalau sebagian ikhwah mencantumkan dalam situs mereka sebagai LINK, situs www.almakassari.com dan yang se-darah dengannya, lantaran sarat memuat kabar-kabar burung, kata-kata kasar tidak beradab terhadap kaum muslimin, serta cercaan terhadap kehormatan dan harga diri para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Termasuk artikel Sofyan ini. Begitu ramai dengan cercaan dan hinaan terhadap para Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, seperti Syaikh Dr. Safar Hawaly, Syaikh Dr. Salman al-Audah, Syaikh Dr. 'Aidh al-Qarni dan selain mereka, wallahul musta'an. Ini sama artinya dengan maling teriak maling. Silahkan lihat bagian ke-III dari bantahan ini, berkaitan dengan rekomendasi dan pujian para kibarul Ulama terhadap mereka yang kami sebutkan.
Ketiga, kalau maksud dari paragraf di atas untuk mendiskreditkan dakwah WI lantaran menukil berita dari sumber-sumber yang antum sebutkan, maka bagaimana dengan kelompok "salafy" yang menjiplak berita-berita koran lalu membenarkan begitu saja serta memaksa para pengikutnya percaya padanya…??!! Apakah haram bagi kami dan halal bagi antum??? Ma lakum kaifa tahkumun…??!!. Bahkan, seingat kami kelompok antum pernah menyelenggarakan Daurah di Masjid Raya Makassar yang pada waktu itu sponsor-nya adalah Kopkar (Koperasi Karyawan) NV. Hadji Kalla… yang mana lebih nyeleneh dan plin-plan..??!!.[i]
Demikian-lah, tuduhan-tuduhan antum sebenarnya hanya dibangun di atas tendensi pribadi[ii] dan hawa nafsu tanpa upaya melakukan klarifikasi berita. Ada beberapa bukti yang akan kami ketengahkan di sini, diantaranya: (1). Tatkala antum menuduh WI sebagai jaringan teroris dan khuruj pada pemerintah, justru hubungan WI dengan pemerintah sangat erat. Bahkan Kapolda dan WI sempat menandatangani MoU sebagai wujud kepercayaannya menjalin kerjasama dakwah dengan WI dalam pembinaan anggota-anggota POLRI. (2). Pelatihan da’i harian di Jeneponto yang merupakan program pemerintah, ternyata dipercayakan pada WI dan telah berlangsung kurang lebih 6 tahun hingga sekarang. (3). Ketika Bpk Drs. Patabai Pabokori menjabat sebagai bupati Bulukumba, beliau rutin mengadakan pengajian mingguan di rumah jabatan buat masyarakat, dan alhamdulillah pematerinya diserahkan pada WI. Sampai sekarang, saat menjabat sebagai KADIS pendidikan beliau masih menjalin hubungan baik dengan WI. Pertanyaan kami, apa bukti sumbangsih dan kerjasama antum dan kelompok antum dengan pemerintah dalam hal dakwah dan kebaikan??
Keempat, lebih lucu lagi, pembaca budiman, ternyata diantara maroji’ (referensi) yang dikutip oleh Sofyan cs dalam artikelnya bersumber dari program Maktabah Syamilah[iii], hasil karya para du’at yang menjadi bulan-bulanan hujatan mereka. Ini bukan tuduhan tanpa bukti. Berikut kami nukil petunjuk penggunaan Maktabah Syamilah yang tertera pada program, sekaligus menjelaskan sumber maktabah tersebut :

المكتبة الشاملة

· الهدف من هذه المكتبة ليس مجرد جمع بعض الكتب المجانية من الإنترنت في مكتبة واحدة بل الأهم من ذلك هو إمكانية إضافة الكتب وتعديلها لتكون المكتبة الشخصية لطالب العلم
· والمكتبة مجانية ويمكن تحميلها من موقع المكتبة مجانا http://www.shamela.ws
· لا يجوز استخدامها لنشر ما يخالف منهج أهل السنة والجماعة.
· وليس هذا تضييقا على طالب العلم ، بل يجوز لطالب العلم المتبصر أن يضع من كتب أهل البدع مثلا ليرد عليها أو نحو ذلك أما نشر هذه الكتب فإن من شرط جواز استخدام هذه المكتبة عدم استعمالها في ذلك
· يجوز - بل يشجع - نشر المكتبة على اسطوانات أو في المنتديات أو على مواقع الإنترنت
· للحصول على آخر تحديثات البرنامج وآخر الكتب المضافة استخدم خاصية الترقية الحية في البرنامج
· لأي استفسار أو اقتراح http://www.shamela.ws
· بخلاف الكتب المعروضة على موقع البرنامج ، يمكنك إغناء مكتبتك الشخصية باستيراد ملفات الوورد إلى البرنامج ، وهناك العديد من المواقع العامرة بالكتب في صيغة وورد مثل مكتبة المشكاة ، ومكتبة صيد الفوائد ومكتبة ملتقى أهل الحديث ومكتبة طريق الإسلام
Al-MAKTABAH AS-SYAMILAH
· Tujuan dari maktabah ini bukan hanya sekedar mengumpulkan buku-buku gratis yang berserakan di internet dalam sebuah maktabah, akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah kita bisa menambahkan dan merubahnya agar dapat menjadi sebuah maktabah pribadi bagi para penuntut ilmu.
· Maktabah gratis ini bisa diperoleh secara gratis di http://www.shamela.ws
· Tidak boleh digunakan untuk menyebarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah.
· Hal ini bukan berarti pembatasan pada penuntut ilmu, bahkan boleh bagi penuntut ilmu yang mumpuni menambah buku-buku ahlul bid’ah untuk tujuan membantah bid’ah mereka atau yang sejenisnya. Adapun untuk tujuan menyebarkannya, maka (kami tegaskan) bahwa syarat penggunaan maktabah ini yaitu tanpa menggunakan dan menyebarkan (buku-buku ahlul bid’ah tersebut)
· Boleh –bahkan dianjurkan- menyebarkan maktabah ini dengan menggunakan CD, atau pada room atau di internet
· Untuk memperoleh produk terbaru dari program ini atau ingin mengetahui buku-buku tambahan maka silahkan menggunakan الترقية الحية (promosi buku) yang ada dalam program ini
· Selain buku-buku yang ada dalam situs maktabah, anda dapat pula untuk menambah perbendaharaan buku-buku anda, olehnya silahkan memasukkan file word dalam program ini. Ada beberapa situs yang penuh dengan buku dalam bentuk word seperti maktabah meshkat, dan shoidul fawaid dan maktabah multaqho ahlul hadits dan maktabah thoriqul Islam.
Pembaca budiman, perhatikan point terakhir dari petunjuk penggunaan program Maktabah Syamilah tersebut. Perlu diketahui, bahwa situs-situs yang dipromosikan pada point terakhir adalah merupakan situs para masyayekh dan du’at yang menjadi bulan-bulanan hujatan kelompok "salafy".[iv] [v]
Ketika ada kebijakan menyamakan ijazah STIBA dengan ijazah negeri, maka banyak para pengajar yang melanjutkan program S2 di UMI maupun di institusi lainnya. Juga ketika ada kebijakan menarik bayaran SPP dari santri, maka banyak dari santri STIBA yang pindah ke STAI swasta. Sudah dimaklumi bahwa para pengajarnya banyak yang berpaham menyimpang, ditambah lagi adanya ikhtilat dalam ruangan kelasnya.
Tanggapan :
Demikianlah wahai pembaca budiman, kebiasaan kawan-kawan "salafy" kita. Kerjanya hanya mengeluh, mengkritik, bahkan menghujat tanpa ada upaya memberi jalan keluar terbaik demi mashlahat umat dan perjuangan agama ini. Afwan akhi, tolong tunjukkan kami di mana kampus yang benar-benar menerapkan sistem pembelajaran full Islami (untuk program S1 dan S2) di kota Makassar ini?? Kalau ada, demi Allah, kami akan ramai-ramai dan memobilisasi mahasiswa kami belajar ke sana, tentunya untuk satu mashlahat sebagaimana yang antum sebutkan pada awal point di atas. Dan kalau tokh tidak ada, maka itu-lah tanggung jawab kita bersama sebagai seorang muslim yang memiliki rasa cemburu pada agamanya. Bukan malah menyalah-nyalahkan, atau bahkan sampai mengeluarkan mereka dari manhaj salaf..!!.
Namun kalau memang demikian. yang antum yakini, lalu bagaimana dengan ikhwah dan akhwat antum yang kuliah perguruan-perguruan tinggi umum…?? Apakah haram bagi kami dan halal bagi kalian ??, Ma lakum kaifa tahkumun??
Dalam footnote ditulis :
Telah dimaklumi bahwa Ikhwanul Muslimin (IM) yang berpusat di Mesir, telah difatwakan oleh para Ulama sebagai kelompok yang menyimpang dari manhaj Salaf, bahkan Asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah dengan tegas menyatakan bahwa IM tergolong kepada salah satu dari 72 golongan ahlul bid’ah.
Tanggapan :
Mahlan ya Sofyan, tolong datangkan fatwanya..!!! jangan berdusta atas nama Syaikh –rahimahullah-. Perlu kami tambahkan, pembaca budiman, ini juga salah satu kebiasaan teman-teman "salafy" kita. Sebenarnya kami tidak hendak mengais-ngais kelancangan mereka berdusta atas nama ulama. Namun lantaran hal tersebut telah berlaku berulang kali, juga karena mereka berani berdusta atas nama ulama demi mencerca ulama lain untuk maksud melejitimasi tuduhan mereka, maka kami akan memaparkan sedikit bukti kelancangan tersebut.[vi]
Di sini kami akan angkat satu contoh saja, dan masih banyak contoh lain. Diantaranya, perkataan Ust. Luqman Ba'abduh dalam bukunya yang banyak di puji oleh Sofyan Khalid yang mengatasnamakan "kesepakatan umat Islam" untuk mencela Syaikh Dr. Safar al-Hawaly, "Sudah menjadi kesepakatan umat Islam bahwa berita dari orang kafir itu tertolak".[vii] Anehnya, statemen ini tidak ada sumber kutipan, maroji' dan lain sebagainya. Padahal dalam banyak riwayat, Nabi shallallahu alaihi wasallam menerima berita-berita dari orang kafir. Diantaranya:
Kisah tatkala Nabi shallallahu alaihi wasallam mendapati kaum Yahudi di Madinah berpuasa Asyura', lalu beliau bertanya kepada mereka: "Hari apakah ini, kenapa kalian berpuasa?...........dst, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata: "Sesungguhnya pertama kali Nabi mengetahui hal tersebut dan menanyakannya (kepada orang Yahudi) adalah setelah beliau datang ke Madinah dan buka sebelumnya….".[viii]
Dalam perang Badar al-Kubra juga, Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada dua orang kafir tentang jumlah pasukan kaum musyrikin Qurays….[ix]
Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Dan beritakanlah tentang Bani Israil, tidak masalah". (HR. Bukhari, at-Tirmidzi, Ahmad). Dan masih banyak lagi. Kami cukupkan di sini sebagai bukti, bahwa demikianlah keadaan teman-teman "salafy" kita dalam menguatkan tuduhan dan celaan mereka terhadap ulama atau kelompok lain, yaitu dengan cara berdusta atas nama ulama hingga kesepakatan umat. Bahkan parahnya lagi, sampai berani mencela sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam demi menguatkan statemen yang akan dibidikkan pada saudara muslimnya. Ma'adzallah…!!!.[x] Dalam poin ini-pun kami khawatir jangan sampai akh-Sofyan juga berani berdusta atas nama Fadhilatus Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Bazrahimahullah- untuk menguatkan tuduhan dan celaannya terhadap selain kelompoknya.
Diantara yang sangat menyakitkan adalah syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh Qasim Mathar dalam salah satu dialog di IAIN Alauddin bersama WI. Hal itu terasa lebih menyakitkan lagi ketika Ust. Ikhwan tidak mampu membantah syubhat-syubhatnya dengan bantahan yang mengenyangkan orang yang lapar dan menghilangkan dahaga orang yang kehausan, wallahul Musta’an.
Tanggapan :
Subhanallah…takdir Allah untuk menyingkap satu hal yang merupakan karakteristik yang sangat melekat pada diri teman-teman salafy kita. Yaitu sikap serampangan, tidak dapat menerima kekurangan orang lain serta tidak tahu berterimakasih. Padahal merupakan satu perkara aksiomatik, bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna.
Termasuk dalam hal ini, bahwa Ust. Muh. Ikhwan –hafidzahulloh- hanya manusia biasa, yang tak luput dari kekurangan. Tidak lebih dari itu. Banyak hal dalam urusan agama ini yang barangkali belum beliau ketahui. Dan sekali lagi, itu karena kapasitas beliau sebagai manusia biasa dan bukan nabi. Nah, kalau hanya lantaran tidak dapat menjawab sebuah syubhat atau pertanyaan secara umum, kemudian seseorang itu kita rendahkan (baca: hina), maka bagaimana dengan Imam Malik bin Anas –rahimahullah- kala datang kepadanya seorang penduduk dari kawasan benua Afrika membawa sekitar empat puluh pertanyaan yang sekitar tiga puluh enam pertanyaan dijawab oleh beliau dengan ucapan, "Allahu a'lam", apakah karena hal tersebut lantas kemudian kita mengatakan kepada sang Imam bahwa keilmuannya tidak mengenyangkan orang lapar dan tidak menghilangkan dahaga orang haus?? Bahkan, satu hal yang mungkin luput bagi kita dalam kisah di atas, bahwa sikap antum tersebut persis seperti sang pembawa pertanyaan, yang menyangka bahwa manusia itu sempurna dan tidak punya kekurangan, dengan perkataannya, "Bagaimana mungkin engkau tidak mengetahui sedang engkau adalah Imam??. Maka dengan jiwa ksatria Imam Malik –rahimahullah- menimpali: "Sampaikan pada orang-orang di negeri-mu, bahwa Malik tidak mengetahui….". Sebuah sikap yang pantas ditauladani.
Bahkan sejatimya antum, kelompok antum dan kita semua berterima kasih kepada beliau yang telah berjihad melalui hujjah untuk membantah syubuhat mereka, minimal membuat mereka tidak terlalu bebas menjajakan kebathilannya. Bukan malah mencibir dengan kata-kata "menyakitkan" sementara antum dan kawan-kawan antum sendiri hanya ngumpet di bawah kolong dengan dalih tidak boleh duduk dengan ahlul bid’ah. Lalu setelah itu berlaku bak seorang komentator handal yang memberi penilaian bagi usaha orang lain. Wallahul musta'an. Dan biasanya, komentator itu hanya bisa ngomong, sok pintar dan hanya menyalah-nyalahkan orang, sementara dia sendiri tidak memiliki apa-apa. Namanya juga komentator.
Dan perlu pembaca sekalian ketahui, bahwa para asatidzah yang dicela dan dihina oleh Sofyan Khalid dalam tulisannya ini adalah guru-guru beliau yang tanpa pamrih mengajarkan alif ba-nya ilmu syar'i ini kepadanya. Padahal secara tabiat dan fitrah alami manusia dan makhluk lainnya di muka bumi ini, tahu yang namanya terima kasih kepada orang yang pernah menanamkan budi padanya. Afwan, bukan berarti kami hendak menyebut-nyebut kebaikan atau menuntut antum berterimakasih pada mereka. Sekali lagi kalla…, namun maksud kami disini agar anda tahu diri dan jangan terlalu gampang meremehkan dan merendahkan orang lain. Juga sebagai tadzkirah bagi antum akan sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: "Siapa yang tidak tahu berterimakasih kepada manusia, ia pasti tidak berterimakasih kepada Allah".
Dan sepanjang pengetahuan kami yang juga hadir pada waktu itu, apa yang dilakukan oleh Ust. Ikhwan Abdul Jalil, Lc dan Ust. Said Abdus Shamad, Lc yang bertindak sebagai seteru Qosim Mathor cukup menggertak, apalagi ditambah dengan ta’liq Ust. Yusron diakhir acara…alhamdulillah, dan itulah kewajiban kita sebagai seorang yang memiliki rasa cemburu terhadap aqidah yang murni ini, dan bukan hanya pintar mengomentari dan menyalah-nyalahkan usaha orang lain dalam rangka menegakkan kalimat Allah Ta'ala.[xi]
Kalau bukan IM kira-kira siapa yang dimaksud? yang pasti bukan Anshorus Sunnah al-Muhammadiyah, sebab dasar dakwah Anshorus Sunnah dahulu adalah dakwah Salafiyyah yang dipelopori Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang berasal dari Hijaz (Saudi), bukan Mesir!!
Tanggapan :
Sekali lagi ini menunjukkan sikap tergesa-gesa akh Sofyan dan mau menang sendiri kendati "tebakannya" masih mengandung kemungkinan. Perlu kita ketahui, bahwa Jama’ah Ansharus Sunnah Al-Muhammadiyah itu berasal dari Mesir kemudian merambah ke Negara-negara yang lain. Bagaimana mungkin antum telah memastikan bahwa maksudnya adalah IM dan bukan Jama'ah Ansharus Sunnah?? Apakan antum telah tabayyum pada sang empunya perkataan hingga berani memastikan maksud seseorang tersebut?? Apa susahnya jika antum pahami pernyataan tersebut, bahwa kebangkitan Islam di Mesir dimulai oleh Jama'ah Ansharus Sunnah yang ber-asas pada dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Hijaz.
Namun kalau tokh yang antum inginkan bahwa maksud pernyataan tersebut terarah pada dakwah IM, maka apa yang salah dalam pernyataan tersebut?? Sejarah adalah saksi bahwa gerakan dakwah Islamiyah di Mesir menampakkan geliat yang luar biasa pada masa-masa kejayaan gerakan Ikhwanul Muslimin. Sungguh jika hati dibutakan oleh kebencian dan dengki, sebesar apapun kebaikan yang ada di hadapannya tidak sangggup dipandang olehnya.
Apakah sebelum kemunculan Hasan Al-Banna dan IM-nya, para ulama Ahlus Sunnah tertidur sehingga perlu dibangkitkan. Wallohi, itu tidak akan pernah terjadi, sebab Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- telah mengabarkan akan adanya ath-Thoifah al-Manshuroh yang senantiasa zhohir (jaya) di atas kebenaran sampai hari kiamat, dan munculnya para mujaddid. Para Ulama telah menjelaskan bahwasannya diantara mujaddid itu adalah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahumallah- dan lainnya dari kalangan ulama Ahlus Sunnah, bukan dari kelompok menyimpang IM. Maka renungkanlah, wahai saudaraku!!
Tanggapan :
Pertama, yang mengatakan para ulama Ahli Sunnah tertidur dan perlu dibangunkan sebelum kemunculan IM itu siapa?? Dan jujur kita akui, bahwa geliat dakwah dan pembinaan terhadap para pemuda begitu semarak baik di Mesir tempat lahirnya gerakan IM dan dunia Islam secara umum begitu terasa pada masa-masa keemasan dakwah IM, dan hal ini pula yang diakui oleh Fadhilatus Syaikh al-Allamah Abdur Rahman al-Jibrin dan Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Nashiruddin al-Albanyrahimahumallah-.
Kedua, penentuan siapa yang menjadi mujaddid bukan masalah sepele. Kita tidak mengingkari kedua Syaikh yang mulia –rahimahumalloh- tersebut sebagai mujaddid. Namun sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama, diantaranya Ibnu Hajar –rahimahullah-, bahwa mujaddid bisa lebih dari satu pada disiplin ilmu yang berbeda, misalnya ada mujaddid di bidang hadits dan ada mujaddid di bidang fiqh dan ada mujaddid di bidang jihad, dan sebagainya, seperti perbedaan kaum muslimin tentang siapa mujaddid abad ini, ada yang mengatakan Syaikh Bin Baz dan ada yang mengatakan Syaikh Al-Albany, lalu apa salahnya kalau kita katakan kedua-duanya sebagai mujaddid sebagaimana pernyataan mereka berdua sendiri –rahimahumallah-. Dan bisa pula terkumpul pada diri seseorang seperti yang dicontohkan oleh sebagian ulama yaitu Umar bin Abdul Azis yang menjadi Mujaddid abad pertama. coba kita renungkan..!!.
Pertanyaan kami, apa salahnya kalau kemudian kita nyatakan bahwa Syaikh Hasan al-Banna dan Sayyid Qutub –rahimahumallah- termasuk penggerak kebangkitan Islam di Mesir dan dunia Islam secara umum melalui dakwahnya yang memberi banyak kebaikan bagi kalangan pemuda saat itu yang lalai dari dakwah dan perjuangan Islam?? Terlalu picik jika hanya karena penyataan yang dibangun di atas sikap sangka baik kepada beliau –rahimahullah-, lantas seseorang kita keluarkan dari manhaj Ahlu Sunnah. Kalau memang demikian, apakah antum juga akan mengeluarkan Syaikh al-Allamah Abdur Rahman al-Jibrin dan Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Nashiruddin al-Albany dari jajaran ulama Ahlu Sunnah??
Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: "… pada bukunya yang berjudul al-Adalah al-Ijtima'iyyah, beliau –Sayyid Qutub- menulis tentang tauhid dengan ibarat –gaya bahasa- yang sangat kuat dimana ia sanggup menghidupkan dalam jiwa orang-orang beriman rasa tsiqoh (percaya) terhadap agama dan iman mereka. Maka beliau –Sayyid Qutub- dari khalfiyah tersebut secara realita telah men-tajdid dakwah Islam dalam hati pemuda-pemuda Islam, kendati terkadang kita dapatkan pada beliau sebagian kalimat-kalimat yang menunjukkan bahwa waktu (masa) beliau tersebut tidak membantunya untuk merealisasikan pemikiran-pemikirannya pada sebagian masalah-masalah yang beliau tulis tentangnya atau berbicara akannya".[xii]
Beliau –Syaikh al-Albany- berkata pula: "….kemudian kita selalu membicarakan tentang Hasan al-Banna –rahimahullah-, maka saya katakan di hadapan saudara-saudaraku sekalian, saudara-saudara salafiyyin, dan di hadapan seluruh kaum muslimin, seandainya Syaikh Hasan al-Banna –rahimahullah- tidak memiliki jasa dan keutamaan terhadap para pemuda muslim selain bahwa beliau menjadi sebab yang mengeluarkan mereka dari tempat-tempat hiburan, bioskop dan kafe-kafe melalaikan, lalu mengumpulkan dan mengajak mereka di atas dakwah yang satu, yakni dakwah Islam, -seandainya beliau tidak memiliki lagi keutamaan kecuali hanya perkara ini-, maka ia sudah cukup sebagai satu keutamaan dan kemuliaan. Ini saya katakan bersumber dari sebuah keyakinan, dan bukan untuk mencari muka dan tidak pula sekedar basa-basi".[xiii]
Seakan Sayyid adalah seorang nabi yang tak pernah salah, sehingga harus dibela dalam segala kondisi. Padahal setiap orang –selain nabi- boleh jadi terjatuh dalam kesalahan. Karenanya, Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy, Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Albaniy, Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh An-Najmiy, Syaikh Robi’, dan ulama lainnya telah memberikan pengingkaran terhadap kesalahan dan penyimpangan Sayyid Quthub dalam kitab-kitab dan ceramah mereka. [ed]
Tanggapan :
Ada beberapa catatan penting dalam poin ini. Pertama, telah sering kami singgung bahwa "pembelaan" kami terhadap Sayyid Qutb –rahimahullah- dan para ulama lainnya lantaran mereka menjadi bulan-bulanan kezaliman antum dan kelompok antum. Dan sebagai seorang muslim yang telah dipersaudarakan oleh Allah Ta'ala, menjadi kewajiban kami untuk membela kehormatan saudara kami, apalagi jika mereka ternyata masuk dalam jajaran ulama dan orang-orang yang berjasa pada Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Tolonglah saudara-mu baik dalam keadaan menzalimi atau dalam keadaan terzalimi….". Dan tuduhan bahwa kami membela Sayyid Qutb dalam segala kondisi, maka kami katakan bahwa ini adalah ucapan batil dan tuduhan keji (lihat catatan kaki kami pada poin sebelumnya). Sekali lagi, pembelaan kami pada hal-hal yang merupakan kezaliman dan fitnah atas harga diri mereka dan bukan atas kekeliruan yang mungkin saja mereka lakukan. Kedua, Para ulama yang antum sebutkan nama-nama mereka dalam menyikapi Sayyid Qutb-pun tidak jauh beda dengan apa yang kami lakukan. Disamping mendudukkan "kekeliruan" beliau pada porsi sebenarnya sekaligus berlaku inshof terhadap jasa dan kebaikan beliau terhadap perjuangan Islam ini. Wallahu a'lam, kecuali dua ulama terakhir yang antum sebutkan. Padahal telah datang banyak nasehat padanya (baca: Syaikh Robi' dan kawan-kawannya) agar tidak terlalu panjang lisan-nya mencela dan mengkritik orang lain. Termasuk yang keras mencela perbuatan beliau adalah Fadhilatus Syaikh al-Allamah Bakr Abu Zaid dalam risalah qayyimah beliau yang berjudul, "al-Khitab al-Dzahaby", juga Ahli Hadits Madinah Fadhilatus Syaikh al-Allamah Abdul Muhsin Abbad, dalam risalahnya yang berjudul, Rifqan Ahli Sunnah bi Ahli Sunnah". Alhamdulillah, Risalah (al-Khitab al-Dzahabiy) tersebut telah selesai kami terjemahkan dan bisa dilihat dalam situs ini yang menunjukkan sikap ishof mereka terhadap Sayyid Qutb. Ketiga, Kami bersyukur dan berdoa kepada Allah agar membuka hati antum dan orang-orang yang bersama antum, kala membaca perkataan antum “padahal setiap orang –selain Nabi- boleh jadi terjatuh dalam kesalahan”, semoga ucapan ini ikhlas dan dapat mengantar antum untuk inshof terhadap saudara-saudara antum. Dan bahwasanya tidak ada manusia yang sempurna dan luput dari kesalahan. Termasuk antum dan ulama-ulama panutan antum sendiri. Olehnya hati-hati memudah-mudahkan menyerang dan melancarkan tuduhan keji pada saudara-saudara muslim antum dan tidak berusaha memberikan mereka udzur terlebih dahulu. Semoga Allah merahmati Abu Qilabah Al-Jurmy –rahimahulloh- ketika berkata: “Jika sampai kepadamu berita tentang saudaramu yang engkau benci maka berusahalah untuk memberi udzur atau alasan, dan jika engkau tidak mendapatkan udzur tersebut, katakan pada dirimu: barangkali saudara saya memiliki udzur yang saya tidak ketahui”. (Abu Nu’aim : 2/285). Keempat, kalau tokh memang demikian keadaannya, maka ketahuilah bahwa ini adalah masalah kibar ulama (masalah yang terjadi antara mereka para ulama). Artinya, jika terdapat kata-kata kasar di antara mereka, maka kita katakan, bahwa ini wajar dalam kapasitas mereka sebagai ulama yang sederajat. Yang menjadi masalah jika orang-orang kecil yang bacaan al-Qur'an-nya saja masih bermasalah, ikut-ikutan nyemplung dalam ranah berbahaya ini lalu dengan entengnya ikut mencela dan mencaci maki para ulama, dengan dalih bahwa Syaikh fulan juga mengatakan perkataan yang sama…subhanallah, sadarilah wahai saudaraku, siapa diri anda dan siapa Syaikh fulan itu. Apakah anda hendak mendudukkan diri anda setaraf dengan Syaikh bin Baz, Syaikh Utsaimin dan Syaikh al-Albani?? Cukuplah bagi kita (yang masih hijau ini) menyatakan, bahwa kesalahan yang ada pada Syaikh fulan dan fulan telah dibantah dan dikritik oleh Syaikh fulan dan sebagainya….Semoga anda mengerti apa yang kami maksud.
Ini adalah situs orang-orang IM (Ikhwanul Muslimin). Orang-orang WI juga sering menukil dari situs www.hidayatullah.com. Mereka pernah menukil dari situs ini tentang pelarangan buku-buku Sayyid Quthb oleh pemerintah KSA (Arab Saudi) karena di dalamnya terdapat pemahaman-pemahaman penulisnya yang menyimpang. Orang-orang Hidayatullah (dan para hizbiyyun lainnya) tak setuju dengan pelarangan tersebut, lalu mereka buat sebuat artikel tentang ketidaksetujuan mereka terhadap sikap pemerintah Saudi tersebut. Sikap ini juga diaminkan oleh orang-orang WI dengan menukil (copy-paste) artikel yang berisi sikap Hidayatullah terhadap KSA, lalu dicantumkan oleh WI dalam situs resmi mereka (Artikel tanggal 28 November 2008). Namun ternyata artikel tersebut hanya bertahan beberapa pekan, hingga akhirnya hanya admin web WI saja yang dapat melihat isinya. Artikel ini disembunyikan menjelang kedatangan Dubes Arab Saudi dan juga penandatanganan kerjasama pembukaan cabang Universitas Imam Ibnu Saud di Makassar oleh WI.[ed.]
Tanggapan :
Sebelum kami paparkan jawaban kami atas pernyataan ini, maka kami sampaikan kepada pembaca budiman, nampak sekali pada poin ini Sofyan telah kehabisan bahan dan tidak punya kerjaan lagi selain mengais-ngais sesuatu yang ia anggap menyimpang dari gerakan dakwah WI. Olehnya kami katakan wahai Sofyan,
Pertama, Apa salahnya menukil berita dari situs orang-orang IM dan Hidayatulllah wahai Sofyan??. Apakah kebenaran itu hanya berada pada situs-situs kalian kelompok "salafy" hingga kalian mengharamkan situs-situs lain selain kelompok kalian?, Sungguh, hikmah itu merupakan barang hilang bagi kaum muslimin, darimana-pun kalian dapatkan maka ambillah ia. Apalagi, kebanyakan materi dari situs-situs tersebut merupakan berita-berita seputar perjuangan kaum muslimin di belahan dunia dan khususnya di tanah air ini. Dan hal ini masih lebih ringan ketimbang antum yang hanya mencomot berita burung dari situs atau berita koran –tidak islami- tertentu yang memuat fitnah terhadap salah satu kelompok kaum muslimin yang merupakan saudara antum.
Kedua, Sikap pemerintah Saudi Arabiyah bukan merupakan ukuran bagi sebuah kebenaran. Apakah lantaran sikap pemerintah Saudi Arabiyah melarang buku-buku Sayyid Qutub lantas kita mengatakan bahwa Sayyid Qutub menyimpang dan sesat?? Padahal, para Ulama Kibar di negeri tersebut justru banyak memuji dan merekomendasikan buku-buku beliau, terlepas dari kekeliruan yang mungkin saja terdapat padanya.[xiv] Kalau demikian keadaannya, apakah antum juga mengatakan bahwa Fadhilatus Syaikh al-Allamah Muqbil al-Wadi'y (guru Ust. Zulkarnaen) juga menyimpang lantaran buku-bukunya di larang beredar di Saudi Arabiyah, bahkan di bandara-bandara seseorang begitu sulit untuk masuk bersama buku-buku beliau?? Dan kami yakin sikap para ulama di sana tidak sama seperti sikap pemerintah terhadap beliau, yakni Syaikh Muqbil al-Wadi'y, sebagaimana sikap mereka terhadap Sayyid Qutub. Karenanya, apa yang bakal antum katakan terhadap orang-orang yang se-fikrah dengan antum yang membaca, mengkaji buku beliau, Syaikh Muqbil –rahimahullah- padahal telah dilarang oleh pemerintah Saudi Arabiyah?? Maka apakah Apakah antum akan mengatakan pula bahwa mereka menentang pemerintah??
Ketahuilah wahai Sofyan, bahwa terkadang karya-karya seseorang itu dilarang beredar dalam sebuah negera lantaran hal-hal yang sifatnya politik atau karena adanya hasutan sekelompok orang kepada pemerintah setempat untuk mencegat peredaran buku-buku karya seseorang tertentu. Contohnya, dan belum lama terjadi, hasutan kelompok antum terhadap Wakil Presiden Yusuf Kalla untuk melarang peredaran buku-buku karya Hasan al-Banna dan Sayyid Qutub di tanah air, dengan dalih dapat menyuburkan paham terorisme, namun gagal terwujud. Kami khawatir –afwan, bukan menuduh-, kasus yang sama-pun terjadi di Saudi Arabiyah. Wallahu a'lam.
Ketiga, kami akan mengajukan satu pertanyaan pada anda wahai Sofyan, salahkan seseorang membuat sebuah artikel –sebagai nasehat- yang menyatakan ketidak-setujuannya terhadap pemerintah –apalagi jika bukan pemerintah yang ia berada langsung di bawah otoritasnya- berkaitan dengan sebuah keputusan yang dianggap sebagai kemungkaran, apalagi menyangkut harga diri seorang yang berjasa terhadap dakwah Islam?? Afwan, pertanyaan ini kami bidikkan agar antum –dengan segala keterbatasan ilmu- tidak serampangan menjatuhkan vonis sesat atau khawarij hanya lantaran hal tersebut, dengan dalih perbuatan itu merupakan penentangan terhadap pemerintah.
Berikut ini adalah fatwa anggota Kibarul Ulama (Dewan Ulama Besar) Saudi Arabiyah, yang langsung berada di bawah otoritas pemerintah Saudi Arabiyah sekaligus dipilih oleh pemerintah untuk jabatan tersebut, yakni Fadhilatus Syaikh al-Allamah Abdullah bin Qu'udhafidzahullah- tatkala ditanya tentang manhaj Ahli Sunnah wal Jama'ah dalam perkara memberi nasehat terhadap pemerintah, pada muhadharah (ceramah) beliau yang berjudul Washaya li ad-Du'at, vol II:
"Nasehat –kepada pemerintah- dari sisi pijakan merupakan bagian dari i'tiqad, dimana diambil bai'at dengannya "dan hendaklah kalian memberi nasehat kepada orang yang telah Allah Ta'ala wakilkan urusan kalian", Olehnya, nasehat merupakan bagian dari akidah muslim….apalagi jika pemberi nasehat tersebut memiliki ilmu, terpandang dan memiliki kedudukan. Ini dari sisi pijakan.
Adapun yang berkaitan dengan uslub –cara atau metode- memberi nasehat, menurut hemat saya, metode memberi nasehat berbeda sesuai dengan perbedaan keadaan, kondisi pemerintah dan kekuasaannya, kekuatan pemberi nasehat, serta kekuatan proteksi dirinya dari –kezaliman- penguasa. Demikian pula ia berbeda sesuai dengan perbedaan urusan yang ia akan sampaikan sebagai nasehat. Karenanya, saya memandang jika perkara yang hendak disampaikan sebagai nasehat merupakan perkara zahir, jelas dan nampak dalam artian kemungkaran itu nampak dan jelas, maka tidak mengapa memberi nasehat kepada penguasa dengan cara berhadapan dengannya, atau melalui kolom opini di koran-koran (termasuk artikel), melalui mimbar-mimbar, atau dengan metode-metode lainnya jika kemungkaran tersebut jelas dan nampak di tengah-tengah manusia. Sebab Kaidah menyatakan, bahwa sesuatu yang diingkari itu jika dilakukan terang-terangan maka hendaknya di sampaikan pula nasehat padanya secara terang-terangan. Adapun jika kemungkaran tersebut tidak nampak (tersembunyi), tidak diketahui oleh masyarakat banyak, dan kondisinya tetap seperti hal ini, maka dalam kondisi ini tidak boleh –memberi nasehat secara terang-terangan- dan yang dituntut adalah memberi nasehat secara sembunyi-sembunyi pula.
Saya bukan termasuk yang mengatakan "hendaklah engkau memberi nasehat secara sembunyi-sembunyi dan berdua-duaan (dengan pemerintah)", dan bukan pula termasuk yang mengatakan, "hendaklah memberi nasehat secara terang-terangan dan di depan banyak orang", namun setiap dari kedua pendapat itu dituntut berdasarkan perbedaan kondisi dan keadaan. Sebagai contoh, sikap Abu Sa'id al-Khudry –radhiallahu anhu- tatkala Abdul Malik bin Marwan (penguasa saat itu) ingin mengedepankan khutbah dari shalat 'Ied, maka beliau berdiri –di hadapan khalayak banyak- seraya berseru sambil menarik jubah Abdul Malik : "Perkara ini bukan termasuk sunnah". Ini nasehat terhadap penguasa secara terang-terangan atau bukan? Beliau memberi nasehat atau tidak? Jawabannya: Ia memberi nasehat. Bahkan, merupakan satu kewajiban memberi nasehat secara terang-terangan jika –nasehat semacam ini- dapat memberi pengaruh terhadap dirinya –penguasa-. Apalagi, jika yang memberi nasehat secara terang-terangan itu adalah ulama atau seorang yang memiliki pengaruh besar atau orang yang memiliki tanggung jawab dalam hal ini, yang mana jika ia memberi nasehat secara terang-terangan dapat membekas pada dirinya –penguasa-, maka saya memandang untuk menggunakan cara ini.
Adapun jika perkara tersebut sifatnya tersembunyi, atau sang penguasa memiliki kekuasaan otoriter dan ditakuti (disegani) maka ia masuk dalam kategori tidak boleh (memberi nasehat terang-terangan) untuk menolak keburukan –dari penguasa-. Jadi, yang dipandang disini adalah untuk menolak keburukan –dari penguasa- dan bukan tidak boleh –memberi nasehat terang-terangan-. Olehnya, jika ada seseorang ternyata berani mengambil resiko –dalam kondisi tersebut- untuk memperjuangkan kalimat Allah, maka ia mendapat pahala. Allah Ta'ala akan memberinya pahala. Akan tetapi, dalam sebagian keadaan, hendaklah seorang muslim memperhatikan kondisi dan keadaan, mashlahat dan mafsadat. Bukan seperti perhatian para ahli politik dan orang-orang yang punya tanggungjawab –kepemerintahan-. Namun memperhatikan apa yang sesuai dengan Syari'at Allah dan berdasarkan kaidah-kaidah al-kitab dan as-Sunnah, dan seorang muslim kadang mendapat udzur pada sebagian keadaan –untuk memberi nasehat secara terang-terangan-. Ada sebuah kalimat yang banyak didendangkan oleh sebagian du'at, dan ia merupakan perkataan yang baik, "sesungguhnya thalibul ilmi atau seorang muslim boleh baginya pada sebagian keadaan untuk diam terhadap perkara mungkar, akan tetapi tidak boleh baginya untuk berkata yang mungkar", olehnya perlu dibedakan antara berkata yang mungkar dengan diam terhadap perkara mungkar". Selesai fatwa beliau –hafidzahullah-.
Sebagai tambahan, termasuk penyimpangan manhaj bagi kawan-kawan "salafy" kita, sikap mereka dalam menyikapi sesuatu yang zahirnya bertentangan dengan pemerintah. Seolah –menurut kamus mereka- segala yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah, kendati dalam bentuk nasehat masuk dalam kategori memberontak, dan pelakunya pantas digelari sebagai khawarij, yang karenanya mereka tidak segan-segan mengeluarkan Fadhilatus Syaikh Dr. Safar al-Hawaly,[xv] Fadhilatus Syaikh al-Allamah[xvi] Syaikh Dr. Salman al-Audah dan selain mereka berdua dari barisan Ahli Sunnah, kendati mereka termasuk dalam jajaran ulama terpandang di Saudi Arabiyah.[xvii] Kalau demikian adanya, maka apa yang antum akan katakan terhadap sikap sahabat yang mulia Abu Said al-Khudry –radhiallahu anhu- terhadap Khalifah Abdul Malik bin Marwan di atas? Bahkan yang lebih dari itu-pun –yakni, peperangan melawan pemerintah- yang pernah terjadi pada zaman salaf umat ini. Apa yang antum akan katakan terhadap diri Ummul Mukminin Aisyah –radhiallahu anha- dan para sahabat serta tabi'in yang turut beserta beliau dalam perang Jamal[xviii] melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib –radhiallahu anhu-, Mu'awiyah bin Abi Sofyan –radhiallahu anhu- beserta para sahabat dan tabi'in yang turut bersama beliau dalam perang Shiffin melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib –radhiallahu anhu? Demikian pula apa yang akan antum katakan terhadap cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam al-Husain bin Ali bin Abi Thalib yang menarik bai'atnya dari khalifah Yazid bin Mu'awiyah dan pergi menuju Kufah?? Dan masih banyak lagi bertebaran dalam kitab-kitab sejarah. Pertanyaannya, apakah antum dan kelompok antum akan mengatakan bahwa mereka adalah pemberontak khawarij yang menyelisihi hukkam??
Kelima, adapun tuduhan antum bahwa artikel itu disembunyikan lantaran akan adanya kunjungan Dubes Arab Saudi, maka kami katakan, apakah antum telah tabayyun dan bertanya langsung kepada admin-nya sebab tersebut. Padahal kami yang banyak terlibat langsung dengan situs WI tersebut tidak mengetahui seperti apa yang antum ketahui, bahwa ia sengaja disembunyikan. Dan bagi kami-pun tidak ada yang patut disembunyikan dari artikel tersebut selama ia merupakan nasehat bagi pemerintah (Saudi Arabiyah) dalam hal tersebut.
Dan dari pernyataan ini pula, terendus jelas bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh kawan-kawan "salafy" terhadap kelompok selain mereka khususnya gerakan dakwah Ahlus Sunnah WI hanya dilandasi oleh tendensi pribadi dan bukan masalah agama dan manhaj, kendati berusaha dibungkus dengan sesuatu yang mereka katakan sebagai nasehat. Bukti akan hal ini banyak sekali dan telah kami ungkap dalam tiga tulisan sebelumnya, dimana pembaca dapat melihat dan mendapati mereka telah berani masuk –ikut campur- dalam masalah niat-niat orang lain (baca: Wahdah Islamiyah), contohnya pada tulisan pertama, kami paparkan perkataan Ust. Dzulkarnaen –hafidzahullah-: "Kalau mengaku boleh saja mereka mengaku, dan perlu saya beritahu, pegakuannya kalau mereka mengatakan salafy itu ujung-ujungnya adalah duit".[xix] Juga perkataannya pada tempat lain: "Na’am, kemudian mendatangkan ulama-ulama dari Saudi, tapi kalau berbicara di kaset membicarakan pemerintahan Saudi dengan pembicaraan yang sangat keji dan tidak pantas. Kalau ada duit bicaranya bagus, tapi kalau tidak ada duit bicaranya mencela dan menjelekkan",[xx] dan masih banyak dari penyataan ustadz-ustadz "salafy", termasuk penyataan Sofyan Khalid –hadahullah- pada poin ini, yang memberi indikasi kuat bahwa permasalahan di sini ternyata permasalahan pribadi dan bukan permasalahan agama dan manhaj, dimana mereka telah berlebihan masuk dalam menafsirkan niat serta bersaksi atas apa yang ada dalam hati orang lain yang dituding menyimpang. Padahal sungguh, persaksian mereka itu akan ditulis oleh para malaikat dan akan ditanyakan pada hari kiamat kelak, Allah Ta'ala berfirman: "Kelak akan ditulis persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban". (Qs: Az-Zukhruf : 19).
Maka kami hanya mengatakan, subhanallah….!! Apakah antum telah membedah dada-dada mereka lalu menelisik niat dan maksud yang ada di dalamnya?? Siapa yang mengabarkan antum bahwa niat dan maksud mereka adalah duit dan kepentingan dunia lainnya?? Dan sadarkah antum bahwa hukum asal bagi seorang muslim adalah selamat dan bersih dari hal-hal tersebut??. Padahal, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bermu'amalah dan mempergauli orang-orang munafik sesuai apa yang mereka nampakkan dari amal-amal zahir, serta menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala apa yang tersembunyi dalam hati-hati mereka. Jika demikian manhaj dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bermu'amalah dengan orang munafik, maka bagaimana dengan orang-orang beriman dari kalangan Ahlu Sunnah wal Jama'ah?? Wallahul musta'an.
Alhamdulillah, selesai bantahan tulisan Jilid I dari Sofyan Khalid, dan InsyaAllah akan terbit bantahan jilid II dari tulisannya yang berjudul, Mengapa Saya Keluar Dari Wahdah Islamiyah 2.
Terakhir, sebagai nasehat yang ingin kami ketengahkan kepada saudara-saudara kami kelompok "salafy", maka kami katakan:
1. Kepada mereka yang doyan melancarkan ‘tuduhan-tuduhan’ keji, takutlah pada Allah…!!!, takutlah akan daging saudara-saudara antum, [xxi] sungguh, kekeliruan dalam memuji saudara antum jauh lebih baik daripada keliru dalam menuduh mereka. Jangan sampai antum tertidur lelap di malam hari sementara mata-mata orang terdzolimi begadang seraya mengangkat kedua tangannya berdo’a pada Tuhan-nya… ingatlah, barangsiapa yang sibuk dengan aibnya sendiri maka ia tidak akan sibuk dengan aib saudaranya. Kami sepakat dengan nukilan-nukilan antum dari para ulama dalam hal sikap terhadap ahlul bid’ah,[xxii] namun kami ingatkan antum untuk tidak tergesa-gesa memvonis seseorang dengan gelar ‘ahlul bid’ah’, hati-hati…!! Jangan tergesa-gesa…tidak semua orang yang melakukan bid’ah lantas divonis sebagai ‘ahlul bid’ah’, apa lagi jika hanya dibangun atas prasangka-prasangka buruk serta berita-berita tak jelas. Tidakkah sebaiknya kita bahu membahu melawan kebathilan yang bersatu menggerogoti aqidah ummat seperti Syi’ah, JIL dst?. Semoga Alloh menutup kehidupan kita dengan “husnul khotimah”.[xxiii]
2. Kepada para murid-murid mereka, jauhilah sikap ta’asshub terhadap guru dan masyayekh kalian. Ber-akhlaklah seperti akhlak salaf khususnya dalam bersikap terhadap orang yang menyelisihi kita. Tidakkah antum tahu bahwa perbedaan pendapat telah ada sejak zaman para salaf? Namun lihatlah akhlak mereka dalam menyikapi perbedaan tersebut. Sebagai contoh, Abdullah bin Mas’ud menyelisihi Umar dalam kurang lebih seratus masalah, namun apakah hal itu merusak keakraban di antara mereka?, bahkan Umar memuji Ibnu Mas’ud dengan perkataan beliau : “kunnayyif, mul-a ‘ilman", (kamar kecil yang penuh dengan ilmu). Sebab Ibnu Mas’ud adalah seorang sahabat yang kurus. Demikian pula perbedaan antara Ibnu Abbas dan ‘Aisyah pada masalah apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat Allah secara langsung atau tidak dalam perjalanan isro’ dan mi’roj beliau?, begitu juga khilaf antara Imam Ahmad dan Imam Syafi’i yang merupakan guru dan murid pada hukum orang yang meninggalkan sholat karena malas, mereka masing-masing mempertahankan pendapatnya, dan masih banyak contoh lainnya. Namun yang istimewa dalam hal ini, sedikit-pun tidak merusak hubungan antar mereka, bahkan mereka saling memuji satu sama lainnya. Padahal, perbedaan pendapat diantara mereka ada yang terjadi pada masalah-masalah ushul dan bukan hanya pada masalah-masalah furu’. Terakhir, apakah antum tidak menyaksikan akhlak para ulama kita yang hidup di abad ini? Apakah antum tidak pernah membaca pembelaan Syaikh Bin Baz terhadap jama’ah tabligh [xxiv], begitu juga pembelaan Syaikh Al-Albani pada Sayyiq Qutb dan Hasan Al-Banna?, atau pembelaan Syaikh Jibrin juga Syaikh al-Utsaimin secara jelas pada masyayekh yang menjadi bulan-bulanan antum seperti Syaikh Dr. Safar al-Hawaly, Syaikh Dr. ‘Aidh Al-Qorny, Syaikh Dr. Salman al-Audah dan yang lainnya…apakah antum mengira jika DR. Yusuf Qordhowi bertemu dengan para masyayekh tersebut serta merta mereka memalingkan wajah dan tidak memberi salam…??
Kala Syaikh Bin Baz –rahimahullah- wafat, kaum muslimin berkabung, dan para ulama menyampaikan duka mereka yang sangat mendalam, diantaranya Mufti Azhar sekarang Syaikh Sayyid Thontowy, DR.Yusuf Qordhowy, dan dalam penyampaian dukanya, mereka sangat memuji Syaikh Bin Baz –rahimahullah- yang sangat arif dalam bermuamalah dan dalam menyikapi perbedaan diantara mereka.
Kami cuma ingin katakan “pelan-pelan, jangan tergesa-gesa….!!!
Saudaraku, alangkah lebih bijak jika antum menyibukkan diri belajar dan mengkaji ilmu. Masih banyak masalah-masalah dien yang belum tuntas kita pelajari. Sibukkan diri dengan muhasabatun nafs, jalan ke syurga jelas dan pintunya banyak, mari berusaha untuk memasuki salah satunya. Tidak perlu antum menyibukkan diri dengan aib saudara antum yang kami khawatir jangan sampai membuat kaki kita tergelincir, apa lagi jika sampai mengghibahi dan merusak kehormatan para wali-wali Allah…
Kalau ada perbedaan pendapat dikalangan asatidzah itu adalah hal yang wajar sebagaimana perbedaan pendapat dikalangan para ulama salaf. Ibarat dua mata gunting yang tidak membahayakan antara satu dengan yang lain, antum jangan masuk ditengah-tengah…[xxv]
Kami sodorkan pada antum kisah mulia berikut ini:
Diriwayatkan oleh Imam Ad-Dzahaby –rahimahullah- dari Al-Hafidz Abi Musa As-Shodafy, bahwasanya ia berkata : “Aku tidak pernah menyaksikan orang yang paling berakal dari Imam Syafi’i –rahimahullah-. Suatu hari aku berdebat dengannya kemudian kami berpisah. Lalu suatu hari ia berjumpa denganku lalu memegang tanganku seraya berkata : “Wahai Abu Musa apakah tidak sepantasnya kita menjadi saudara kendati kita berselisih dalam satu masalah?" Imam Ad-Dzahaby lalu mengomentari peristiwa tersebut dan berkata: “Ini menunjukkan kesempurnaan akal dan fiqih Imam ini, karena pasti orang-orang akan senantiasa berselisih”..[xxvi]
3. Kepada para ikhwah dan asatidzah yang terdzolimi: bersabarlah, katakan sebagaimana perkataan Yusuf ‘alaihis salam dan ‘Aisyah radhiallahu anha saat difitnah dengan tuduhan yang keji: “Fa shobrun jamil wallohul musta’anu ‘ala ma tashifun”. Teruskanlah perjuangan dalam dakwah, jangan mundur hanya karena suara-suara miring dari ‘tetangga seberang’, bersabarlah…!, dan jangan terlalu menyibukkan diri terhadap mereka, karena sesungguhnya ada dua golongan yang menghambat laju perjalanan dakwah itu:
Pertama, Golongan yang senantiasa mencari-cari kesalahan-kesalahan saudaranya.[xxvii]
Kedua, Golongan yang terlalu sibuk menyikapi golongan yang pertama.
Marilah kita mengambil pelajaran dari seekor kijang yang dapat berlari dengan sangat cepatnya, namun walau demikian ia sering tertangkap predatornya, apakah penyebabnya ?? karena ia sering menoleh kebelakang..
Jika kita terlalu sibuk menyikapi mereka dengan membantah lagu-lagu lama yang terus diupdate, maka kita akan terseret dalam lingkaran syetan yang tidak berujung dan hanya membuat mereka semakin kegirangan. Ujung-ujungnya seluruhnya hanya akan mengeraskan hati-hati kita. Semoga Alloh memberi kita dan mereka hidayah pada jalan yang benar. Giatkanlah kegiatan-kegiatan dakwah, ta’lim dan tarbiyah !!, demi tegaknya izzul Islam wa al-Muslimin.
Semoga Alloh mengaruniai taufiq dan keikhlasan dalam segala perkataan dan perbuatan kita…
Bersambung InsyaAllah…



[i] Dan Alhamdulillah setelah acara berlangsung ada salah seorang ikhwah yang tidak sengaja menyimpan iklannya yang bisa dijadikan sebagai bukti jika dibutuhkan.
[ii] . Bukti akan adanya raihah tendensi pribadi dalam hal ini, silahkan lihat pada akhir tulisan ini.
[iii] Seperti pada muqoddimah tulisannya, Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah, Sofyan menukil perkataan Imam an-Nawawy –rahimahulloh- yang menyebutkan tempat dibolehkannya ghibah, dan ia menuliskan sebagai referensi, ‘maktabah syamilah’..
[iv] Ceramah-ceramah dan durus masyayekh seperti Fadhilatus Syaikh Dr. Safar al-Hawaly, Fadhilatus Syaikh Dr. Salman al-Audah, Syaikh Dr. ‘Aidh al-Qarni, Syaikh Abu Ishaq, Syaikh al-’Uraify dan selain mereka –hafidzahumulloh- memadati situs-situs tersebut di atas. Khusus Maktabah Meshkat, www.meshkat.net berada di Sudan, menurut salah seorang ikhwah yang pernah menimba ilmu di sana dan memiliki hubungan erat dengan para masyayekh yang ada di Meshkat, bahwa durus serta ta’lim yang diadakan oleh Meshkat disampaikan oleh para ulama yang juga terdzolimi dari kelompok "salafy" yang se-fikrah dengan Sofyan cs. Demikian pula Meshkat sering menghadirkan para ulama dari luar Sudan seperti Syaikh Dr. Salman al-Audah, Syaikh Muhammad Hassan, Syaikh Husain Ya’qub, Syaikh Dr. Nashir ’Umar, dan selain mereka. Bahkan salah satu pengurus inti dalam Yayasan Meshkat bernama Fadhilatus Syaikh Muhammad Abdul Karim -seorang qori dan guru Syaikh Mahir Al-Mu’aqli, Imam Masjidil Haram Makkah sekarang- adalah termasuk diantara murid terdekat Fadhilatus Syaikh Dr. Safar al-Hawalyhafidzahulloh-. Silahkan merujuk ke situsnya…
[v] Berkaitan dengan masalah ini, ada seorang da'i WI punya pengalaman pribadi yang agak unik. Tepatnya saat beliau ditugaskan berdakwah di sebuah daerah. Ada seorang ikhwah yang rajin mengikuti kajian dan ta’lim beliau. Ketika hendak pulang, beliau sempat memberi kenang-kenangan padanya berupa buku Tafsir karangan Syaikh Abdur Rahman As-Sa’dyrahimahullah-. Ternyata setelah itu ikhwah tersebut terkena syubuhat seperti Sofyan –hadahumulloh- . uniknya, ikhwah itu tak mau lagi membaca buku tafsir yang beliau hadiahkan dengan dalih ia merupakan hadiah dari ahlu bid’ah…Dan sekali lagi, inilah buah dari penerapan kaidah bid'ah secara serampangan. Fa'tabiru…!
[vi] . Sebenarnya hal ini telah dibongkar oleh al-Ustadz al-Fadhil Abduh Zulfidar Akaha, Lc dalam buku beliau "Siapa Teroris Siapa Khawarij" sebagai bantahan buku "Mereka adalah Teroris" karya Ust. Lukman Ba'abduh (ustadz yang sangat dipuji oleh al-Akh Sofyan). Silahkan merujuk buku tersebut khususnya pada halaman 137 – 166.
[vii] . Lihat: Mereka adalah Teroris, hal 192.
[viii] . Fath al-Bari, III/290.
[ix] . Al-Bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir, III/260-261.
[x] . Bukti ucapan kami ini, silahkan lihat buku "Mereka Adalah Teroris", karya Ust. Lukman Ba'abduh –hafizahullah-, kala membahas tentang seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Muthi'. Didalamnya beliau mencerca sahabat yang mulia tersebut dengan tuduhan Khawarij dan pemberontak. Semoga beliau telah ruju' dan bertobat kepada Allah. Ala kulli hal, yang menjadi ibroh disini adalah, "Hati-hati dan jangan tergesa-gesa sebelum anda mengetahui dengan yakin. Apalagi jika ketergesaan itu didasari oleh dorongan hawa nafsu.
[xi]. Perlu antum tahu juga, bahwa dalam acara tersebut ada salah seorang kader WI yang pada waktu itu dengan penuh keberanian berbicara dengan lantang mengungkap kebathilan Qosim Mathar. Alhamdulillah.
[xii] . Hayatu al-Albany Wa Atsaaruhu Wa Tsana' al-Ulama 'Alaihi, Muhammad bin Ibrahim al-Syaibani, vol. I.
[xiii] . Lihat: www.IslamGold.com. Di sini bukan berarti kita menutup mata terhadap kekeliruan yang ada pada Syaikh Hasan al-Banna –rahimahullah- dan Sayyid Qutub –rahimahullah-, namun sekali lagi, sikap inshof ditekankan dalam hal membicarakan kehormatan orang-orang yang telah berjasa bagi dakwah Islam ini. Dan demikianlah yang ditunjukkan oleh para Ulama Ahlu Sunnah kita, diantaranya Syaikh al-Allamah Nashiruddin al-Albany –rahimahullah-. Kami tidak pungkiri bahwa beliau berdua khususnya Syaikh Hasan al-Banna' memiliki beberapa kekeliruan dalam pemikiran, misalnya dalam permasalahan al-Asma' wa As-Shifat beliau mengambil faham Tafwidhi, kuatnya pengaruh pemikiran tasawwuf pada diri beliau, dan lain sebaginya. Olehnya, menurut kami buku terbaik yang menulis tentang bantahan terhadap sebagian kekeliruan Jama'ah IM adalah "al-Thariq Ila al-Jama'ah al-Umm", yang ditulis oleh Syaikh Utsman Abdus Salam Nuh, dimana dalam buku tersebut penulis tetap menjaga adab dan akhlak dalam mengkritik serta menjadikan sikap inshof sebagai asas utamanya. Olehnya, bagi siapa saja yang sungguh-sungguh mencari kebenaran maka ia tidak akan berhenti menelaah buku tersebut kecuali hatinya telah tenang terhadap manhaj salaf, pada setiap apa yang diselisihi oleh Sayyid Qutub dan Syaikh Hasan al-Banna –rahimahumallah- dari apa yang para salafus salih berada di atasnya.
[xiv] . Kami telah paparkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya fatwa dan perkataan para ulama berkaitan dengan pribadi dan karya-karya Sayyid Qutub, insyaAllah akan kami ketengahkan pada tulisan yang akan datang seluruh perkataan para ulama tentang beliau –rahimahullah rahmatan waasi'an-.
[xv] . Diantara sebab yang menjadikan Fadhilatus Syaikh Dr. Safar al-Hawaly hafidzahullah- menjadi bulan-bulanan kezaliman kelompok "salafy" ini, adalah fatwa beliau yang menyelisihi fatwa Dewan Ulama Besar Saudi Arabiyah dalam hal pembolehan dan izin bagi tentara Amerika mendirikan pangkalan militer di Semenanjung Saudi Arabiyah. Padahal hal ini termasuk kategori masalah khilafiyah ijtihadiyah, dimana Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albanirahimahullah- pun berpendapat seperti apa yang dikatakan oleh Syaikh Dr. Safar al-Hawali tentang ketidakbolehannya. Ala kulli hal, para ulama yang diselisihi oleh Syaikh Dr. Safar al-Hawaly dan Syaikh al-Muhaddits Nashiruddin al-Albani tidak pernah menaruh permusuhan apalagi mang-hajr mereka berdua. Bahkan mereka tetap saling menghargai dan mencintai. Anehnya, justru orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam perbedaan pendapat tersebut yang kemudian sewot, uring-uringan dan lain sebagainya, lalu menyerang dan menyesat-nyesatkan Fadhilatus Syaikh Dr. Safar al-Hawaly saja, dan tidak untuk Syaikh al-Albany. Padahal pendapat keduanya sama, tapi yang dihujat dan dicela hanya Syaikh Dr. Safar al-Hawaly… !!?? Afwan, sengaja kami beri tanda tanya yang banyak, sebab ia merupakan masalah yang menimbulkan tanda tanya besar, yang belum terjawab.
[xvi] . Yang mulai menyebut beliau sebagai "al-Allamah" adalah Fadhilatus Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Bazrahimahullah-, yang menunjukkan pengakuan beliau terhadap keilmuan dan keulamaan Syaikh Salman al-Audah –hafidzahullah. Anehnya, kelompok "salafy" ini –yang katanya memuliakan ulama Ahlu Sunnah- tatkala menyebut nama-nama mereka dalam tulisan-tulisannya, tidak pernah menaruh penghormatan sedikit-pun. Termasuk dalam artikel ini. Mereka hanya menyebut atau menulis Safar Hawaly, Salman al-Audah dan sebagainya, tanpa sebarang embel-embel yang merupakan hak bagi mereka untuk dimuliakan sebagai ulama. Adapun jika menyebut ulama dari kelompok mereka, kendati masih termasuk ulama shigar dan tidak mu'tabar dalam jajaran kibarul ulama, maka mereka akan menggandengkan namanya dengan beragam embel-embel yang memberi kesan bahwa ulama tersebut termasuk dalam jajaran kibarul ulama. Wallahul musta'an.
[xvii] . Jika pembaca ingin membuktikan pernyataan kami ini, silahkan baca karya Ust. Luqman Ba'abduh yang banyak dipuji dan disanjung oleh kelompok "salafy", yang berjudul "Mereka Adalah Teroris".
[xviii] Namun keluarnya 'Aisyah radhiallohu 'anha bukanlah dengan niat perang namun untuk islah antara para sahabat yang bertikai dan ini merupakan ijtihad beliau setelah diminta oleh sebagian sahabat dengan harapan jika mereka melihat 'Aisyah maka para sahabat akan menahan senjata mereka karena mengingat Rosulullah Shallollahu 'alaihi wasallam, dan setelah kejadian tersebut Beliau senantiasa menangis sampai cadar beliau basah disebabkan penyesalan beliau keluar pada perang tersebut...hal ini kami sebutkan karena keluarnya beliau dijadikan sebagai dalil bagi sebagian kelompok yang mengatakan bahwa tidak mengapa wanita keluar dari rumah untuk jihad dan memikul senjata secara mutlak, padahal secara asal wanita diperintahkan Alloh untuk tinggal di rumahnya sebagaimana yang perintah dalam Al-Qur'an..
[xix] . Lihat tulisan bagian I dari silsilah pembelaan ulama dan du'at di situs ini.
[xx] . Ibid.
[xxi] Al-Hafidz Ibnu Asakirrahimahulloh- berkata : “Ketahuilah, sesungguhnya daging para ulama itu beracun, dan sunnatullah pada orang yang menyingkap aib mereka (untuk tujuan mencela) itu telah diketahui, bahwa siapa yang mencela mereka, maka akan ditimpakan kematian hati sebelum kematian jiwa”.
[xxii] Seperti dinukil oleh Sofyan Khalid dalam tulisannya “Mengapa Saya Keluar Dari WI”..dan sebagaimana kami katakan bahwa kita menerima bahkan mengikuti perkataan para ulama tersebut, akan tetapi yang menjadi masalah adalah dalam tathbiq atau penerapannya. Ketika para ulama memperingatkan bahaya duduk bersama ahlul bid’ah, maka yang dimaksud adalah mereka yang benar-benar nyata kebid’ahannya dan terang-terang mengajak dalam kebid’ahan tersebut seperti ahlul kalam, khawarij, dan firqoh sesat lainnya, serta jika nasehat yang baik tidak bermanfaat bagi mereka…olehnya, dalam mengamalkan perkataan para ulama -maksudnya duduk bersama ahlul bid’ah), kaum muslimin terbagi menjadi tiga kelompok :
1. Yang kaku dalam penerapannya serta menghukumi secara mutlak orang yang menyelisihi mereka dengan gelar ahlul bid’ah, kendati dalam masalah yang sifatnya ijtihadiyah, apa lagi jika menyelisihi pendapat guru dan masyaikh mereka..
2. Kelompok yang terlalu toleran dan menerima semua kalangan walaupun jelas kesesatannya selama masih mengatasnamakan Islam dengan dalih perkataan “nata’awan fimattafaqna wa natasamah fima ikhtalafna” yang artinya kita ta’awun dalam hal yang kita sepakati dan toleran dalam hal-hal yang kita berselisih di dalamnya.
3. Adapun golongan ketiga, adalah kelompok pertengahan. Yaitu kelompok yang mengedepankan prasangka baik terhadap kaum muslimin secara umum, namun tegas dalam masalah-masalah prinsip. Mereka mengedepankan asas “nata’awan fimat tafaqna wa natanashah fima ikhtalafna” yaitu kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati dan saling menasehati dalam hal yang kita berselisih di dalamnya. Dan inilah yang diterapkan oleh Wahdah Islamiyah, bahkan inilah yang disebut dengan fiqhud da’wah yang oleh para ulama disebut dengan “mudarah” yang artinya terkadang kita bermuka manis pada seseorang bukan dengan niat menyetujui kemungkaran mereka, namun dengan tujuan menarik simpati orang tersebut agar mengikuti dakwah kita. Uslub semacam ini telah ditunjukkan oleh para nabi sebagai pembawa misi dakwah. Lihatlah contoh yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an bagaimana Ibrohim ‘alaihis salam berlaku lemah lembut dengan bapak dan kaumnya untuk kemaslahatan dakwah. Demikian pula yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tatkala seorang lelaki meminta izin masuk ke rumah beliau, maka beliau berkata : "Izinkanlah ia masuk dan ia adalah sejelek-jelek saudara". Namun ketika orang itu masuk beliau justru bermuka manis dan ramah kepadanya, sampai-sampai ‘Aisyah –radhiallahu anha- heran dengan sikap beliau, akhirnya beliau bersabda : “Sesungguhnya seburuk-buruk manusiadi sisi Allah adalah seorang yang dijauhi manusia karena menghindari kekejian (lisan)-nya". (Muttafaq ‘alaih).
Dan kita mengakui bahwa boikot adalah salah satu diantara wasilah untuk mengembalikan seseorang pada yang haq jika ada maslahat di dalamnya. Akan tetapi, jika uslub ini tidak membawa maslahat bahkan justru membawa mudhorot maka hendaknya kita menempuh cara yang lain sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Al-Utsaimin dalam fatwa-fatwa beliau.
[xxiii] Dan kebanyakannya mereka hanyalah mengandalkan ‘qila wa qola….
[xxiv] Walaupun dalam masalah ini tidak boleh dijadikan pembenaran akan manhaj mereka.
[xxv] Kebanyakan tuduhan keji juga berasal dari orang-orang yang baru menapaki kakinya dalam menuntut ilmu, yang bacaan al-Qur’annya saja bermasalah. Sebab hampir setiap majelis mereka ‘materi tuduh-menuduh’ merupakan hidangan pelengkap yang kurang afdhol jika tidak ada, atau bahkan terkadang menjadi menu utama. Ibaratnya seorang yang baru belajar ilmu beladiri, biasanya yang masih sabuk putih sangat agresif. Seragamnya telah dikenakan lengkap sejak berangkat dari rumah menuju tempat latihan, bahkan kadang kala sengaja mencari-cari musuh. Adapun orang yang telah bersabuk hitam, nampak padanya sikap tawadhu dan sedapat mungkin menghindari musuh.
[xxvi] Siyar A’lam an-Nubala (10/16-17)
[xxvii] Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Wahai orang-orang yang telah beriman dengan lisannya dan belum masuk keimanan itu dalam hatinya, janganlah kalian menggibahi kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka, karena barangsiapa yang mencari-cari kesalahan mereka maka Allah akan menampakkan aib mereka walaupun ia melakukannya di dalam rumahnya”. (HR.Abu Dawud dan dishohihkan Syaikh Al-Albany -rahimahullah-.

print halaman ini
Langganan Posting Via Email

Masukkan Alamat Email Anda :

Artikel Terkait



Comments :

7 komentar to “SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT (Bagian IV)”

Subhanallah walhamdulillah, alangkah baiknya jika silsilah2 ini di CD kan atau dibukukan.

Jazakumullah,

Andi, WA. Aus.

Anonim mengatakan...
on 

masyaAllah.. barakallahu fiikum! yang penting tetap tahan emosi ya!!!

caezaR aKihito mengatakan...
on 

Alhamdulillah, silsilah ini meluruskan keraguan-keraguan tanpa emosi, karena biasanya emosi itu dibarengi dengan setan, meskipun saya bukan orang WI maupun salafy tapi dari kacamata orang awam seperti saya, apa yang terdapat di situs almakassari banyak yang tidak sesuai dengan karakteristik Agama Islam, mudah-mudahan akh sofyan dan saudara-saudara kita yang lainnya dapat memahami, bahwa dakwah ini hendaknya dilakukan dengan Ilmu yang memadai, jangan emosi dan yang terpenting ikhlas semata.

cahayahati mengatakan...
on 

Mudah2an sampai disini, dan tidak terbit silsilah yang ke V, biarkan "kucing mengaum" kafillah berlalu, ayo cerdaskan ummat n tanya diri kita sendiri sudah sampe dimana perjuangan kita menegakan dienulhaq,untuk mengembalikan kejayaan ummat, bukannya terus mencela secara membabi buta, apalagi mencela ulama-ulama yang ngeliat batang idungnya aja kita ngga pernah. atau dibanding keIlmuannya, kita ini tidak tidak ada apa2nya, wong mau masuk LIPIA aja gagal terus, eh malah mencela ulama.

urang dayeuh mengatakan...
on 

Semoga Allah Senantiasa menjaga niat tulus kita dalam mengungkapkan kebenaran dan melunakkan hati kita dalam menerima kebenaran,secara pribadi kami belum melihat secara utuh perintah Allah dalam berjamaah dinegara kita ini, kita masih berkerja sendiri-sendiri. Apakah tidak ada keinginan dari azatidzah dan ikhwah "salafy" untuk duduk bersama dan membagi tugas dakwah mulia ini , padahal kita memiliki sumber daya manusia yang memamdai demi tegaknya DAKWAH AHLUSSUNNAH di kota Makassar

Muh. Gishar mengatakan...
on 

Alhamdulillah...kalimat ini serta merta melesat memoles lesan , menghiasi bibir ana sejurus setela menammatkan artikel ini, terbersit harapan dari dalam jiwa somoga setiap kita benar2 inshaf memandang, menerima dan menyikapi naseihat2 saudara kita, usahlah membela diri bila memang zhahirnya kaki ini telah tergelincir, bijak nian bila lesan dan hati masing2 melantunkan istigfar atas kesalahan yg terlanjur terjadi sembari tak lupa berterimakasih pada saudara yg begitu pamrih dgn nasehat ini ,.....

abu khair mengatakan...
on 

Masya ALLAH risalah yg bagus dan menenangkan hati jika dibaca, krn selain memuat bantahan juga terdapat hikmah2 dari perkataan para ulama.
dan yg terpenting disini dalam membacanya harus dibaca smuanya sampe ke catatan kakinya agar jangan sampai timbul kesalahpahaman atau penafsiran yg miring dari risalah ini.

kepada para admin....JAZAKUMULLAHU KHAIR WA BARAKALLAHU FIIKUM...

Anonim mengatakan...
on 

Posting Komentar

" Afwan, Kami hanya menampilkan komentar yang ilmiah dan kritikan yang membangun "

Next previous home