Sabtu, 19 Desember 2009

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT (Bagian II)

Bagian kedua tulisan ini kami susun karena dipicu oleh munculnya sebuah tulisan yang disusun oleh al-akh Sofyan Khalid –hadahullah- yang berjudul “Mengapa Saya Keluar Dari Wahdah Islamiyah“. Istimewanya, tulisan ini dimuat pula dalam situs “salafy”[1] yang paling getol menghembus fitnah dalam barisan dakwah Ahli Sunnah,

yakni www.almakassari.com. Ditambah lagi, editor dan muraja’ah adalah dua ustadz salafy yang juga sangat getol mendukung bahkan menyebar berita-berita fitnah dan dusta seputar dakwah WI, Ust. Zulkarnain[2] dan Ust. Abdul Qadir –hadahumullah-.

Sekilas judul tulisan tersebut begitu menarik dan memberi kesan seakan penulisnya telah diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari jeratan “kesesatan” Wahdah Islamiyah. Lalu kemudian diamini oleh para pembaca setianya dengan doa-doa, “semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi hidayah kepada kita semua”. Namun tatkala menyimak dan membacanya, maka sekali lagi tulisan tersebut tidak lebih dari syubhat-syubhat usang yang sejak dahulu telah dihembuskan oleh pendahulu-pendahunya dan telah dijelaskan pula jawaban dan bantahannya oleh pihak WI. Tidak ada sesuatu yang baru. Yang baru hanya-lah sang penulis, sebab memang ia baru saja mendapat “hidayah” Allah.

Di awal tulisannya, al-Akh Sofyan membuka dengan mengutip beberapa atsar dari ulama salaf, sebagai dalil untuk melejitimasi apa yang akan ia ketengahkan selanjutnya. Diantara aqwal para ulama salaf tersebut, sebagai berikut:

Al-Akh Sofyan Khalid berkata:

Pembaca yang budiman, sekarang kami akan menukilkan beberapa atsar yang menunjukkan sikap para salaf dalam bermajelis dengan ahli bid’ah yang dikutip dari Kitab Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur (hal. 36-37) :

“Dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu mendatangi Ibnu Sirin seraya berkata, “Wahai Abu Bakr, bolehkah kami menyampaikan satu hadits kepadamu?”
Beliau menjawab, “Tidak. Keduanya berkata lagi : Kalau begitu kami bacakan satu ayat Al-Qur’an kepadamu?” Beliau menjawab, “Tidak, kalian pergi dari sini atau saya yang pergi”. Lalu keduanya pun keluar. Sebagian orang berkata, “Wahai Abu Bakr, mengapa engkau tidak mau mereka membacakan ayat Al-Qur’an kepadamu?” Beliau menjawab, “Sungguh saya khawatir mereka bacakan kepadaku satu ayat lalu mereka selewengkan maknanya sehingga tertanam dalam hatiku”. [HR. Ad Darimy (1/120/no. 397)]

Sallam -rahimahullah- berkata, “Seorang pengikut kesesatan berkata kepada Ayyub, “Saya ingin bertanya kepadamu tentang satu kalimat?” Maka Ayyub segera berpaling dan berkata, “Tidak, meski setengah kalimat, meski setengah kalimat” Beliau mengisyaratkan jarinya”. [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/447 no. 402), Al-Lalika'iy dalam Syarh Ushul Al-I'tiqod (1/143/no. 291), Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah (1/138/no. 101), dan Ad Darimy dalam Sunan-nya (1/121 no. 398)]

Al Fudlail bin Iyyadh rahimahullah berkata, “Jauhilah olehmu duduk dengan orang yang dapat merusak hatimu (aqidahmu) dan janganlah engkau duduk bersama pengekor hawa nafsu (ahli bid’ah) karena sungguh saya khawatir kamu terkena murka Allah”. [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah(2/462-463 no. 451-452), dan Al-Lalika'iy dalam Syarhul Ushul (262)]

Tanggapan:

Pembaca sekalian, ini adalah sebagian hujjah dan dalil yang sering digunakan oleh al-akh Sofyan dan kelompok “salafy”-nya untuk membenarkan sikap mereka menyerang, mencaci maki, serta men-tahzir umat dari para ulama dan kelompok selain mereka. Riwayat-riwayat semisal di atas dan selainnya kemudian selalu dikemukakan oleh kelompok “salafy” yang seakan memberi kesan tidak ada lagi ruang bagi riwayat-riwayat lain dari sikap para salaf terdahulu yang menunjukkan sifat lemah lembut, saling menghormati, cinta dan tasamuh (baca: Toleransi) pada orang lain.[3] Akibatnya, justru mereka sendiri yang bersemangat menisbatkan diri pada salaf, yang kemudian mencederai nama baik salaf di hadapan manusia. Sebab ternyata perkataan-perkataan salaf yang memberi kesan “kasar” dan “keras” disalahpahami dan diinterpretasikan bukan pada tempat sebenarnya.[4] Wallahul musta’an.

Parahnya lagi, justru sikap-sikap yang kami sebutkan di atas, oleh para ustadz-ustadz “salafy” berusaha dilejitimasi, dan dianggap paling pantas dilakukan. Bahkan oleh Ust. Lukman Ba’abduh yang banyak dipuji oleh al-akh Sofyan berusaha dibenarkan dengan hanya mencomot fatwa Syaikh bin Baz –rahimahullah-: “Namun jika sikap lemah lembut tersebut tidak bermanfaat, dan orang yang berbuat kezaliman, atau kekufuran dan kefasikan terus melanjutkan perbuatan tersebut serta tidak memperdulikan teguran dan nasehat, maka sikap yang wajib adalah menyikapi orang tersebut dengan keras serta memberikan hukuman yang pantas baginya dalam bentuk penegakkan had (baca: hukuman), ta’zir atau ancaman serta celaan sampai dia mau berhenti dari perbuatannya tersebut atau meninggalkan kebatilannya.[5]

Padahal tidak demikian yang dimaksudkan oleh Fadhilatus Syaikh bin Baz. Sikap keras dan kasar menurut beliau, harus diletakkan pada tempatnya, yaitu ketika tidak bermanfaat lagi sikap lembut dan nasehat yang baik. Sebab sebelumnya beliau –rahimahullah- mengatakan: “Tetapi bersama dengan itu, syari’at Islam tidak mengabaikan sisi kasar dan keras pada tempatnya, yaitu ketika tidak bermanfaat lagi sikap lembut serta bantahannya dengan cara baik….”. Maka jelaslah di sini, bahwa Syaikh bin Baz menekankan dan mengedepankan sikap lembut dalam berdakwah. Bukan dengan kata-kata kasar, tidak beretika sebagaimana dilakukan oleh ustadz-ustadz “salafy”. Sikap keras dan tegas itu baru dilakukan setelah melalui proses tertentu dan ditujukan pada orang tertentu pula, yakni mereka yang selalu berbuat kezaliman, kekufuran dan kefasikan. Sama sekali bukan diarahkan pada para ulama yang menentang kezaliman, kekufuran dan kefasikan.[6] Dan dari perkataan beliau –rahimahullah- di atas pula, tersirat bahwa nasehat (keras dan kasar jika sikap lemah lembut tidak lagi bermanfaat) itu diarahkan kepada orang yang masih hidup dan bukan yang telah meninggal. Olehnya bandingkan antara fatwa di atas dengan sikap kelompok “salafy” yang terus menggeber dan membongkar aib-aib (menurut versi mereka) para ulama dan pejuang Islam yang telah lama menemui Rabb-nya. Pertanyaannya, apakah Syaikh bin Baz –rahimahullah- sebagai sang empunya fatwa mengaplikasikan fatwa beliau tersebut seperti yang dilakukan oleh ustadz-ustadz “salafy” yang hanya asal mencomot fatwa dari beliau?? Kalla.!! (sama sekali tidak.!!)…semestinya tatkala mereka ingin memahami fatwa tersebut, juga harus melihat secara langsung bagaimana aplikasinya berupa sikap dan perbuatan selama hayat beliau terhadap orang lain yang menyelisihi beliau atau terjatuh dalam kesalahan. Perhatikan ucapan tulus yang terlontar dari Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi saat menghaturkan belasungkawa yang mendalam atas kepergian sang imam: “Sungguh ulama ummat yang paling saya cintai dimana saya enggan menyelisihinya dalam berpendapat adalah Syaikh bin Baz….”. (Fi Wada’ al-A’lam, hal. 62-63).

Bahkan kalau mau jujur, bahwa diantara sikap keras dan “kasar” yang pernah dipraktekkan oleh Syaikh bin Baz dalam hal memberi nasehat adalah kala beliau menegur para pendahulu ustadz-ustadz “salafy” sekitar tahun 90-an. Saat itu beliau mengeluarkan keterangan resmi yang mengingkari dan mencela tindak-tanduk para pendahulu mereka. Begitu teguran “keras” dari Syaikh terbit, mereka lantas bersegera menghadap Syaikh meminta maaf dan memohon rekomendasi dari beliau. Dan sekali lagi, lantaran sikap lemah lembut dan arif serta tasamuh beliau, maka Syaikh pun memberi mereka tazkiyah dan juga kepada Syaikh-Syaikh lainnya yang bukan dari kelompok “salafy” tersebut. Diantara yang dikatakan Syaikh bin Baz tentang kelompok “salafy” pendahulu Sofyan Khalid dalam keterangan resmi beliau adalah sebagai berikut:

- Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menyifati Khawarij sebagai ahli bid’ah. Mereka disifati dan dinamai dengan nama mereka. Hadits tentang mereka mutawatir datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menjelaskan keadaan dan karakter mereka, dimana beliau bersabda: “Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala“.[7]

- Kemudian, diantara karakter Khawarij –tetapi kami tidak mengatakan mereka sebagai Khawarij- adalah kesukaan mereka yang dengan sengaja mengambil ayat-ayat yang turun untuk orang kafir dan meletakkannya atas orang Islam, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Abu Said al-Khudri, dan lainnya –radhiallahu anhum-.[8]

- Cara yang mereka lakukan menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya dari dua segi. Pertama, ini adalah tindakan sabotase terhadap hak-hak manusia di kalangan kaum muslimin. Bahkan lebih khusus lagi, yang diserang adalah para penuntut ilmu dan da’i yang telah mempersembahkan segala kemampuannya untuk berdakwah dan mengajar manusia untuk memahami aqidah dan manhaj yang benar. Para da’i ini juga telah bersungguh-sungguh dalam memberikan pengajian, pengajaran, dan menulis buku-buku yang bermanfaat. Kedua, ini adalah pemecah-belah kesatuan kaum muslimin dan menyobek-nyobek barisan mereka. Padahal, seharusnya mereka bersatu dan menjauhi sikap perpecahan dan saling menggunjing satu sama lain. Bayangkan, mereka mencuplik rekaman kaset ceramah seorang Syaikh, lalu juga mencuplik rekaman Syaikh lain yang membantah. Syaikh ini berkata begini dan Syaikh satunya lagi membantah. Bukankah ini adalah perpecahan?? Jadi, apa maksud semua ini? [9]

Berikut ini kami akan paparkan fatwa-fatwa ulama mu’tabar berkaitan dengan masalah ini.

Fatwa dan Nasehat berharga Syaikh bin Baz –rahimahullah- tentang adab mengkritik dan mengoreksi di kalangan para da’i Ahlu Sunnah

“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dan semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu Nabi yang terpercaya, juga bagi keluarga dan para sahabatnya serta orang yang mengikuti sunnahnya hingga hari kiamat. Amma ba’d.

Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan serta melarang kezaliman, melanggar hak orang lain dan permusuhan. Allah telah mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk menegakkan keadilan dan melarang beliau mengerjakan lawan dari keadilan berupa peribadatan kepada selain Allah, perpecahan, perceraiberaian dan pelanggaran hak-hak para hamba.

Di masa ini telah tersebar banyak orang yang dikenal dengan ilmu dan dakwah kepada kebaikan terjatuh dalam pencelaan terhadap harkat dan kehormatan banyak saudara-saudara mereka –yaitu para da’i yang sudah dikenal-. Mereka juga mencela kehormatan para penuntut ilmu, para du’at dan para khatib. Mereka melakukan demikian secara sembunyi-sembunyi di majelis-majelis mereka. Dan terkadang merekam pembicaraan tersebut dalam kaset-kaset yang disebarkan di tengah-tengah masyarakat. Terkadang pula mereka melakukannya secara terang-terangan pada pengajian-pengajian umum di masjid-masjid. Metode yang mereka tempuh ini menyelisihi perintah Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari banyak segi:

Pertama, metode ini merupakan pelanggaran hak-hak kaum muslimin, bahkan pelanggaran terhadap hak-hak orang-orang khusus yaitu para penuntut ilmu dan da’i yang telah mengorbankan usaha mereka dalam rangka memberi nasehat kepada masyarakat, membimbing mereka, dan meluruskan aqidah dan manhaj mereka. Mereka telah bersusah payah untuk mengatur pelajaran-pelajaran dan pengajian-pengajian serta menulis buku-buku yang bermanfaat.[10]

Kedua, metode ini memecahkan persatuan kaum muslimin dan merobek barisan mereka.[11] Padahal kaum muslimin sangat membutuhkan persatuan dan menjauhi perceraiberaian dan perpecahan. Demikian pula begitu banyak isu-isu yang tersebar diantara mereka. Terlebih lagi, para da’i yang dicela termasuk kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dikenal memerangi bid’ah dan khurafat, menghadang orang-orang yang menyeru kepada bid’ah dan khurafat, serta mengungkap dan membongkar rencana-rencana jahat serta makar mereka. Kami memandang adanya mashlahat dari perbuatan seperti ini, jika diarahkan bagi musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir, munafik, atau dari kalangan ahli bid’ah, dan kesesatan lain yang senantiasa menunggu-nunggu kesempatan.[12]

Ketiga, perbuatan seperti ini membantu orang-orang yang memiliki tujuan-tujuan buruk dari kalangan sekuler, para pengekor barat, kalangan atheis dan selainnya yang terkenal senang mencela para da’i dan berdusta tentang mereka, serta suka memprovokasi untuk melawan para da’i, sebagaimana tercantum dalam berbagai buku dan rekaman mereka. Bukanlah termasuk hak persaudaraan islamiyah sikap mereka yang terlalu terburu-buru –dalam mencela para da’i-. Hal ini membantu para musuh untuk menyerang saudara-saudara mereka dari kalangan para penuntut ilmu, da’i dan selainnya.[13]

Keempat, perbuatan ini menyebabkan rusaknya hati masyarakat umum, juga orang-orang khusus (para da’i dan semisalnya) sekaligus menyebabkan tersebarnya kedustaan-kedustaan dan kabar-kabar yang tidak benar. Demikian pula ia menyebabkan banyaknya perbuatan ghibah dan namimah (adu domba) sekaligus membuka pintu-pintu keburukan selebar-lebarnya, karena lemahnya jiwa yang senang menyebarkan syubhat-syubhat serta mengobarkan fitnah sekaligus giat dalam mengganggu kaum mukminin tanpa sebab yang mereka perbuat.[14]

Kelima, kebanyakan perkataan yang dilontarkan sama sekali tidak benar, namun hanya merupakan persangkaan-persangkaan keliru yang dihiasi oleh setan kepada para pengucapnya. Setan memperdaya mereka dengan hal ini, Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain“. (Qs. Al-Hujuraat : 12). Seorang mukmin hendaknya membawa perkataan saudaranya sesama muslim kepada makna yang paling baik. Sebagian salaf berkata: “Janganlah sekali-kali engkau menyangka dengan persangkaan buruk terhadap sebuah kalimat yang keluar dari lisan saudaramu, padahal kalimat tersebut masih bisa engkau arahkan pada (makna) yang baik“.[15]

Keenam, segala yang lahir dari hasil ijtihad sebagian ulama dan para penuntut ilmu dalam perkara-perkara yang masih diperbolehkan ijtihad di dalamnya, maka pelakunya tidak mendapat hukuman dan tidak pula dicela, apabila ia memang layak untuk berijtihad.[16] Kalau ada orang lain yang menyelisihinya maka yang paling layak untuk dilakukan adalah berdiskusi dengan cara yang baik dalam rangka mencapai kebenaran dengan menempuh jalan terdekat. Hal ini untuk menolak was-was setan dan metode adu dombanya diantara kaum mukminin. Jika hal ini tidak terlaksana dan seseorang memandang wajib menjelaskan penyimpangan, maka hendaknya: (1). Penjelasan tersebut menggunakan ibarat yang paling baik dan yang paling halus.[17] (2). Tanpa sikap menyerang, melukai atau berlebih-lebihan dalam perkataan yang terkadang menyebabkan tertolaknya kebenaran dan berpaling dari kebenaran.[18] (3). Tanpa menyebut (nama) pelakunya,[19] (4). Atau menuduh mereka memiliki niat (buruk), atau menambah pembicaraan tanpa adanya alasan yang membenarkan hal itu. Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri bersabda dalam perkara seperti ini: “Mengapa suatu kaum mengucapkan ini dan itu…”.

Nasehatku kepada saudara-saudaraku yang melakukan ghibah terhadap para da’i dan mencederai kehormatan mereka, agar bertaubat kepada Allah dari perkara-perkara yang telah ditulis oleh tangan-tangan mereka, atau yang dilafazkan oleh lisan mereka yang menyebabkan rusaknya hati sebagian para pemuda, memenuhi hati mereka dengan hasad dan dengki, serta menyibukkan mereka hingga tidak menuntut ilmu yang bermanfaat. Hendaknya mereka bertaubat dari model dakwah mereka yang dipenuhi oleh qila wa qaala (katanya…katanya…), bertaubat dari nukilan perkataan dari fulan dan fulan, mencari-cari perkara yang dianggap merupakan kesalahan orang lain dan berusaha menjerat kesalahan-kesalahan tersebut.

Sebagaimana juga saya menasehati mereka untuk menyebut (mencabut) kesalahan-kesalahan mereka dengan cara menulis atau selainnya yang menunjukkan bahwa mereka berlepas diri dari perbuatan-perbuatan seperti itu, sekaligus menghilangkan apa yang telah tertancap dalam otak orang-orang yang mendengarkan perkataan mereka. Hendaknya mereka bergerak menuju amalan-amalan yang membuahkan hasil yang baik, mendekatkan mereka kepada Allah dan bermanfaat bagi para hamba.

Hendaknya mereka menjauhi sikap tergesa-gesa dalam mengkafirkan atau memfasiq-kan atau mem-bid’ahkan orang lain tanpa penjelasan dan dalil.[20] Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berkata pada saudara (muslim)nya: “Wahai Kafir”, maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya“, (Muttafaq Alaihi).

Merupakan perkara yang disyari’atkan bagi para penyeru kebenaran dan penuntut ilmu, apabila mereka tidak memahami perkataan ahli ilmu dan selainnya, maka hendaknya mereka merujuk kepada para ulama yang mu’tabar, bertanya kepada mereka agar menjelaskan perkara yang sebenarnya dengan jelas, sehingga mereka mengetahui hakikat perkaranya yang benar, juga untuk menghilangkan keraguan dan syubhat yang terdapat dalam diri-diri mereka, sebagaimana tercermin dalam firman Allah: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkan-nya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentunya orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidak karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (diantaramu)“. (QS. An-Nisaa : 83).

Kepada Allah-lah kita memohon agar memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin dan menyatukan hati serta amalan mereka di atas ketakwaan. Semoga Allah memberi taufiq kepada seluruh ulama kaum muslimin, juga seluruh penyeru kebenaran untuk melakukan perkara yang diridhai oleh Allah dan bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya. Semoga Allah menyatukan kalimat mereka di atas petunjuk dan menjauhkan mereka dari sebab-sebab perpecahan dan perselisihan. Semoga Allah menolong kebenaran dan merendahkan kebatilan dengan perantaraan mereka, sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Mampu untuk demikian.

Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para shahabat beliau, juga orang-orang yang mengambil petunjuk beliau hingga datang hari kiamat”.[21]

Duh, pembaca yang budiman, seakan fatwa dan nasehat Syaikh –rahimahullah- khusus terarah pada kenyataan yang terjadi pada dakwah ahli sunnah hari ini, khususnya di Indonesia. Seakan beliau mengetahui jeritan para du’at Ahli Sunnah di tanah air ini menghadapi “kebebalan” sebagian mereka dalam upaya memecahbelah umat khususnya dakwah salafiyah. Hanya kepada Allah kami mengadu dan memohon pertolongan.

Sebagai tambahan, kami tegaskan bahwa yang menjadi persoalan inti sebenarnya yang ada pada kawan-kawan “salafy” kita adalah batasan-batasan kaidah yang mereka gunakan hingga begitu cepat dan berani menjatuhkan palu vonis terhadap seseorang secara ta’yin (baca: individu) atau kelompok lain yang berseberangan dengan mereka sebagai ahli bid’ah wal ahwa. Dan ini sekali lagi merupakan urusan besar dan berbahaya dalam agama.

Metode dalam menyikapi pelaku maksiat dan ahli bid’ah

Seandainya pun benar, bahwa mereka yang dituding oleh kelompok “salafy” itu sebagai ahli bid’ah (secara hakiki), maka apakah penerapan konsep hajr (boikot dan memutuskan hubungan) terhadap mereka dimana kita tidak boleh duduk-duduk bersama mereka, tidak berbicara, tidak menjawab salam dan sebagainya, pantas untuk diaplikasikan pada zaman kita sekarang ini, dengan dalih perbuatan dan perkataan salaf terdahulu seperti yang ditampilkan oleh al-akh Sofyan Khalid di atas? Padahal, ada beberapa realita yang harus dipahami dan tidak boleh diabaikan. Dan ini menunjukkan akan fikih seseorang terhadap realita[22], Pertama, zaman para salaf dahulu tidaklah seperti zaman kita hari ini. Karena secara umum zaman salaf bisa dikatakan sebagai zaman tersebarnya sunnah, dan hal ini jauh berbeda dengan zaman sekarang ini. Kedua, pihak yang menerapkan hajr adalah para imam salaf yang memiliki kedudukan. Suara mereka didengar, bahkan sebagiannya disegani oleh para pejabat zamannya. Berbeda jika yang meng-hajr itu bukan seorang ulama mu’tabar, tidak memiliki apa-apa berupa pengaruh dan kesan di hadapan masyarakat dan pejabat. Maka, sudah dapat dipastikan mashlahat yang hendak dicapai dari sikap tersebut jauh dari harapan bahkan mungkin berdampak sebaliknya yakni lahirnya mudharat dan kerusakan yang lebih besar. Ketiga, kondisi pihak yang di-hajr tersebut, apakah hajr itu akan membawa mashlahat baginya atau justru sebaliknya, kerusakan yang menjadikan ia semakin jauh dari cahaya hidayah? sebab tidak semua orang dapat diterapkan padanya praktek hajr tersebut.

InsyaAllah berikut ini kami akan nukilkan penjelasan para ulama, agar kita tidak serampangan menerapkan perkataan ulama yang dipahami sendiri dari satu buku yang kita baca, tanpa adanya bimbingan ulama mu’tabar. Hingga mengesankan bahwa dakwah salaf itu adalah da’wah keras dan kering serta tidak beretika.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyahrahimahullah- berkata: “Sebagian sahabat-sahabat utama Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: Aku ingin sekiranya sikap para sahabat-ku terhadap diriku seperti sikap Ibnu Taimiyah terhadap musuh-musuhnya”. Beliau melanjutkan: “Aku sama sekali tidak pernah menyaksikannya berdo’a kejelekan kepada seorang pun dari musuh-musuhnya. Namun beliau senantiasa mendoakan kebaikan bagi mereka. Suatu hari aku menemuinya dan menyatakan bahwa aku datang membawa berita gembira tentang kematian salah seorang musuh bebuyutan yang paling keras menentang dan memusuh serta paling sering menyakiti beliau. Maka beliau menghardik dan mengingkari perbuatanku seraya beristirja’. Lalu beliau bangkit dan menuju rumah musuhnya yang meninggal dunia tersebut. Beliau membesarkan hati keluarganya, dan berkata: “Anggaplah aku di sisi kalian seperti kedudukan dia –musuh yang meninggal- di sisi kalian. Tidak ada satu pun yang kalian butuhkan melainkan aku akan berusaha membantu kalian”, atau perkataan yang semisal itu. Mereka pun bergembira, mendo’akan beliau, dan menganggap hal itu sangat bernilai di sisi mereka. Semoga Allah merahmati dan meridhai beliau.[23]

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albanirahimahullah- pernah ditanya tentang cara bermu’amalah dengan para penyelisih manhaj salaf, dimana ada kelompok yang terlalu memudah-mudahkan sementarara di sisi lain ada yang terlalu berlebihan dengan dalih perbuatan salaf juga menunjukkan demikian. Beliau –rahimahullah- kemudian menjawab:

“Pendapat saya, -wallahu a’lam-, bahwa perkataan salaf (yang keras terhadap ahli bid’ah) berlaku pada jaww salafi (kondisi masyarakat yang didominasi pengikut manhaj salaf); yaitu kondisi yang penuh dengan keimanan yang kuat dan ittiba’ yang benar kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat. Masalah ini sama persis dengan masalah muqatha’ah (boikot.ed) -pemutusan hubungan atau boikot- seseorang muslim terhadap muslim yang lain dalam rangka mendidik dan memberi pelajaran kepadanya. Ini merupakan sunnah yang diketahui umum.

Namun yang menjadi keyakinan saya, -dan saya sering sekali ditanya mengenai hal ini- bahwa zaman kita tidak sesuai untuk diterapkan muqatha’ah. Zaman kita ini tidak cocok untuk memutuskan hubungan dengan para ahli bid’ah. Sebab konsekwensinya -yakni hajr ahli bid’ah itu- berarti engkau akan tinggal di puncak gunung dan engkau jauh dari masyarakat. Hal ini dikarenakan tatkala engkau meng-hajr masyarakat –karena kefasikan atau kebid’ahan mereka- tidaklah hal ini memberi pengaruh (positif)[24] sebagaimana pengaruh yang timbul di zaman salaf yang mengucapkan kalimat-kalimat (keras terhadap ahli bid’ah) tersebut”.[25]

Dalam kesempatan lain beliau (Syaikh al-Albani –rahimahullah-) ditanya: “Ya Syaikh, engkau memandang tidak bolehnya penerapan hajr terhadap ahli bid’ah, memusuhi mereka, dan tidak berbicara dengan mereka?

Syaikh al-Albani –rahimahullah- menjawab: “Kami memandang tidak bolehnya penerapan hal tersebut….kalau kita sekarang ingin mengaplikasikan manhaj salaf yang kita warisi dari sebagian ulama kita dari kalangan salaf, berupa sikap keras terhadap ahli bid’ah, meng-hajr mereka dan tidak mendengarkan mereka, maka kita akan kembali mundur ke belakang. Sebagaimana kami katakan, -dan pertanyaan ini banyak datang dari orang-orang yang memiliki semangat keislaman yang tinggi- seandainya kita memiliki seorang teman yang bersama kita di atas satu jalan lalu ia menyimpang hingga akhirnya tidak shalat kemudian kita akan memboikotnya? Kami katakan bahwa kita tidak memboikotnya. Namun perhatikanlah dia dengan memberikan nasehat dan peringatan…Wajib untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya. Orang yang meninggalkan shalat, apabila kita memboikotnya berarti kita menjadikan dia semakin sesat. Yang harus kita lakukan adalah terus memberikan nasehat dan peringatan padanya, bersikap lemah serta lembut padanya, sebagaimana yang pernah dilakukan Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada seorang Yahudi. Hal yang sama juga kita berlakukan pada para ahli bid’ah. Kalau kita tinggalkan mereka, kita biarkan begitu saja dengan kondisi dan kesesatan mereka, maka siapa yang akan berusaha memberi hidayah kepada mereka?”.

Sang penanya berkata: “Jika demikian, maka tidak boleh meng-hajr mereka (ahli bid’ah)?”. Syaikh al-Albani –rahimahullah- menjawab: “Untuk masa sekarang ini tidak boleh”.[26]

Seorang bertanya pula kepada beliau –rahimahullah-: “Ya Syaikh, misalkan ada sebuah tempat dimana Ahlu Sunnah dominan padanya, kemudian ditemukan sekelompok orang yang berbuat bid’ah dalam agama Allah, maka apakah hajr diterapkan atau tidak?”.

Syaikh al-Albani –rahimahullah- berkata: “Apakah kelompok yang berbuat bid’ah tersebut berasal dari tempat itu juga?”

Sang penanya beerkata: “Iya, benar, yaitu di tempat yang dominan di dalamnya kebenaran, lalu timbul kebatilan atau bid’ah, maka pada kondisi seperti ini apakah diterapkan hajr atau tidak?”.

Syaikh al-Albani menjawab: “Yang wajib dilakukan adalah menggunakan cara hikmah.[27] Jika kelompok yang kuat yang mendominasi meng-hajr kelompok yang menyimpang, apakah hal ini akan memberikan manfaat kepada kelompok yang berpegang teguh (pada sunnah) ataukah justru menimbulkan mudharat? Ini dari satu sisi. Kemudian dari sisi yang lain, apakah hajr yang diterapkan oleh al-Thaifah al-Manshurah (Ahlu Sunnah) bermanfaat bagi kelompok yang di-hajr ataukah justru menimbulkan mudharat bagi mereka? Hal ini telah dijawab sebelumnya.

Dalam permasalahan-permasalahan seperti ini janganlah kita mengambil sikap berdasarkan hamasah (semangat) dan perasaan. Namun harus dengan sikap hati-hati, tidak tergesa-gesa dan hikmah. Misalnya kita di sini, salah seorang dari mereka menyelisihi jamaah, (lalu apakah kita akan katakan): “Wahai orang-orang yang memiliki ghirah lakukanlah hajr kepadanya?”, Tentu saja tidak, namun hendaklah kalian bersikap lembut padanya, nasehati, bimbing, temani dia dan seterusnya. Jika memang tidak bisa diharapkan lagi (untuk menjadi baik), ini poin pertama; lalu yang kedua dikhawatirkan (keburukannya) akan menular pada Zaid, Bakr dan selainnya, maka pada kondisi seperti ini dia di-hajr, jika memang kuat dugaan bahwa hajr bermanfaat ketika itu, sebagaimana dikatakan, bahwa obat yang paling terakhir adalah kay (pengobatan dengan sundutan api).

Syaikh al-Albani –rahimahullah- menambahkan: “Secara umum, pada zaman ini aku sama sekali tidak menasehatkan untuk menggunakan metode penerapan hajr sebagai solusi, karena mudharatnya lebih banyak dari manfaatnya….. Apakah engkau mengharapkan seorang sahabat yang tidak memiliki aib? Apakah engkau menginginkan kayu gaharu mengeluarkan wangi harum tanpa disertai asap? Kami berharap sekiranya saudara-saudara kita sesama muslim tersebut sama seperti kita dalam masalah tauhid. Itu saja. Hanya sama dalam tauhid saja, sehingga kalian bisa bersama mereka. Sebab, mereka tidak ridha untuk bersama kita, bahkan dalam masalah aqidah. Mereka mengatakan bahwa menghidupkan khilaf-khilaf hanya mencerai berai barisan dan seterusnya. Mereka, dari saudara-saudara kita tersebut terpecahlah sebuah jama’ah atau merekalah yang memisahkan diri dari jama’ah –wallahu a’lam-, mereka itu sama dengan kita, di atas jalan kita, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, dan di atas manhaj Salafus Salih. Hanya saja mereka membawa suatu pemikiran baru yang kenyataannya sebagiannya salah dan sebagiannya benar. Lalu mengapa kita sekarang ini menyebarkan di antara kita, sebagian kita kepada sebagain lainnya, perpecahan, sikap berkelompok-kelompok dan ta’asshub. Padahal dahulu kita, Ahlu Sunnah, hanya satu. Lalu kemudian menjadi dua kelompok, kemudian menjadi tiga kelompok. Jadilah Ahli sunnah Safariyyin, Sururiyyin, dan seterusnya. Allahu Akbar. Yang memecah belah mereka hanyalah suatu perkara yang tidak layak untuk menjadi sebab perpecahan.[28] Tidak ada perselisihan pada perkara-perkara besar –yang tidak terbayangkan bahwa salafiyyun berselisih padanya-. Kita sama mengetahui bahwa para sahabat berselisih pada sejumlah masalah, namun manhaj mereka satu. Olehnya, apabila ada jama’ah Ahlu Sunnah atau al-Thaifah al-Manshurah, kemudian ada sejumlah orang yang menyimpang dari mereka, maka hendaknya kita menyikapi mereka dengan lemah lembut. Kita berusaha menjaga mereka agar terus bersama jama’ah (Ahlu Sunnah).[29] Kita tidak memboikot dan meng-hajr mereka, kecuali jika kita khawatir timbul sesuatu keburukan dari mereka. Namun kekhawatiran ini tidaklah langsung nampak begitu saja. Tidak sekedar seseorang menampakkan sebuah pendapat yang menyimpang dari jama’ah lalu kita langsung memboikotnya. Kita teliti terlebih dahulu, dan hendaknya kita tidak bersikap tergesa-gesa. Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada hatinya, atau kemudian jelas bagi kita bahwa mengeluarkannya (meng-hajrnya) ternyata lebih baik”.[30]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaiminrahimahullah- berkata mengenai al-wala wal-bara‘: “Jika seorang mukmin tergabung pada dirinya keimanan dan kemaksiatan, maka kita ber-wala’ kepadanya atas keimanannya tersebut, dan kita juga membencinya atas kemaksiatannya.[31] Hal itu berlaku dalam kehidupan kita. Terkadang engkau mengkonsumsi obat yang tidak enak rasanya, engkau membenci menelan obat tersebut, namun bersamaan dengan itu engkau memiliki keinginan kuat untuk memakannya dalam rangka mengobati penyakitmu. Ada sebagian orang lebih membenci orang mukmin yang bermaksiat dibandingkan orang kafir. Ini adalah perkara yang sangat aneh dan merupakan pemutarbalikkan hakikat….Olehnya, jika dalam penerapan hajr tersebut terdapat mashlahat, atau menghilangkan kerusakan, dimana hajr tersebut menjadi teguran bagi selain pelaku kemaksiatan untuk tidak melakukan kemaksiatan, atau hajr tersebut menyebabkan pelaku kemaksiatan berhenti dari kemaksiatan yang dilakukan, maka pada kondisi ini hajr boleh dilakukan, bahkan dituntut dan harus dilakukan, atau dianjurkan sesuai dengan kadar kemaksiatan yang menyebabkan terjadinya hajr tersebut. Dalil dalam kal ini adalah kisah Ka’ab bin Malik…

Namun pada zaman sekarang ini, kebanyakan pelaku kemaksiatan jika di-hajr maka semakin sombong dan menjadi-jadi dalam kemaksiatan mereka, semakin jauh dari ahli ilmu, serta semakin menjauhkan (orang lain) dari ahli ilmu, sehingga penerapan hajr tidak memberikan faedah bagi mereka, dan juga bagi selain mereka.

Jika demikian keadaannya, maka kita katakan bahwa hajr adalah obat yang digunakan apabila menghasilkan kesembuhan. Namun jika tidak mendatangkan atau justru membinasakan, maka ia tidak digunakan”.[32]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazrahimahullah- berkata: “Pendapat yang rajih dalam praktek hajr adalah, dengan melihat kemashlahatan…Seorang mukmin hendaknya memperhatikan yang lebih besar kemashlahatannya. Dan hal ini tidaklah menafikan adanya kebencian karena Allah terhadap orang kafir, ahli bid’ah, dan pelaku maksiat, serta kecintaan karena Allah terhadap orang muslim. Kecintaan terhadap pelaku maksiat adalah sesuai dengan kadar keislamannya, dan kecintaan terhadap ahli bid’ah yang tidak sampai derajat kekafiran adalah sesuai dengan kadar keislamannya…”.[33]

Bahkan boleh saja sikap lemah lembut terhadap pelaku maksiat dan ahli bid’ah lebih utama daripada sikap keras jika ternyata dalam kelemahlembutan itu terdapat mashlahat yang diharapkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyahrahimahullah- berkata: “Apabila orang yang di-hajr, begitu pula orang lain tidak berhenti dari kemaksiatan, bahkan semakin menjadi-jadi, dan pelaku hajr juga lemah kondisinya, dimana mudharat yang timbul lebih besar daripada mashlahat, maka hajr tidaklah disyari’atkan. Bahkan pada kondisi ini sikap lemah lembut kepada sebagian orang lebih bermanfaat daripada penerapan sikap hajr.[34]

Dan masih banyak lagi aqwal para ulama rabbani berkenaan dengan sikap hajr terhadap pelaku maksiat dan ahli bid’ah, yang pada inti atau kesimpulannya adalah: Penerapan kaidah dan praktek hajr tersebut harus mura’aat (memperhatikan) mashlahat dan mudharat yang bakal ditimbulkan. Dan bukan berarti bahwa sikap hajr terhadap ahli bid’ah itu tidak berlaku sama sekali. Akan tetapi, sebagaimana penjelasan para ulama rabbani di atas, harus sesuai dengan kaidah mashlahat dan mudharat. Olehnya, mereka memandang, bahwa penerapan konsep hajr untuk zaman kita ini, dengan memandang kondisi Ahli Sunnah yang lemah, kurang tepat dan bukan pada tempatnya. Maka konsekwensi dari perkataan dan fatwa tersebut, berlaku-lah padanya larangan dan ancaman meng-hajr sesama muslim.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk meng-hajr saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu, tetapi yang satu berpaling, begitu pula yang lainnya. Dan yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Dalam riwayat Abu Daud no. 4916, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Ghayatul Maram (no. 412), Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan kamis, lalu pada dua hari tersebut diampuni seluruh hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa-pun, kecuali orang yang antara ia dan saudaranya terdapat permusuhan, maka dikatakan: “Tangguhkanlah kedua orang ini hingga keduanya berdamai!, tangguhkanlah kedua orang ini hingga keduanya berdamai!, tangguhkanlah kedua orang ini hingga keduanya berdamai!“.

Juga Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Tiga golongan yang tidak diangkat shalat mereka ke atas kepala mereka sejengkal pun, (1). Seorang yang mengimami suatu kaum sementara mereka benci kepadanya. (2). Seorang wanita yang menghabiskan waktu malam sementara suaminya murka padanya. (3). Dua orang yang saling memutuskan hubungan“. [HR. Ibnu Majah, no. 971, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Misykaatul Mashabiih (no. 1128)].

Mungkin sebagian orang akan mengatakan bahwa sikap tersebut di atas, yakni menampakkan cinta dan lembut terhadap ahli bid’ah merupakan bentuk mudahanah (bermuka dua) yang tercela. Maka kami katakan, bahwa hal tersebut bukanlah mudahanah, akan tetapi merupakan bentuk mudaarat yang dianjurkan. Sebab kedua hal ini terdapat perbedaan yang mencolok.[35]

Diriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah ber-mudaarah, sebagaimana dalam riwayat Bukhari no. 5780 dan Muslim no. 2591, Dari Urwah bin az-Zubair, Aisyah radhiallahu anha pernah mengabarkan kepadanya, bahwa ada seorang laki-laki minta izin untuk menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka Nabi berkata: “Izinkanlah ia, sungguh ia adalah sejelek-jelek anak di kaum (kabilah)-nya“, atau beliau shallallahu alaihi wasallam berkata: “Ia adalah sejelek-jelek orang di kaum (kabilah)-nya”. Maka tatkala orang itu masuk, Nabi shallallahu alaihi wasallam pun berbicara padanya dengan lemah lembut. Aku (Aisyah) pun berkata kepada beliau: “Ya Rasulullah, engkau telah mengatakan apa yang barusan engkau katakan , kemudian engkau berbicara padanya dengan lemah lembut?”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Wahai Aisyah, sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan dan dijauhi masyarakat untuk menghindari kejelekannya“.

Dalil-Dalil Pentingnya Lemah Lembut Dalam berdakwah

Dalil dari al-Qur’an:

Allah Ta’ala berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Qs. An-Nahl : 125).[36]

Allah Ta’ala berfirman: “Maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”. (Qs. Al-Isra’ : 28).

Allah Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku; hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik”. (Qs. Al-Isra’ : 53).

Allah Ta’ala berfirman: “Maka katakanlah olehmu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Qs. Thaha : 44).[37]

Allah Ta’ala berfirman: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekeliling-mu”. (Qs. Ali Imran : 159).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menyeru kita untuk berlaku lemah lembut, berkata dengan perkataan yang baik, ma’ruf dan benar serta berperangai dengan perangai yang terpuji.

Dalil dari As-Sunnah

Pertama, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Perlahan wahai Aisyah, Sesungguhnya menyukai kelemah lembutan dalam semua perkara“. (HR. Bukhari, no. 6032, dari Aisyah radhiallahu anha).[38]

Kedua, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah seorang mukmin; orang yang suka menuduh, suka melaknat, suka berbuat keji, dan suka berkata kasar“. (HR. at-Tirmidzi, no. 1900, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, dan Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, no. 1977).

Ketiga, Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu anhu berkata: “Tidaklah Nabi shallallahu alaihi wasallam itu seorang yang suka berkata kasar dan bukan pula seorang yang berperangai kasar”. (HR. Bukhari, no. 3295. Muslim, no. 4285).

Keempat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sikap lemah lembut itu tidak berada pada sesuatu kecuali ia akan membuatnya baik. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya jadi buruk”. (HR. Muslim, no. 4698. Abu Daud, no. 2119, dari Aisyah radhiallahu anha).

Kelima, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah sikap kasar itu terdapat pada sesuatu melainkan akan membuatnya menjadi buruk”. (HR. at-Tirmidzi, no. 1897, dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dan Syaikh al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, no. 1974).

Keenam, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal seseorang pada haki kiamat kelak melebihi akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah benar-benar membenci orang yang keji lagi kasar bicaranya”. (HR. at-Tirmidzi, no. 1925, dari Abud Darda’ radhiallahu anhu, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, no. 2002).

Dan masih banyak lagi hadits-hadits senada yang tidak dapat kami tampilkan dalam risalah ringkas ini, yang intinya menyeru kita untuk senantiasa mengedepankan sikap lemah-lembut dan perangai yang baik serta menghindari sedapat mungkin kata-kata yang buruk dan perangai yang jahat. Terlebih dalam rangka dakwah mengajak orang ke jalan Allah Ta’ala.

Perkataan ulama

Al-Allamah Asy-Syaikh al-Fadhil Abdur Rahman as-Sa’dirahimahullah- saat mengomentari ayat-ayat yang berkaitan dengan sikap lemah-lembut Nabi shallallahu alaihi wasallam-, berkata: “Inilah akhlak Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang merupakan akhlak paling sempurna yang karenanya diperoleh mashlahat-mashlahat yang sangat besar dan berbagai mudharat tertolak dengannya. Dan hal ini dapat disaksikan dalam praktek nyata. Lalu pantaskah bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, mengaku bahwa ia ber-ittiba’ dan meneladani Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian ia menjadi beban berat bagi kaum muslimin, berakhlak jelek, keras kepada kaum muslimin, berhati keras, juga berkata dengan perkataan keras dan keras? Jika ia menyaksikan kaum muslimin melakukan suatu kemaksiatan atau adab yang jelek ia pun lantas segera meng-hajr mereka, murka, dan benci pada mereka. Tidak ada sikap lemah dan halus pada dirinya, tidak memiliki adab, dan tidak mendapatkan taufiq. Akibatnya, timbul berbagai kerusakan akibat model mu’amalah semacam ini, juga menyebabkan terbengkalainya kemashlahatan-kemashlahatan, sebagaimana yang telah terjadi. Dan dalam kondisi demikian, engkau mendapatinya merendahkan orang yang memilki sifat-sifat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia justru menuduh orang tersebut memiliki sifat munafik atau mudahanah, sementara ia sendiri menganggap dirinya sempurna dan mengangkatnya. Ia takjub dengan amalannya sendiri. Dan hal ini tidaklah muncul pada dirinya melainkan karena disebabkan kebodohan dan lantara setan menghiasi amalannya serta menipunya”.[39]

Syaikh Shalih Alu asy-Syaikh berkata dalam ceramahnya yang berjudul Ahkaam al-Amr bil Ma’ruf wa an-Nahyi ‘anil Munkar : “Diantara adab seorang da’i, hendaklah ia merupakan seorang penyayang dan lemah lembut. Sebab sikap ramah, kasih sayang dan lemah lembut merupakan buah dari keikhlasan dan kemurnian (dalam dakwah kepada Allah). Sekiranya seorang itu bersih dalam berdakwah kepada Allah atau dalam melakukan amar ma’ruf nahyi mungkar, jika ia ikhlas niscaya ia akan menjadi seorang yang penyayang dan lemah lembut…”.

Al-Allamah asy-Syaikh Abdullah bin Bazrahimahullah- berkata: “Sesungguhnya syari’at Islam yang sempurna datang dengan sikap lemah lembut pada tempatnya, juga sikap keras pada tempatnya yang sesuai. Disyari’atkan bagi seorang da’i yang menyeru kepada Allah agar bersikap lembut, halus, bijak dan sebar, karena hal itu lebih sempurna dalam memberikan manfaat dan pengaruh melalui dakwahnya, sebagaimana Allah Ta’ala telah perintahkan hal ini dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengarahkan kita dalam hal ini, “Katakanlah, inilah jalan-ku (agamaku). Aku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata…” (Qs. Yusuf : 108). Dan tidak semestinya seorang da’i bersandar pada sikap keras dan kasar, melainkan beberapa keadaan, (1). Tatkala dibutuhkan dan dalam kondisi darurat. (2), Jalan pertama –yakni kelembutan- tidak berhasil mengantarkan pada tujuan. Karenanya, seorang da’i yang menyeru melaksanakan dua hal tersebut sesuai dengan haknya, dan berjalan di atas petunjuk syari’at dalam dua hal tersebut.[40] (AbRh)

Catatan Penting !!

  1. Seluruh keluhan dan Fatwa yang kami paparkan dan selainnya yang begitu banyak dari para Masyaikh Ahlu Sunnah yang mu’tabar berkaitan dengan masalah ini, mustahil keluar tanpa adanya satu realita menyedihkan yang terjadi di tengah-tengah umat. Olehnya, ambillah pelajaran darinya. Tempuhlah jalan yang lebih menyelamatkan kita semua di hadapan Allah kelak.
  2. Kami mencintai dan mendo’akan rahmat bagi seluruh ulama-ulama Ahlu Sunnah yang tegar berjuang memenangkan al-Haq dan menegakkan al-Sunnah di atas muka bumi. Karenanya, tidak ada sedikit-pun niat yang terbersit dalam hati untuk mendiskreditkan salah satu dari mereka. Pemaparan kami akan kekeliruan yang dilakukan oleh sebagian mereka hanyasaja untuk maksud inshof, dan menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan luput dari kesalahan, selain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, agar kita dewasa dalam menyikapi kekeliruan yang ada pada orang lain. Wallahu A’lam.

Bersambung, Insya Alloh…


[1] . Kami menggunakan istilah “salafy” (dengan menggunakan tanda petik) sebagai ta’rif (pengenal) bagi kelompok ini, karena hanya istilah ini-lah yang mereka diridhai (semoga nama tersebut sesuai dengan subtansinya). Sebab jika kami menggunakan nama lain, misalnya MANIS, mereka sangat keberatan dan mengatakan tidak pernah menisbatkan nama kelompok mereka dengan nama tersebut dan kami tidak ingin menzalimi mereka dalam hal ini. Demikian pula tatkala ada sebagaian ikhwah yang kemudian memberi ta’rif sebagai Salafy Yamani (nisbat kepada negeri Yaman, sebab yang banyak yang berfikrah semisal mereka rata-rata merupakan alumnus Yaman yang talaqqi pada ma’had Syaikh Muqbil –rahimahullah-) mereka-pun uring-uringan dan murka. Adapun alasan kami menggunakan tanda petik, sebab kami yakin bahwa tidak seluruh yang menisbatkan diri pada dakwah salaf berperangai dan berkelakuan seperti kelompok ini. Namun anehnya, tatkala mereka yang dengan semena-mena melabeli orang lain dengan nama-nama atau gelar-gelar penisbatan kepada sesuatu, tidak ada perasaan bersalah. Padahal apa yang mereka rasakan tatkala orang lain memberi mereka gelar yang tidak mereka ridhai, sama dengan yang dirasakan oleh saudara-saudara muslim mereka yang lain. Tidak ridho dan tidak senang. Misalnya, gelar Surury (nisbat kepada asy-Syaikh Muhammad Zainal Abidin bin Surur), Turotsy (nisbat kepada Jam’iyyah Ihya’ at-Turots), Ikhwani, Tabligi dan sebagainya. Semua ini adalah gelar-gelar hasil “ijtihad” kelompok “salafy” untuk saudara muslimnya. Namun anehnya mereka tidak ridha bahkan murka tatkala mendapat perlakuan serupa kala digelari Muqbily (nisbat kepada al-Allamah asy-Syaikh al-Fadhil al-Muhaddits Muqbil al-Wadi’iy–rahimahullah-) atau Rabi’y (nisbat kepada Syaikh Rabi’ al-Makhdali –hafidzahullah-) atau Jamiy‘ (nisbat kepada Syaikh Aman al-Jami).

[2] . Lihat bantahan kami seputar fitnah Ust. Zulkarnain terhadap dakwah WI dalam ceramahnya yang kemudian dialihtulisan-kan, dalam tulisan jilid I kami.

[3] . InsyaAllah pada akhir tulisan ini, akan kami paparkan sebagian kecil dari dalil-dalil yang menunjukkan perintah untuk membangun sikap lemah lembut, lapang dada dan tasamuh dalam dakwah kepada Allah.

[4] Dan betapa banyak perkataan yang haq namun masalahnya pada pemahaman yang keliru

[5] . Majmu’ Fatawa wa Maqalaat, Juz III/203-204.

[6] Suatu hari Imam Qotadah rahimahulloh membaca Firman Alloh dalam surah Thoha ayat 43-44 yang memerintahkan Harun dan Musa untuk berkata lembut pada Fir’aun la’anahulloh, beliau pun menangis seraya berkara : ‘Ya Robb betapa mulianya dan agungnya Engkau, jika ini yang Engkau perintahkan pada Musa dan Harun untuk berkata lembut pada Fir’aun yang berkata ‘Aku adalah Tuhan kalian yang maha tinggi’ lalu bagaimana dengan orang yang berkata ‘Maha suci Alloh yang Maha Tinggi”..?

[7] . HR. Bukhari, Muslim, aln-Nasaai, Abu Daud dan Ahmad.

[8] . Perhatikan wahai pembaca budiman, mengapa Syaikh bin Baz menyebutkan dalam fatwa beliau tersebut akan sifat-sifat Khawarij dan bukan selainnya?? Atau mengapa beliau tidak menyebutkan saja secara umum, bahwa sifat-sifat ini dan itu tidak dibenarkan oleh Syari’at, bahkan men-ta’yin nama satu kelompok sesat dalam sejarah perjalanan dakwah Islam?? al-Labiibu bil Isyarati Yafhamu. Wallahu a’lam. Kami perlu tegaskan, bahwa kami tidak mengatakan bahwa mereka adalah Khawarij, sebagaimana tuduhan ustadz-ustadz “salafy” terhadap kelompok-kelompok selain mereka.

[9] . Lihat: al-Mumtaz fi Syarhi Bayan bin Baz. Dapat di Download gratis di:

http://www.alhawali.com idex.cfm?method=home.ShowContent&ContentID=666$FullContent=1.

Kalimat terakhir Syaikh –rahimahullah- (yakni masalah cuplik menyuplik) sangat sesuai dengan realita yang terjadi dalam medan dakwah salaf (khususnya di tanah air). Para thullabul ilmi hanya sibuk mencari dan membuat rekaman-rekaman cuplikan Syaikh fulan demi untuk meng-kanter ceramah Syaikh lain yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Wallahul Musta’an.

Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak akan syubhat-syubhat kelompok “salafy” ini dalam melejitimasi sikap kasar dan arogansi mereka serta bantahannya, silahkan baca buku “Belajar dari Akhlak Ustadz Salafy“, karya al-Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, Lc, insyaAllah bantahan hujjah yang mareka gunakan dapat mengenyangkan orang lapar dan memuaskan orang dahaga.

[10] . Sebab, seluruh upaya dan usaha yang telah dilakukan oleh para ulama dan du’at yang menjadi bulan-bulanan kezaliman kelompok “salafy” tersebut seolah tidak ada nilainya di mata mereka, lantaran hanya sebuah kekeliruan -menurut versi mereka- ijtihad yang boleh saja kita berbeda padanya. Dan ini jelas melanggar dan mencederai hak-hak mereka sebagai seorang muslim dan sebagai ulama serta da’i secara khusus.

[11] . Olehnya, yang paling mudah dikenali dari komunitas “salafy” ini adalah mudahnya mereka bertikai, saling menuduh, mencaci, men-tahdzir dan sebagainya. Tidak hanya kepada kelompok dakwah Islam selain dari komunitas mereka, bahkan terhadap sesama “salafy” pun mereka saling hujat dan serang. Sedikit-sedikit orang lain (sesama mereka dan selainnya) dituding sebagai ahli bid’ah, surury, quthby dan selainnya. Setiap dari mereka (kelompok kecil dari komunitas tersebut) mengklaim dirinya yang paling Ahlu Sunnah. Sementara definisi yang dimaksud dengan “bid’ah”, “ahli bid’ah” dan “ahli sunnah”, tidak pernah tuntas mereka selesaikan. Pokoknya, kalau ada orang yang tidak sejalan dengan pandangan ustadz-nya yang ada di tanah air atau ulama dan Syaikh-nya yang ada di Yaman, Saudi Arabiah, Yordania, maka mereka dituduh sebagai “ahli bid’ah”. Dan kalau sudah tertuduh sebagai ahli bid’ah versi kelompok “salafy”, maka konsekwensinya adalah: direndahkan, dihina, dijauhi dan diputuskan dari pergaulan. Kelompok ini bahkan menjadikan sikap boikot dan pemutusan hubungan tersebut sebagai salah satu bentuk qurbah (mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala). Sedangkan kelompok Ahli Sunnah lain yang tidak mau mengembangkan metode semangat “kekerasan” dan “permusuhan” terhadap “ahli bid’ah (versi mereka), tidak dianggap sebagai salafy.

[12] . Sebenarnya ini pula yang menjadi tanda tanya besar bagi kami, bahkan keanehan yang sampai saat ini belum mendapat jawaban. Sikap keras kelompok “salafy” tersebut sangat nyata –dan tidak ada keraguan- diarahkan kepada kaum muslimin yang lain dan terkhusus pada kelompok dakwah Ahli Sunnah yang tidak sepaham dengan mereka. Sementara di sisi lain, orang-orang kafir –yang nyata memusuhi Islam-, kelompok sesat pengusung bid’ah, sekuler, orientalis, baik secara personal maupun organisasi, selamat dan merasa aman dari “hujatan” mereka. Makanya tidak heran jika beberapa waktu lalu kelompok ini pernah menghasut wakil Presiden Yusuf Kalla untuk melarang peredaran buku-buku karya Hasan al-Banna dan Sayyid Qutb –namun dapat digagalkan-. Asumsinya, buku-buku keduanya dituduh menyuburkan paham terorisme. Sementara pada saat yang sama begitu marak menjamur buku-buku sekuler liberal (JIL), orientalis, dan ajaran-ajaran bid’ah lainnya di tanah air, namun tidak ada upaya dari mereka menyeru dan “menghasut” pemerintah untuk melarang dan menarik seluruh buku-buku sesat tersebut.

Olehnya, tatkala Abdullah bin al-Mubarakrahimahullah- menyaksikan seseorang yang menggibah saudara muslim-nya, beliau pun bertanya: “Apakah engkau pernah berperang melawan Romawi?” Ia menjawab: “Tidak”. “Apakah engkau pernah memerangi Persia”, Ia menjawab: “Tidak”. “Apakah engkau pernah memerangi as-Sanad dan India”. Ia menjawab: “Tidak”. Beliau –Abdullah bin al-Mubarak- lantas berkata: “Selamat dari-mu Romawi, Persia, as-Sanad dan India, namun tidak selamat dari –kejelekan lisanmu- saudara muslim-mu“.

[13] . Olehnya jangan heran kalau musuh-musuh Islam dari kalangan kaum kuffar, golongan sekuler dan ahli bid’ah justru bersorak kegirangan menyaksikan kaum muslimin khususnya dakwah Ahli Sunnah wal Jama’ah saling menyerang dan menyibukkan diri mengais-ngais aib saudara-saudara muslim mereka sehingga lalai akan makar dan tipu daya musuh yang siap menancapkan taring-taringnya pada kaum du’afa umat ini.

[14] . Ini merupakan satu kenyataan nyata yang memerihkan. Akibat dari perbuatan tersebut, akhirnya timbul dan tersebarlah fitnah, ghibah dan namimah di tengah-tengah masyarakat muslim. Orang tidak lagi takut dan merasa wara terhadap harga diri dan kehormatan orang lain apalagi terhadap ulama, wal ‘iyadzu billah. Makanya jangan heran jika para thullabul ilmi apalagi yang “masih hijau” dalam medan ini justru begitu senang dan doyan dengan hal-hal tersebut. Mereka begitu semangat jika pengajian atau muhadharah ustadz fulan bertema membongkar kejelekan atau kesesatan Syaikh fulan atau jama’ah fulan. Bahkan mereka begitu banyak menghafal aqwal para salaf dan ulama-ulama dalam hal ini ketimbang menghapal al-Qur’an, as-Sunnah, dan aqwal yang berkaitan dengan ilmu syar’i yang bermanfaat. Akibatnya, kami bergidik dan takut kala menyaksikan seorang yang tidak ada sedikit-pun pada dirinya raaihah ilmu syar’i, begitu berani dan lancang ikut-ikutan mencela Syaikh fulan atau ulama fulan. Dan tatkala dimintai konfirmasi atas ucapannya tersebut, dengan entengnya ia akan berkata: “Begitulah yang dikatakan oleh ustadz “salafy” kami, dan kalau mau tahu jawabannya, silahkan tanya sendiri kepada beliau”. Ma’adzallah…!

[15] . Demikianlah pembaca budiman, masalah sebenarnya. Kebanyakan tuduhan dan cercaan yang keluar dari para ustadz “salafy” tersebut lahir dari kabar dari seseorang, prasangka dan dugaan sendiri tanpa ada keinginan untuk melakukan tabayyun dan klarifikasi. Sebab, bisa jadi (bahkan banyak terjadi) sang penyampai kabar itu jujur namun salah menukil atau mendengar dari orang yang dinukil perkataannya, apakah lantaran buruknya hafalannya atau pemahamannya yang jelek. Al-Allamah as-Subky berkata: “Banyak aku saksikan orang yang mendengar satu lafadz, kemudian memahaminya tidak sebagaimana mestinya”. (Thabaqaat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, II/18).

Celakanya lagi, terkadang mereka sendiri yang menakwilkan ucapan seseorang dengan takwill versi mereka tanpa mau klarifikasi pada orang sang empunya perkataan. Yang penting jika terdapat satu ucapan yang menurut mereka salah dan keliru, lantas dicatat dan dikomentari dengan komentar-komentar miring, padahal sang empunya perkataan masih hidup bahkan dengan sangat mudah melakukan tabayyun padanya.

Sebagai contoh (kami tidak akan menyebut nama di sini), peristiwa yang masih hangat dalam ingatan kita, tatkala seorang ustadz “salafy” membedah “kesesatan” salah satu Ormas Islam yang diselenggarakan di Unhas, dengan berapi-api ia kemudian menukil lalu men-takwilkan ucapan salah seorang Ustadz dari Ormas tersebut. Lucunya, sang empunya perkataan hadir dan duduk dalam forum tersebut, sambil geleng-geleng kepala dan mengingkari takwil batil tersebut. Dan tatkala sang empunya perkataan minta izin diberi kesempatan untuk bicara dan menjelaskan maksud dari perkataannya, sang ustadz “salafy” dengan entengnya tidak memberi izin dan menegaskan bahwa forum itu adalah majelisnya, –hingga ia berhak melakukan apa saja yang dia kehendaki-. Wallahul musta’an.

Beda halnya jika yang melakukan kesalahan itu adalah Syaikh atau ustadz mereka sendiri. Jika terjadi demikian, maka mereka berusaha untuk menakwilkan dengan takwil yang baik dan dicari-carikan udzur bagi kekeliruan tersebut. Sebagai contoh –dan masih banyak lagi contoh yang lain-, sikap mereka tatkala memberi udzur bagi kesalahan fatal asy-Syaikh al-Fadhil al-Muhaddits Muqbil al-Wadi’irahimahullah-(guru Ust. Zulkarnain) yang berkaitan dengan manhaj. Beliau pernah mencela pemerintah Arab Saudi dengan sangat keras, hingga sebagaian orang memahami bahwa beliau mengkafirkan pemerintah Arab Saudi –namun kemudian diklarifikasi oleh beliau sendiri, bahwa beliau tidak pernah mengkafirkan pemerintah Arab Saudi, sekaligus menyatakan ruju’ dari kekeliruan tersebut dalam ceramah beliau yang berjudul “Musyahadaat fi Mamlakah al-Arabiyah al-Saudiyyah“-, dan saat jatuh dalam kesalahan ini banyak ulama Ahli Sunnah yang mengingkari beliau. Dan perlu diketahui, kesalahan beliau dalam mencerca pemerintah Arab Saudi berlangsung begitu lama, sebab taubat (ruju’) beliau itu baru terealisasi pada akhir-akhir hayat beliau. Kekeliruan fatal beliau kemudian diberikan udzur oleh mereka yang sejalan dengan Syaikh, bahwa Syaikh merasa dizalimi oleh pemerintah Saudi Arabia. Beliau dilarang masuk ke dalam wilayah Arab Saudi selama kurang lebih 20 tahun sehingga beliau tidak dapat mengerjakan ibadah umrah dan haji. Akan tetapi, tatkala kesalahan yang sama –menurut mereka kelompok salafy- dilakukan oleh Syaikh Safar al-Hawali –hafidzahullah-, yang menurut mereka mencela dan melawan pemerintah, padahal telah diklarifikasi bahkan dibantah oleh beliau sendiri dalam majelis al-Allamah asy-Syaikh al-Fadhil Ibnu al-Utsaimin -rahimahullah –lihat dan dengar aslinya dalam http://www.islamgold.com/view.php?gid=2&rid=10-, beliau lantas dicerca sebagai khawarij pemberontak dan sebagainya, dan tidak ada udzur (kesempatan memberi alasan) bagi “kesalahan” tersebut. Maa lakum Kaifa Tahkumun??

[16] . Oleh karenanya, tidak ada ulama kibar yang kemudian mencela Syaikh Muqbilrahimahullah- (guru Ust. Zulkarnain) pada kesalahan fatal dalam manhaj tersebut. Bahkan Syaikh Safar al-Hawali yang mendapat perlakuan zalim dari kalangan “salafy” tidak pernah mengungkit-ungkit kesalahan fatal tersebut apalagi balas mencerca dan menghujat, padahal kasus yang dituduhkan pada beliau serupa dengan kasus Syaikh Muqbilrahimahullah-. Demikian pula tidak ada ulama yang mencerca Syaikh Muqbilrahimahullah- (guru Ust. Zulkarnain) tatkala menyelisihi –bisa dikatakan- seluruh Syaikh Ahli Sunnah saat ini dalam menghukumi Imam Abu Hanifah -rahimahullah-. Seluruh Syaikh Ahli Sunnah menyatakan bahwa Imam Abu Hanifah adalah salah satu Imam besar Ahli Sunnah wal Jama’ah, karenanya mazhab beliau termasuk yang diakui sejak dahulu. Berbeda dengan apa yang dikatan oleh Syaikh Muqbilrahimahullah- dalam bukunya “Nasyr ash-Shahifah fi Dzikris Shahiih min Aqwaal Aimmah Jarh wat Ta’dil fii Abi Hanifah” , bahwa Abu Hanifah adalah seorang Murji’ah !!.

Syaikh al-Utsaiminrahimahullah- berkata: “….Dan Imam Abu Hanifah –rahimahullah- adalah seperti para imam lainnya yang memiliki kesalahan-kesalahan dan juga memiliki kebenaran-kebenaran. Tidak seorang pun yang ma’shum melainkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana perkataan Imam Malik bin Anas : “Setiap orang dapat diambil pendapatnya dan ditolak kecuali penghuni kubur ini”, sambil mengisyaratkan pada kubur Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Yang wajib dilakukan adalah menahan diri dari mencela para imam kaum muslimin. Namun jika sebuah pendapat merupakan kesalahan, maka hendaknya disebutkan (kesalahan) pendapat tersebut tanpa mencela pengucapnya. Hendaknya seorang menyebutkan pendapat yang keliru tersebut kemudian menyanggahnya. Inilah jalan yang selamat. (Lihat: Kitaab al-Ilmi, hal 304-306).

[17] . Bukan dengan ibarat-ibarat kasar dan tidak beradab yang banyak dipraktekkan oleh kawan-kawan “salafy” kita, seperti istilah yang masyhur dikalangan mereka untuk merendahkan ustadz bahkan ulama yang tidak sepaham dengan mereka, seperti “begundal dakwah”, “centeng bangunan”, “tengik”, “koboi kampung”, “Teroris pemberontak”, “al-Pramuki”, “al-Bungloniyyun”, dan masih banyak lagi mushthalahat (istilah-istilah) yang kemudian mutadawilah (tersebar) diantara mereka. Atau ibarat Syaikh Muqbil al-Wadi’irahimahullah- (guru Ust. Zulkarnain) pada judul bukunya, Iskat al-Kalb al-’Awy Yusuf ibn Abdillah al-Qaradhawy (Membungkam Anjing Yang Menggonggong Yusuf bin Abdillah al-Qaradhawy).

[18] . Perhatikan ibarat-ibarat yang ada pada situs-situs golongan “salafy” tersebut. Anda akan mendapatkan judul-judul artikel (atau judul buku) yang lumayan pedas untuk dikonsumsi telinga kita.

[19] . Perhatikan isi artikel yang ada di hadapan anda yang ditulis oleh al-Akh Sofyan Khalid, satu-persatu dia rinci nama-nama ustadz yang hendak beliau jatuhkan dan rendahkan. Padahal, nama-nama yang ia sebutkan itu, adalah orang-orang yang pernah berjasa kepadanya mengajarkan ilmu syar’i ini.

[20] . Ini merupakan satu karakter unik yang dimiliki oleh golongan “salafy”, yang mereka wariskan dari guru-guru pendahulu mereka. Sikap tergesa-gesa dan melampaui batas dalam menjatuhkan vonis hukum terhadap orang lain, tanpa adanya klarifikasi yang maksimal. Akibatnya, begitu gampangnya kemudian mereka menuding hidung orang lain sebagai ahli bid’ah dan sebaginya, lalu mentathbiq (menerapkan) pada orang tersebut kaidah-kaidah menyikapi ahli bid’ah berupa larangan ber-mu’amalah dengannya, larangan duduk-duduk bersama mereka, larangan menjawab salam darinya dan lain sebagainya. Padahal kalau bisa kami katakan, ini semisal dengan kaidah “Gebuk Maling” ala kaum awwam. Siapa yang terlanjur teriak ada maling, maka orang yang dicurigai langsung dituding dan dipaksa mengaku sekaligus dalam waktu bersamaan digebukin ramai-ramai tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Kasihan. Padahal, sang korban belum tentu malingnya, namun telah menelan pil pahit berupa bogem-bogem mentah.

Sebagai contoh, sikap tergesa-gesa asy-Syaikh al-Fadhil Muqbilrahimahullah- (guru Ust. Zulkarnain) dalam menghukumi Syaikh Muhammad Rasyid Ridharahimahullah-, dimana beliau menyatakan dalam Muqaddimah As-Shahiih al-Musnad Min Dalaa-ilin Nubuwwah, hal. 10, bahwa Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berada di atas kesesatan. Dan hal ini tidak disetujui dan dibantah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albanirahimahullah-, dalam Silsilah al-Huda wan Nuur, kaset no. 32: “Aku rasa ini adalah penafsiran yang terlalu luas dan tidak pada tempatnya. Yakni, dalam memutlakkan sifat dhalal (kesesatan) pada orang ini (Syaikh Muhammad Rasyid Ridha). Menurut keyakinan saya, beliau memiliki banyak jasa terhadap Ahli Sunnah di zaman ini. Karena beliau menyebarkan dan menyeru kepada as-Sunnah dalam majalah beliau yang terkenal, al-Manaar. Bahkan pengaruhnya sampai ke banyak negeri kaum muslimin non-Arab. Oleh karena itu, pendapat saya bahwa perkataan ini adalah perkataan ghuluw (ekstrim) yang semestinya tidak terlontarkan dari orang seperti saudara kita, Muqbil.

[21] . Majmuu’ Fatawa wa Maqalaat Mutanawwi’ah, VII/313. Program al-Maktabah al-Syamilah, vol. 3.3.

[22] . Awal mulanya, istilah Fikih Realita atau yang dikenal dengan istilah Fiqul Waqi’ membuat “alergi” sebagian kalangan “salafy”, dengan dalih bahwa ini adalah musthalahat yang sangat dikenal dan dimasyhurkan oleh kalangan Ikhwanul Muslimin. Namun tatkala Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menulis sebuah buku kecil dengan judul yang sama, yakni Fiqhul Waqi’, maka serentak tak ada lagi komentar dari kalangan “salafy” berkaitan dengan istilah tersebut.

[23] . Madaarijus Salikin, II/345

[24] . Bahkan boleh jadi mereka malah bersyukur dan bergembira dengan pemutusan hubungan tersebut (hajr), dengan asumsi meraka dapat beristirahat dari “nasehat” dan “teguran” kita.

[25] . Silsilah al-Huda wa an-Nuur, kaset no. 511.

[26] . Silsilah al-Huda wa an-Nuur, kaset no. 611.

[27] . Sebab, perlu diketahui bahwa hukum asal (bagi merode) dakwah itu secara umum adalah da’wah bil hikmah serta nasehat yang baik. Adapun hajr, ia merupakan sebuah pengecualian pada kondisi-kondisi tertentu jika mashlahat yang rajih terkandung padanya. Dan yang berhak menentukan suatu kondisi tertentu mengandung mashlahat atau tidak adalah para ulama mu’tabar. Bahkan jika terdapat keadaan dimana sulit untuk mentarjih antara mashlahat dan mudharatnya, maka yang lebih dekat adalah larangan al-hajr. Syaikh al-Fadhil Ibnu Utsaiminrahimahullah- berkata: “… Atau jika tidak dapat dirajihkan antara mashlahat dan mafsadat, maka yang lebih dekat (dengan kebenaran) adalah dilarangnya penerapan hajr, sesuai dengan keumuman sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Tidak halal seorang muslim meng-hajr saudaranya lebih dari tiga hari”. (HR. Bukhari, no. 5879, Muslim, no. 2560). (Majmuu’ Fataawa Syaikh Ibnu Utsaimin, III/7, soal no. 385).

[28] . Subhanallah, ini merupakan ucapan tulus yang keluar dari lisan seorang Ulama Rabbani berdasarkan ilmu dan bashirah serta waqi’/kenyataan umat. Demikian pula ia menjadi bukti fiqh Syaikh –rahimahullah- akan realitas menyedihkan yang terjadi dalam barisan Ahli Sunnah yang sebenarnya dipicu oleh hal-hal yang semstinya tidak perlu dipersoalkan. Sebab perbedaan tersebut bukan pada masalah ushul dan dasar agama, yakni masalah akidah dan manhaj. Akan tetapi hanya masalah wasilah yang padanya boleh terjadi perbedaan. Atau, dalam ijtihad yang boleh saja seseorang itu terjatuh dalam kesalahan.

[29] . Yang mengherankan dari sikap kelompok “salafy”, justru mereka begitu bersemangat mengendus-endus kesalahan-kesalahan saudaranya sesama Ahli Sunnah kendati kesalahan yang sangat kecil dan tersembunyi, agar kemudian dijadikan sebagai dalih dan alasan untuk mendepak mereka dari barisan Ahli Sunnah. Parahnya lagi, ada kegembiraan dalam hati kala menyaksikan dan mendapatkan saudaranya terjatuh dalam kesalahan agar bisa segera dikeluarkan dari Ahli Sunnah. Subhanallah.

[30] . Silsilah al-Huda wa An-Nuur, kaset no. 666; tanggal 7 Sya’ban 1413 H.

[31] . Demikianlah wahai pembaca sekalian, manhaj Ahlu Sunnah dalam menyikapi muslim yang lain, bahwa kita mencintai dan mendo’akan mereka sesuai dengan kadar keimanannya dan kita membencinya menurut kadar maksiat dan kesalahan mereka.

[32] . Majmuu’ Fataawa, Juz III/11-12, soal no. 382.

[33] . Nuur ‘ala al-Darb, kaset no. 614.

[34] . Majmuu’ Fataawa, XXVIII/206.

[35] . Imam al-Qurthubirahimahullah- berkata: “al-Mudarah adalah mengorbankan dunia demi kemashlahatan yang berkaitan dengan dunia, agama atau keduanya. Ini hukumnya mubah dan bisa menjadi mustahab. Adapun mudahanah, artinya mengorbankan agama demi kemashlahatan dunia”. (Fath al-Bari, Juz X/454).

Ibnu Batthal menyatakan: “Mudarah merupakan akhlak orang-orang mukmin, yaitu bersikap rendah hati di hadapan manusia, berbicara dengan lemah lembut dan meninggalkan sikap keras terhadap manusia. Dan ini merupakan sebab terkuat untuk menggapai persatuan”. (Fath al-Bari, Juz X/528).

[36] . Cacatan penting dari ayat yang mulia ini: Pertama, Dalam menyeru atau berdakwah ke jalan Allah hendaklah dengan cara yang baik, hikmah dan bijak. Kedua, kala harus membantah atau mengkritik orang lain, maka hendaklah dengan cara yang lebih baik (ahsan) daripada saat kita berdakwah. Ketiga, Hanya Allah Ta’ala-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar dan siapa yang tersesat di antara kita.

[37] . Berkaitan dengan ayat ini, ada sebuah kisah menarik, diceritakan bahwa suatu ketika Khalifah Harun al-Rasyidrahimahullah- mengerjakan thawaf di Ka’bah. Lalu datang seseorang yang mengenalnya dan berkata: “Wahai Harun, aku akan berbicara padamu dan akan menekanmu, aku adalah pemberi nasehat bagimi…”. Maka Harun al-Rasyid pun berkata: “Wahai fulan, aku tidak lebih buruk daripada Fir’aun dan engkau tidak lebih baik daripada Musa alaihis salam. Padahal Allah Ta’ala telah memerintahkan Musa untuk berkata kepada Fir’aun dengan perkataan yang lembut”. (Tarikh at-Thabari, V/22).

[38] . Sebagai renungan, Aisyah –radhiallahu anha- berkata: “Seorang Yahudi masuk menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam seraya berkata: “As- Saam ‘Alaika” (artinya: semoga kebinasaan tertimpa atasmu). Mereka mengganti ucapan salam “Assalamu Alaika” (dengan lafadz di atas). Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Wa ‘Alaika” (begitu pula engkau)”. Aisyah melanjutkan: “Maka aku-pun berkeinginan untuk bicara (membalas orang Yahudi tersebut), namun aku mengetahui kebencian Nabi shallallahu alaihi wasallam terhadap hal itu. Lalu masuklah orang Yahudi yang lain dan mengucapkan (perkataan yang sama), “Semoga kebinasaan tertimpa atasmu”, dan Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “begitu pula engkau”. Maka aku-pun berkeinginan untuk bicara, namun aku mengetahui kebencian Nabi shallallahu alaihi wasallam terhadap hal itu. Lalu masuk-lah orang Yahudi ketiga dan mengucapkan (perkataan yang sama), “Semoga kebinasaan tertimpa atas-mu”, maka aku tidak dapat bersabar lagi, hingga aku-pun berkata: “Semoga engkau binasa dan mendapat kemurkaan serta laknat Allah, wahai saudara-saudara kera dan babi. Apakah kalian memberi salam kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak sebagaimana salam Allah kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam??!! Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Sesungguhnya Allah tidak suka kekejian dan perkataan yang keji. Mereka telah mengucapkan suatu perkataan, maka kita pun telah membalas perkataan tersebut, “begitu pula kalian”. Sesungguhnya kaum Yahudi adalah kaum pendengki, dan mereka tidak pernah dengki sebagaimana kedengkian mereka kepada kita dalam hal salam dan (ucapan) amiin”. (HR. Bukhari, no. 6032. Muslim, no. 2166).

Pembaca budiman, pelajaran yang dapat dipetik dari hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wasallam menegur Aisyah radhiallahu anha dari sikap keras tersebut, padahal yang dicela itu adalah orang-orang kafir Yahudi yang nyata-nyata menghina dan mendoakan keburukan bagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sementara yang dibela oleh Aisyah adalah Rasulullah. Demikian pula, ucapan Aisyah –radhiallahu anha- tersebut benar dalam memberi gelar pada mereka, sebab gelar bagi orang yahudi sebagai “saudara kera dan babi” termaktub dalam al-Qur’an surah al-Maidah : 60. Akan tetapi, karena cara Aisyah radhiallahu anha menyampaikan tidak pada semestinya, maka Nabi-pun menegurnya.

Olehnya, bandingkan dengan kenyataan yang terjadi pada saudara-saudara “salafy” kita, yang begitu keras mencela saudaranya sesama kaum muslimin dan khususnya para ulama dan da’i, lalu menyematkan pada mereka gelar-gelar buruk dari hasil terkaan “ijtihad” mereka. Padahal, mereka (para pencela) tidak lebih baik dari Aisyah radhiallahu anha, dan para ulama serta dai’ yang menjadi bulan-bulanan celaan itu tidak lebih buruk dari orang Yahudi yang nyata mencela Nabi shallallahu alaihi wasallam di hadapan beliau.

[39] . Taisir al-Kariim ar-Rahman fi Tafsiir Kalaam al-Mannaan, hal. 599, tafsir surah asy-Syura’.

[40] . Majmuu’ Fataawa wa Maqalaat Mutanawwi’ah, III/207

print halaman ini
Langganan Posting Via Email

Masukkan Alamat Email Anda :

Artikel Terkait



Comments :

14 komentar to “SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT (Bagian II)”

weleh-weleh-weleh. sudah lama aku cermati sepak terjang salafi ekstrim itu. hampir dalam setiap langkahnya, lawan-lawan dakwah islam yang memetik buahnya.

mereka sangat buta realitas, apalagi sejarah. mereka tak mampu melihat satu persoalan dari berbagai sudut pandang atau perspektif yang luas. tak mampu membaca hubungan sebab-akibat dari sebuah tindakan atau perbuatan. tak ada fikh maslahat dan mafsadat. pokoknya, ada fatwa; langsung bisa diterapkan. tanpa mempertimbangkan situasi, kondisi dan objek dakwah; apalagi atmosfir dakwah. demikianlah, sehingga mereka cuma membabi-buta. mereka lebih banyak merusak.

celakanya lagi, ikutan mereka sebenarnya hanya ustas-ustas lokal. bukan syek-syekh yang sebenarnya. ustas-ustas itu, yang lebih banyak tak punya gelar akademik apapun yang bisa dipertanggungjawabkan, justru lebih lancang berfatwa daripada syekh-syekhnya.

mereka orang-orang yang silau terhadap diri sendiri. ujub. kondisi yang membuat mereka tak mampu melihat kemilau pada orang atau organisasi lainnya. bisanya, bersembunyi di bawah ketiak fatwa-fatwa yang telah mereka pelintir sendiri. padahal, mereka tahu dari hati kecil mereka sendiri, bahwa mereka telah melakukan dusta kepada umat.

aku sedih, bagaimana nasib remaja-remaja yang terlanjur terdidik dengan manhaj hati keras mereka. menjadi orang-orang yang mudah menghujat, senang dengan kesalahan orang, ujub dengan diri sendiri, anti dialog, sempit wawasan….

aku tak begitu pusing dengan ustas-ustas mereka. tapi… semoga Allah menyelamatkan pemuda-pemuda kita dari virus pemikiran dan pemahaman mereka yang menyimpang dari fitrah, sejarah dan syariat itu.

abu masyhur mengatakan...
on 

Subhanallah, Ya Allah beri keteguhan pada kami dalam manhaj ahli sunnah wal jama’ah, satukan hati kami, bersihkan ia dari sifat hasad dan dengki, berilah kesabaran pada para ulama dan du’at dalam mengarungi ganasnya pengingkaran pada syari’ah baik yang berasal dari kaum kuffar maupun dari sesama kaum muslimin yang terjatuh dalam kekeliruan, amiin … syukran atas pencerahannya.

Raihanah mengatakan...
on 

semoga fatwa2 ini bisa mengimbangi fatwa2 Yang lainnya,sehingga kita bisa berada di tengah2

baruga mengatakan...
on 

Seorang yang beriman tetap tegar dan sabar dalam berpegang teguh pada manhaj yang benar dan tak terpengaruh dengan badai fitnah yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak pernah letih siang hari dan malam untuk mengais dan mengumpulkan lembaran-lembaran usang yang tak berarti bahkan lebih dari, orang yang sudah meninggalpun tidak luput dari lisan-lisan mereka dan ini menunjukkan betapa tidak adanya rasa takut akan azab Allah yang disiapkan bagi mereka yang senang menyebarkan fitnah ” Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui “.( an-Nuur. Ayat : 19).
Dan bagi kita yang terzholimi semoga kita mendapatkan pahala dari kezholiman mereka sebagaiman ucapan seorang salaf :” tidaklah suatu musibah menimpa diri saya kecuali saya melihat ada 3 kenikmatan Allah, sesungguhnya musibah itu bukan pada agama saya, dan sesungguhnya musibah itu bukanlah musibah yang besar yang menimpa diri saya, dan sesungguhnya dari musibah itu saya mengharapkan pahala dari Allah swt “.

Mukran mengatakan...
on 

kenapa org2 yang telah bergabung dengan kelompok yang mengaku salafy dulunya sopan, ramah, lembut enak diajak ngobrol kini menjadi org yang mukanya garang, pemarah dg alasan agama, menjaga jarak sama teman2, seolah2 ketika berjalan di jalanan hanya dia lah manusia. itukah namanya kemuliaan islam? tp kok sesama islam bgitu?

Syahreza mengatakan...
on 

Subhanallah….

halmin mengatakan...
on 

Syukran wa jazakullahu khairan katsiro

Aleem mengatakan...
on 

AlhamdulilLaah.. semakin membuka pengetahuan, buat saya yang kemarin-kemarin mencoba cari tau dari gogling saja.. Syukraan..

lily_sla mengatakan...
on 

alhamdulillah, mudah2an artikelnya bisa di baca oleh si penuduh2 itu, meski ana tau mereka akan berusaha menutup mata dan menutupi kedustaan tuduhan mereka itu terbukti dari beberapa usaha postingan ana yang bertujuan untuk sedikit membongkar ketidakbenaran tuduhan keji mereka di sebagian website yang menyebar fitnah kestsatan WI yang selalu di hapus dan tidak pernah di publish oleh adminnya

muttaqin mengatakan...
on 

kalau mereka kasar, dan jauh dari akhlak salaf dalam bernasehat…maka jangan sampai qta seperti mereka. bantahan seperti ini penting dan ana support. tapi tetap dijaga, agar tujuan nasehat itu sendiri bisa sampai pada tujuan…
untuk semua kader WI…always on istiqomah.
syukron artikelnya…..mohon izin ana mau print untuk rev.pribadi.

abu nahlah mengatakan...
on 

siapa sebenarnya sofyan chalid itu ngaku-ngaku kader dan da’i wahdah padahal mungkin hanya segelintir warga wahdah yang kenal dia. dan saya yakin para asatidzah di WI tidak semua kenal dia. kalau bisa minta komentar dari beberapa personil Pimpinan Pusat WI dan ustadz-ustadz yang ada di Makassar tentang siapa orang ini (sufyan chalid) sebenarnya.

abu umair mengatakan...
on 

ayo teman2 yang pernah ikut kajian atau belajar di wahdah dan sekarang sudah keluar dan bergabung dengan orang-orang yang kerjaannya menyerang dan memfitnah wahdah, mari kita bergabung bersama dalam tanzhim PORSATWA (persatuan orang-orang sakit hati terhadap wahdah) he he, lagian sekarang ustadz-ustadz kita tidak membid’ahkan tanzhim lagi, makanya teman-teman kita rame-rame membuat tanzhim (dulunya gak berani walau akal sehat bertentangan dengannya karena fatwa yg picik, atau setidaknya sampai ada fatwa baru lagi yg membid’ahkan. sekali-sekali “tasyabbuh” dengan orang kafir, fasiq dan mubtadi’ yang sudah lama paham dan menerapkan tanzhim dalam urusan-urusan mereka. he he he.

khalufi al-atsary mengatakan...
on 

assalamualaikum...izin kopi ustad

lukman mengatakan...
on 

alhamdulillah. wahdah telah mencerahkan dawah ahlusunnah di negri ini yg kian hari kian buram. maju terus

Anonim mengatakan...
on 

Posting Komentar

" Afwan, Kami hanya menampilkan komentar yang ilmiah dan kritikan yang membangun "

Next previous home