Sabtu, 19 Desember 2009

SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT (bagian I)

(mereka berkata…dan kami pun berbicara…)

(“Silsilah pembelaan para du’at dan ulama)

Muqaddimah :

BISMILLAH WASSHOLATU WASSALAMU ‘ALA RASULILLAH.…

Allah Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan),

Karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS.AlHujurat :12)

Dari Abu Barzah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Wahai orang-orang yang telah beriman dengan lisannya dan belum masuk keimanan itu dalam hatinya, jangan kalian menggibahi kaum muslimin dan jangan mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka, karena barangsiapa yang mencari-cari kesalahan mereka maka Allah akan menampakkan aib mereka walaupun ia melakukannya di dalam rumahnya”. (HR. Abu Dawud. Syaikh Al-Albany rohimahulloh berkata: Hasan Shahih).

FATWA LAJNAH DAIMAH No. 16873, tgl 12-2-1415 H :

Alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala man la Nabiyya ba’dahu. Amma Ba’du…

Lajnah Tetap untuk Riset Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabiah telah meneliti sebuah pertanyaan yang diajukan pada yang mulia Mufti ‘Am dari penanya bernama Muhammad bin Hasan Alu Dzabyan dan dilanjutkan pada seksi umum Haiah Kibar Ulama dengan no. (3134) tgl 7-7-1414 H.

Pertanyaannya sebagai berikut : “Kita mendengar dan mendapatkan sebagian orang yang mengaku salafiyyah, kesibukan mereka hanyalah menggungjing para ulama dan menuduh mereka sebagai ahlul bid’ah, seakan-akan lisan-lisan mereka diciptakan hanya untuk itu padahal mereka mengaku salafiyyah. Pertanyaan kami, apa sebenarnya yang dimaksud salafussoleh dan apa sikap salafussoleh terhadap kelompok-kelompok Islam yang ada di zaman ini ?? Jazakumulloh ‘anna wal muslimin khoiral jaza sesungguhnya ia maha mendengar do’a.

Setelah diteliti, maka Lajnah Daimah menjawab sebagai berikut :

Jika sesuai dengan apa yang disebutkan, maka menggungjing ulama dan menuduh mereka ahlul bid’ah serta tuduhan keji lainnya tertolak dan bukanlah merupakan jalan para salaf dan orang-orang pilihan dari mereka. Adapun dakwah salaf yang sebenarnya adalah yang mengajak pada Al-Qur’an dan Sunnah di atas jalan para salaf dari kalangan sahabat radhiallahu ‘anhum dan para tabi’in yang mengikuti jalan mereka dengan baik, hikmah, wejangan dan debat yang santun serta berjuang menundukkan jiwa melakukan ketaatan, dan istiqomah di atas prinsip dasar agama, yaitu menyeru pada persatuan dan ta’awun dalam kebaikan, menyatukan pendapat kaum muslimin dalam kebenaran, menjauhkan diri dari perpecahan dan sebab-sebabnya seperti saling membenci dan memusuhi, iri (hasad). Dan hendaknya mereka menjaga kehormatan kaum muslimin serta tidak berprasangka buruk pada mereka dsb yang menjadi sebab perpecahan diantara kaum muslimin dan menjadikan mereka berkelompok-kelompok yang saling melaknat antara yang satu dengan lainnya. Alloh Ta’ala berfirman : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung”.

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”…

Telah shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda : “Janganlah kalian menjadi kafir setelah aku meninggal, sebagian diantara kalian memenggal leher sebagian lainnya…”. Dan sebagainya berupa ayat-ayat serta hadits-hadits yang menjelaskan larangan berpecah belah sangatlah banyak.

Karena itu, memelihara kehormatan kaum muslimin merupakan salah satu diantara prinsip dasar agama Islam yang haram bagi siapapun untuk mencemarkan dan mencelanya. Disamping keharamannya lebih besar jika yang menjadi sasaran adalah para ulama, mengingat manfaat yang mereka berikan pada kaum muslimin sebagaimana kedudukan mereka yang disinggung dalam Al-Qur’an dan Sunnah, diantaranya Alloh Ta’ala menjadikan mereka saksi atas keEsaan-Nya, Alloh berfirman : “Syahidallahu annahu…..”.

Dan bahaya tersebut di atas disebabkan karena merekalah pembawa syari’at. Jika pembawa syari’at dicela maka menjadi sebab tercelanya apa yang mereka bawa. Perbuatan ini mirip dengan sikap ahlul ahwa’ yang menghina serta mencela para sahabat, padahal para sahabat merupakan saksi-saksi dari syari’at yang dibawa oleh Nabi ummat ini. Konsekwensinya, jika saksi dicela maka yang disaksikan juga ikut tercela.

Olehnya, merupakan kewajiban bagi seorang muslim untuk iltizam dengan adab, petunjuk serta syari’at Islam, sembari menjaga lisan-lisan mereka dan tidak menggunjing para ulama. Hendaknya mereka bertaubat dari perbuatan tersebut (mencela kaum muslimin). Jika ternyata terdapat kekeliruan dari seorang alim, maka tidak boleh kekeliruan itu menjadi sebab untuk menjatuhkan sang alim dan kembalilah pada para ulama yang mumpuni keilmuan agama serta keshohihan aqidah mereka. Disamping hendaknya setiap muslim tidak menerima begitu saja segala yang sampai kepadanya berupa perkara yang dapat menggiring dirinya dalam kebinasaan tanpa ia sadari. Dan hanya Allah Ta’ala pemberi taufiq wa shollallahu ‘ala Muhammad wa alihi wa sallam…

Lajnah Daimah

Ketua : Abdul Azis Bin Baz

Abdul Azis bin Abdullah bin Muhammad Alus Syaikh

Abdullah bin Abdurrohman Al-Ghudayyan

Bakr bin Abdillah Abu Zaid

Sholih bin Fauzan Al-Fauzan

Amma Ba’du….

Wallohul musta’an…!!

Saat menelaah beberapa artikel dan menyimak kaset-kaset ceramah yang sarat tuduhan keji pada Wahdah Islamiyah (WI), yang pertama terlontar dari mulut kami adalah kalimat di atas. Memori kami tertarik ke belakang mengingat tuduhan demi tuduhan yang dahulu dibidikkan pada para pengusung dakwah kebenaran dari zaman para Nabi hingga masa sekarang ini. Para Nabi dan Rasul dahulu dituduh dengan aneka macam celaan seperti, tukang sihir, orang gila dan sebagainya. Demikian pula para imam-imam ahlis sunnah, Imam al-Syafi’i rahimahullah pernah dituduh sebagai Rafidhi, demikian pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dituduh sebagai al-Mujassimah, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab sebagai kharijy, dan selain mereka rahimahullah. Seakan tuduhan dan celaan merupakan sunnatullah yang selalu mengiringi dakwah kebenaran yang sengaja dilontarkan oleh mereka yang berusaha menghalangi manusia dari jalan Allah Ta’ala.

Subhanallah…! Bagaimana mereka mempertanggungjawabkan tuduhan-tuduhan keji tersebut baik lewat tulisan, rekaman kaset, bulletin, via internet dsb. Jujur kami bergidik kala mengingat salah satu tafsir-an firman Allah Ta’ala dalam surat Qof ayat 18 : “Tiada suatu ucapan-pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir”.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Akan dicatat seluruh yang mereka ucapkan berupa perkataan yang baik dan buruk, hingga ucapan mereka : Saya telah makan, saya telah minum, saya telah pergi, saya telah datang, saya telah melihat…”. [1]

Sebenarnya kami sama sekali tidak berselera menanggapi artikel-artikel dan ceramah-ceramah tersebut. Akan tetapi, lantaran telah lama didiamkan, perbuatan ikhwah-ikhwah kita tersebut semakin hari semakin menjadi. Demikian pula banyaknya tuntutan dari ikhwah mutarabbi khususnya di daerah yang ingin mengklarifikasi tuduhan-tuduhan tersebut. Maka sebagai bentuk tanggung jawab kami kepada Allah Ta’ala dalam hal penyampaian hujjah, maka dalam kesempatan ini, secara berkala kami akan paparkan beberapa hal sebagai tanggapan dari tuduhan keji yang sengaja dilontarkan kepada para asatidzah WI yang selama ini menjadi bulan-bulanan pena dan lisan mereka. Kendati kami sadar, bahwa tuduhan-tuduhan keji tersebut akan menjadi pahala gratis bagi para asatidzah, begitu pula bagi mereka yang terdzolimi. Diriwayatkan bahwa ketika sampai pada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tentang sekelompok orang yang mencela Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma, ia berkata : “Sesungguhnya Allah enggan kecuali mengalirkan pahala bagi keduanya walaupun keduanya telah meninggal dunia”.

Dan bagi mereka yang mau inshof, tahu dari mana mereka para penuduh mengambil rujukan untuk membangun sebuah vonis hukum bagi WI. Coba simak tulisan-tulisan mereka di internet, diantara tuduhan mereka adalah “WAHDAH ISLAMIYAH TERLIBAT JARINGAN TERORIS”, dan sumber mereka hanyalah nukilan dari koran dan media serta berita-berita intelejen yang seandainya dikembalikan pada ilmu periwayatan hadits, berita yang berasal dari media itu muttaham dapat tertuduh karena syarat adalah-nya tidak terpenuhi [2].

Dan yang lebih hangat lagi, berita yang dinukil dari www.tribun-timur.com yang memaparkan wawancara Ust. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, bahwa WI siap terjun ke politik praktis pada pemilu 2014 mendatang. Padahal yang shohih[3] wartawan tribun keliru dalam mendengar penjelasan Ust. Muhammad Zaitun. Bahkan sikap WI sangat jelas pada kader-kader yang terjun langsung dalam kancah politik praktis, dengan menon-aktifkan kader tersebut serta tidak dibenarkan sama sekali mengatasnamakan WI dalam politik praktisnya.

Bahkan yang lebih lancang lagi, mereka menuduh WI membolehkan demonstrasi, SUBHANALLOH…! Haatu burhanakum inkuntum shodhiqin…”.!! Berikut kami menukil tulisan yang mereka muat dalam situs mereka www.almakassari.com [4]:

Pertanyaan:
Katanya Salafy melarang demonstrasi, lalu kenapa wahdah-salafy melakukannya?

Jawab: Siapa yang mengatakan Wahdah itu salafy? Sekarang yang mengaku salafy itu banyak, boleh saja semua orang mengaku salafy, tapi belum tentu dia salafy.

Salafy itu bukanlah jubah yang dipakai siapapun yang ingin memakainya kemudian dia katakan bahwa dirinya adalah salafy.

Tidak, tapi salafy adalah sebuah keyakinan yang tergambar, tertanam dalam diri seseorang dan dari amalannya menunjukkan hal tersebut, inilah yang disebut salafy.

Tanggapan:

Dalam sebuah acara dialog di stasiun TV “AL-MAJD” KSA, dengan tema “BERSAMA SAMAHATUL MUFTI” Syaikh Abdul Azis Alu Syaikh hafidzahulloh,[5] beliau ditanya: “Apakah boleh seseorang mengaku saya salafy dan selainnya tidak ??

Beliau menjawab: Wahai saudaraku, Allah Ta’ala berfirman :“…Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”. (An-Najm : Ayat 32). Seorang itu diukur bukan sekedar dengan pengakuannya dan intisabnya akan tetapi dengan apa yang sebenarnya. Keimanan itu bukan sekedar perhiasan dan angan-angan, akan tetapi apa yang terpatri dalam hati dan dibuktikan dengan amalan. As-Salafiyah yang hakiki adalah mereka yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berjalan di atas jejak para salaf dari kalangan sahabat dan para tabiin yang mengikuti mereka dengan baik. Seorang muslim adalah yang yakin dengan agamanya dan tidak boleh baginya memberi gelar dengan selain Islam. Adapun perkataan seseorang, saya ‘salafy’, saya salafy ini dan saya salafy itu, maka gelar-gelar seperti ini merupakan pujian bagi diri sendiri, dan ini adalah sesuatu yang tidak pantas, sebab semestinya yang menjadi bukti adalah amalan. Adapun jika sekedar pengakuan dan pernyataan bahwa saya telah mendapat pujian dari fulan (atau tazkiyah) dari fulan, maka ini sama sekali tidak bermanfaat baginya. Tidak ada yang bermanfaat bagi anda kecuali amalan anda, keistiqomahan serta manhaj anda yang benar. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya inilah jalanku, maka ikutilah dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain yang menjadikan kalian berpecah-belah dari jalanNya”.[6] Sedangkan pernyataan mereka bahwa yang selain manhaj mereka bukan ‘salafy’, maka ia membutuhkan dalil. Boleh jadi orang yang menyelisihinya itu lebih afdal (utama) darinya atau sama atau lebih baik darinya. Adapun perkataan mereka, bahwa siapa yang menyelisihi kami dan manhaj kami maka ia bukan salafy, maka jika seandainya memang menyelisihi kebenaran, maka kita katakan ‘ia’, namun jika hanya sekedar pengakuan maka kita tidak menerimanya. Yang kita inginkan dari seluruh ikhwah dimana-pun mereka berada agar menjadikan tujuan utama mereka adalah keikhlasan dalam beramal karena Allah, menasehati ummat dan berusaha menyelamatkan mereka (ummat) dari kegelapan kejahilan dan kesesatan. Disamping menanggalkan sikap berbangga-bangga pada kelompok dan tampil beda yang dengannya ia menyelisihi saudaranya yang lain. Kita semua adalah muslim yang satu, “Dialah yang menamai kalian Muslimin sebelumnya[7], adapun pembagian-pembagian, ini salafy lama dan ini salafy baru, ini salafy isiqomah dan ini bukan salafy istiqomah, maka pembagian-pembagian semacam ini adalah sesuatu yang tidak boleh didukung”.

Pembawa acara : “Ya Syaikh, bagaimana dengan gelar-gelar yang disematkan secara khusus pada sebagian kaum muslimin?

Syaikh Mufti : “Hendaknya kita menjauhkan diri dari menghukum secara personal, dan acara ini bukan tempat untuk saya memuji atau mencela fulan. Tujuan utama kita adalah manhaj dan jalan. Adapun berbicara tentang fulan dan fulan, boleh saja hari ini benar dan besok salah, sebab ini tabi’at manusia, sebagaimana dikatakan: “seseorang dikenal dengan kebenaran (yang ia perjuangkan), sedang kebenaran tidak dikenal dengan orang per-orang”. Kebenaran adalah sesuatu yang pasti, adapun seseorang bisa sesuai dengan yang haq dan bisa pula menyelisihinya”.

Perlu diperhatikan, kami tidak mengingkari secara mutlak kebolehan ber-intisab kepada manhaj salaf dengan memperindah nama kita melalui bubuhan kalimat as-salafy atau al-atsary di belakangnya, karena telah jelas perkataan ulama tentang hal ini. Yang kami ingkari adalah jika ternyata tidak ada korelasi antara intisab kita terhadap manhaj salaf dengan realita diri, baik dalam hal aqidah, ibadah, mu’amalah ataupun akhlaq. Sebab, ibroh terpenting adalah ketetapan kita terhadap manhaj yang shohih ini, dan bukan sekedar intisab (baca: pengakuan) seperti kata Mufti ‘Aam di atas. Dan yang lebih berbahaya dari semua itu, tercemarnya manhaj salaf yang mulia ini lantaran perbuatan sebagian mudda’i bis salafiyah (baca:peng-klaim) yang menghabiskan waktu dan tenaganya untuk menghujat dan mencerca para du’at dengan celaan dan tikaman yang jauh lebih menyakitkan dari tikaman keris. Lalu menyelubungi kenistaan tersebut dengan dalih nasehat bagi umat dari laten khawarij (itupun jika tuduhannya benar), padahal umat yang di nasehati masih jauh tenggelam dalam kesyirikan, meninggalkan shalat dan puasa serta dosa-dosa besar lainnya yang jelas saja keadaannya jauh lebih buruk dari para du’at yang dicela, ma lakum kaifa tahkumun??. Hingga berindikasi munculnya stigma buruk tentang manhaj yang yang ini di tengah kaum muslimin, wallohu musta’an.

Satu hal yang barangkali banyak diantara kita, para du’at salafiyah tidak menyadarinya, bahwa gelar-gelar apapun yang tersemat pada diri kita, kendati gelar tersebut merupakan gelar syar’i (yang diakui oleh Syara’) namun jika ia digunakan untuk mengadakan perpecahan di kalangan umat Islam, maka ia dikategorikan sebagai gelar (sebutan) jahiliyah yang tercela.

Fadhilatus Syaikh Dr. Abdullah al-Ghunaiman -mantan guru besar Universitas Islam Madinah-, dalam tulisan beliau yang berjudul “al-Hawa wa Atsaruhu fi al-Khilaf“, menyatakan: “Kendati penyebutan “salafy” ada atsar yang menopangnya, dalam arti orang yang mengikuti jalan para shahabat, namun jika ia digunakan untuk tujuan ta’asshub atau fanatik terhadap satu kelompok tertentu, maka ia dibenci oleh syari’at.

Beliau melanjutkan: “Disebutkan dalam sirah pada salah satu perang Nabi shallallahu alaihi wasallam, terjadi sengketa antara dua orang pemuda, yang satu berasal dari golongan Muhajirin dan lainnya dari golongan Anshar. Lalu pemuda Muhajirin itu berseru: “Wahai Kaum Muhajirin!!”, sang pemuda Anshar-pun berteriak: “Wahai kaum Anshar!!”. Mendengar hal tersebut, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersegera keluar seraya berkata: “Ada apa ini, (ini adalah) seruan ahli Jahiliyah!!, tinggalkanlah, sebab ia tercela”.[8] Padahal, kedua nama ini (yakni Muhajirin dan Anshar) disebutkan dalam al-Qur’an, dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, tatkala ia digunakan untuk tujuan ta’asshub, maka ia menjadi sebuah perbuatan jahiliyah. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa seruan ini tercela sebab ia mengajak pada perpecahan dan perselisihan.

Demikian pula yang terjadi pada diri Salman al-Farisi saat perang Uhud ketika melempar salah seorang dari kaum musyrikin seraya berseru lantang: “Rasakan, Aku ini farisy (orang Persia)”. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda padanya: “Katakanlah, dan saya seorang muslim!”.[9]

Adapun wahdah-islamiyah mereka jauh dari penamaan salafiyah. Tidak ada orang-orang salafy yang melakukan demonstrasi.

Tanggapan :

Bisakah antum menyebutkan kapan WI berdemonstrasi?!! Bahkan kalau mau jujur, ustadz-ustadz salafy dahulu-lah yang kemudian terjebak dalam perbuatan demonstrasi. Masih segar dalam ingatan kita, beberapa tahun silam, peristiwa “demonstrasi” yang digerakkan panglima Laskar Jihad Ust. Ja’far Umar Thalib di Senayan lalu berlanjut di depan Istana Negara yang kala itu dihuni oleh presiden Abdur Rahman Wahid. Saat itu disamping sebagai panglima Ust. Ja’far merupakan tokoh sentral “salafy”. Perlu antum ingat, bahwa saat itu ustadz-ustadz salafy antum tergabung dalam pasukan Laskar Jihad pimpinan Ust. Ja’far Umar Thalib, dan tidak ada yang mengingkari perbuatan tersebut. Bahkan istilah “demonstrasi” berusaha ditalbis dengan istilah Ust. Ja’far, “Idzhar al-Quwwah“. Ala kulli hal, kata Idzhar juga merupakan pecahan dari kata mudzaharah[10], dan subtansinya sama. Parahnya, demonstrasi ala ustadz-ustadz salafy ini tidak cukup hanya dengan kepalan tangan, namun harus keluar sambil menghunus senjata-senjata tajam. Duh, sepanjang pengetahuan kami, demo-demo yang dilakukan oleh IM atau Hizbut Tahrir di tanah air (terlepas dari keliru tidaknya), yang selama ini dicela dan disesatkan oleh kalangan salafy, belum pernah sekali-pun terdengar mereka keluar sambil menghunus senjata tajam dan makian keji pada penguasa (semoga ustadz-ustadz salafy yang terlibat telah bertobat kepada Allah Ta’ala).

Kemudian tidak ada dari kalangan salafiyun yang membolehkan bai’at, mereka (wahdah) mempunyai bai’at.

Tanggapan : Kami tidak tahu dari mana antum membangun tuduhan keji di atas. Silahkan tanya kepada ikhwah-ikhwah yang telah terpengaruh dengan syubhat antum, apakah mereka pernah di bai’at ketika aktif di kajian wahdah?? Hatuu burhanakum in kuntum shodiqin !!.

Tidak ada dari kalangan salafiyun yang membagi tauhid menjadi 4, salah satunya tauhid Hakimiyah

Tanggapan :

Alhamdulillah, di WI baik pada ta’lim dan tarbiyah yang diajarkan adalah pembagian tauhid menjadi 3 sebagaimana yang disebutkan para salaf. Adapun yang mereka tuduhkan itu, mungkin saja pernah disebutkan oleh salah satu dari kalangan asatidzah WI. Akan tetapi, orang yang inshof tentu tidak menghukumi sesuatu secara mutlak. Dan kalaupun demikian adanya, maka kami ingin bertanya: “Apakah ketika ada yang membagi tauhid menjadi empat yang merupakan hasil ‘istiqro’ mereka, lantas kita bid’ahkan?”. Kalau demikian, maka antum pun telah membid’ahkan Imam Ibnul Qoyyim yang membagi tauhid menjadi dua!!.

Perlu diketahui, pembagian itu ada dua. Pertama, pembagian yang sifatnya syar’i/ta’abbudi, Kedua, pembagian yang sifatnya istiqro-i/fanni. Pembagian jenis pertama adalah pembagian yang berasal dari syariat, baik dari alqur’an maupun as-Sunnah, contohnya adalah pembagian rukun islam atau rukun iman. Untuk jenis ini, kita harus menerima secara bulat tanpa menambah atau menguranginya. Bahkan orang yang lancang menambah dan menguranginya bisa jatuh dalam kekufuran. Adapun jenis kedua, sumbernya adalah penelitian dan pengkajian terhadap nash-nash al-Qur-an dan as-Sunnah. Tidak ada nash khusus yang menjelaskan pembagian itu. Olehnya untuk jenis ini terdapat keluasan padanya, contohnya adalah pembagian tauhid di atas. Tidak ada nash dari al-Qur’an ataupun as-Sunnah yang mengatakan tauhid itu terbagi menjadi 3. Namun pengkajian yang di lakukan ulama dari al-Qur’an dan as-Sunnah membawa kepada kesimpulan, bahwa tauhid terbagi menjadi 3 dan ada juga yang membagi menjadi 2. Contoh pada kasus lain adalah pembagian syirik. Ada yang membagi syirik menjadi 2 dan ada pula yang membaginya menjadi 3. Penyelisihan kita terhadap pembagian jenis ini lebih ringan dari pembagian yang pertama. Bahkan kita tidak sampai keluar dari manhaj salaf dengan penyelisihan terhadap pembagian jenis ini, wallahu a’lam.[11]

Dan tidak ada dari kalangan salafiyun yang memperbolehkan berbilangnya jama’ah islamiyah seperti yang dilakukan oleh orang-orang wahdah

Tanggapan :.

Kami memohon kepada Allah Rabbul ‘Alamin, semoga dakwah yang diusung WI bisa menjadi tonggak pemersatu ummat, sebagaimana namanya (Amin ya Robb). Justru kami khawatir sikap dan perangai antum yang jauh dari kesantunan dan senang menebar fitnah dan dusta yang akan memicu perpecahan ummat ini (wal ‘iyadzubillah).

Dan tidak ada dari salafiyun yang membela Ahlul Bid’ah.

Tanggapan :

Permasalahan pertama, kriteria ahli bid’ah versi “salafy” yang begitu rancu. Sebab hal ini dibangun di atas penerapan kaidah bid’ah yang rancu pula. Akibatnya, penyematan gelar ahli bid’ah terkesan serampangan, dan tertuju pada orang-orang yang tidak semestinya. Kedua, kalau tokh anggapan mereka kaum “salafy” itu benar bahwa tokoh-tokoh yang mereka cap sebagai ahli bid’ah, maka sebenarnya WI bukan membela ahlul bid’ah (menurut anggapan salafy), Ma’adzalLoh..!! tetapi WI cuma membela orang-orang yang terdzolimi dari kalangan para duat dan ulama yang menjadi bulan-bulanan celaan antum seperti Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna, Syaikh Safar al-Hawali, Syaikh Salman, Syaikh ‘Aidh al-Qarni, hafidzahumulloh al-ahya wa rahimal amwat minhum, yang sebelumnya telah dibela dengan tegas oleh ulama kibar seperti Syaikh Bin Baz, Ibnu Utsaimin, Al-Albani, Syaikh Abdul Muhsin, Syaikh al-Jibrin, Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahumullLoh wa hafidzollohul ‘ahya.[12]

Dan tidak ada dari salafiyun yang memunculkan manhaj muwazanah. Ini sebagian kerusakan orang-orang wahdah islamiyah.

Tanggapan :

Masalah jarh dan ta’dil sebenarnya adalah bukan masalah sepele. Jika dipegang oleh para thuwailib ‘ilmi maka akan menjadi musibah, apalagi jika ditambah dengan sedikitnya sifat wara’ dan ketakwaan pada Allah. Imam Ad-Dzahabi –rahimahulloh- berkata : “Membicarakan para ulama membutuhkan keadilan dan ketakwaan” [13]. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an: “Janganlah disebabkan kebencianmu pada satu kaum membuat kalian tidak berlaku adil, adillah karena itu lebih dekat dengan ketakwaan”. (Al-Maidah : 8).

Dan masih perkataan Adz-Dzahabi rahimahulloh ketika menyebutkan biografi Al-Hafidz Muhammad bin Nashr : “Seandainya setiap kali seorang imam keliru dalam ijtihadnya pada satu masalah yang bisa dimaafkan serta merta kita mencela, membid’ahkannya dan memboikotnya, maka tak akan selamat dari kita Ibnu Nashr dan Ibnu Mandah, bahkan yang lebih senior dari mereka berdua. Dan hanya Allah yang memberi petunjuk pada jalan yang lurus dan kita berlindung dari hawa nafsu dan tutur kata yang kasar”.[14]

Sa’id bin Musayyib (seorang tabi’in) pernah berkata : “Tidak ada seorang alim atau yang mulia dan memiliki keutamaan melainkan ia memiliki cacat (aib). Akan tetapi barang siapa kebaikannya lebih banyak dari kekurangannya, maka akan pergi kekurangan tersebut dan tertutupi oleh kelebihannya”.[15]

Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu pernah berkata: “Janganlah setiap ada kalimat salah yang keluar dari mulut saudara kalian, membuat kalian lantas berprasangka buruk jika masih bisa berprasangka baik dan memberinya alasan (kemungkinan-kemungkinan baik) dari perkataannya itu”.[16]

Berkata Abu Robi’ Muhammad bin Al-Fadl Al-Balkhy : Saya mendengar Abu Bakr Muhammad bin Mahrawaih berkata: Saya mendengar Ali bin Husain bin Al-Junaid berkata: Saya mendengar Yahya bin Ma’in berkata: “Sesungguhnya kita mencela sebagian kaum yang boleh jadi mereka telah meniti langkah-langkah kaki mereka ke surga sejak lebih 200 tahun yang lalu..!!! berkata Abu Bakr Muhammad bin Mahrawaih: “Saya masuk menemui Abdur Rahman bin Abi Hatim yang saat itu sementara membaca buku jarh dan ta’dil, lalu menyampaikan perkataan Yahya tersebut. Beliau kemudian menangis dan tangan beliau bergetar hingga buku itu berserakan jatuh”.

Dan khusus dengan manhaj Muwazanah, maka WI tidak pernah mengatakan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang wajib. Akan tetapi penerapannya kembali pada setiap person. Jika seseorang nyata dalam kebid’ahan dan kesesatannya bahkan menyeru kepada kebid’ahannya, maka kita mentahdzir ummat dari mereka seperti kelompok syi’ah, JIL, Islam Jama’ah, Sufiah, ahmadiyah dan sebagainya. Adapun jika seseorang terkenal dengan keistiqomahannya serta berdakwah menyeru kepada tauhid dan melarang dari kebid’ahan, maka hendaknya kita tidak mendzolimi mereka hanya disebabkan ketergelincirannya, bahkan kebaikannya akan menutupi kekurangannya tersebut. Tentunya nasehat dengan baik dan hikmah tetap dilakukan dan bukan dengan menyingkap aib mereka serta mencerca dengan tuduhan keji.

Anehnya, kendati ikhwah-ikhwah kita ini mengaku mengikuti jalan dakwah salafiyah yang dibawa oleh para imam ahlu sunnah, namun ketika ada sikap dan pendapat para imam yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka otomatis perbuatan imam tersebut ditolak begitu saja. Termasuk diantaranya masalah muwazanah tersebut. Padahal metode ini telah diterapkan bahkan disebutkan secara jelas oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa:

?????? ???????? ????????? ???????? ?????? ????????????? ?????????????? ????????? ?????? ???? ???????? ???? ?????? ??? ?????? ???? ???????? ????? ?????? ?????? ???????????? ????????????? ????????????? . ??????? ??????? ?????????????? ???????????????? ?????? ???????? ????? ???????? ??????????? ??????? ???????? ??????? ???? ?????????? ????????????? .

“Terkadang, seseorang dipuji karena meninggalkan sebagian perbuatan dosa berupa bid’ah dan asusila. Akan tetapi, sekalipun demikian kadang tercabut apa yang dipuji oleh selainnya meskipun dia tetap melakukan sebagian perbuatan baik yang sesuai dengan sunnah. Maka inilah metode muwazanah dan keadilan. Barangsiapa yang menapakinya, maka ia telah menegakkan keadilan yang Allah Ta’ala turunkan padanya Kitab dan mizan”.[17]

Sebagai contoh dari apa yang kami katakan, penerapan prinsip tersebut oleh para ulama Robbani:

  1. Ketika Syaikh Al-Albany ditanya tentang Sayyid Qutb, beliau menjawab: “Kami yakin bahwa Sayyid Qutub –rahimahullah- tidaklah bermanhaj salafy pada sebagian besar dari fase kehidupannya. Akan tetapi nampak pada dirinya kecondongan yang begitu kuat kepada Manhaj Salafy pada akhir-akhir kehidupannya saat ia mendekam di dalam penjara. Salafiyah bukan hanya sekedar pengakuan, akan tetapi yang dituntut padanya adalah pengetahuan akan al-kitab, Sunnah Sahihah dan atsar salafiyah….”.[18]

Dan dalam muqoddimah buku beliau ‘ghoyatul maram’ yang mentakhrij hadits-hadits dalam buku ‘al-halal-wal haram’[19] tulisan DR. Yusuf Qordhowy, beliau juga menerapkan manhaj ini..

  1. Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid al-Halaby al-Atsary, murid senior Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam buku beliau “Ilmu Ushul al-Bida’”, menukil perkataan Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi kala menjelaskan Kaidah Pertama pada hal. 69.
  2. Dalam risalah magisternya, Syaikh Fauzan hafidzahulloh dibawah bimbingan Syekh Abdurrozzaq ‘Afify yang berjudul “At-Tahqiqot Al-Mardhiyyah fil Masail al-fardhiyyah”, beliau menjadikan tafsir “Dzilal” Sayyid Qutb rahimahulloh sebagai salah satu referensi.
  3. Mufti Kerajaan Saudi Arabiyah, Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh -hafidzahullah- berkata: “Kitab tafsir Fi Dzilal al-Qur’an” (buah karya Sayyid Qutb rahimahulloh), adalah kitab yang bermanfaat. Penulisnya menuliskannya agar al-Qur’an ini dijadikan sebagai undang-undang kehidupan. Kitab ini bukanlah tafsir dalam arti kata harfiyah, tetapi penulisnya banyak menampilkan ayat-ayat al-Qur’an yang dibutuhkan oleh seorang muslim dalam hidupnya…Di sana ada orang yang mengkritik sebagian istilah yang terdapat dalam kitab ini. Namun, sesungguhnya hal-hal yang dianggap kesalahan ini adalah dikarenakan indahnya perkataan Sayyid Qutb dan tingginya gaya bahasa yang beliau pergunakan di atas gaya bahasa pembacanya. Inilah sebetulnya yang tidak dipahami oleh sebagian orang yang mengkritiknya. Kalau saja mereka mau menyelaminya lebih dalam dan mengulangi bacaannya, sungguh akan jelas bagi mereka kesalahan mereka, dan kebenaran Sayyid Qutb”.[20]

SUBHANALLOH….!! Ya Alloh selamatkanlah kami…. !!!

Kalau mengaku boleh saja mereka mengaku, dan perlu saya beritahu, pengakuannya kalau mereka mengatakan salafy itu ujung-ujungnya adalah duit. Dan saya sangat kenal akan perbuatan mereka. Mereka punya camp pelatihan di Philiphina, kemudian yang melakukan pengeboman di Makassar adalah kebanyakan orang-orang yang ikut pengajian mereka, maka ini jauh dari penamaan salafiyah.

Tapi kalau untuk mendatangkan orang-orang dari luar, misalnya Saudi, (mereka mengatakan) “Kami Salafy, ayo ajarkan Tauhid kepada kami

Begitulah seruannya “ajarkan tauhid kepada kami”, tapi ustadz2nya sendiri…., coba antum cari ceramah-ceramahnya yang mengajarkan tauhid, mungkin kalau mengajarkan, mengajarkan tapi tidak tergambar bahwa mereka punya perhatian khusus terhadap tauhid.

Na’am, kemudian mendatangkan ulama-ulama dari Saudi, tapi kalau berbicara di kaset membicarakan pemerintahan Saudi dengan pembicaraan yang sangat keji dan tidak pantas. Kalau ada duit bicaranya bagus, tapi kalau tidak ada duit bicaranya mencela dan menjelekkan

Tanggapan :

Inna lillahi wa inna ilaihi Rojiun..”Ya Allah jika tuduhan mereka pada kami itu benar maka ampunilah kami, namun jika tuduhan itu dusta, maka nampakkan pada kami kekekuasaan-Mu atas mereka”.

Ketahuilah wahai pembaca budiman…, kami bersumpah atas nama Allah, bahwa perkataan-perkataan mereka adalah kedustaan dan kejahilan nyata kepada WI yang hanya didasarkan atas prasangka, Wallohi…!! Pengakuan mereka sebagai salafy (yang mengikuti jalan para salafussalih) hanyalah seperti perkataan orang Arab: “Betapa banyak orang mengaku memiliki hubungan dengan Laila, namun Laila tidak mengakui hubungan-hubungan mereka”…silahkan para pembaca melihat kata-kata dan tuduhan mereka yang keji, sungguh mereka telah merusak citra kaum salaf itu sendiri.

Bukti kebohongan dalam poin ini begitu banyak, diantaranya bahwa pengakuan WI sebagai salafy karena ujung-ujungnya duit…dan diulang lagi pada akhir paragraf: “Kalau ada duit bicaranya bagus, tapi kalau tidak ada duit bicaranya mencela dan menjelekkan”. Parahnya, pernyataan ini dikukuhkan dengan sebuah penegasan: “Dan saya sangat kenal akan perbuatan mereka”. Kami katakan, bahwa ini merupakan satu kedustaan dan pelecehan terhadap harga diri seorang muslim. Siapakah yang anda sangat kenal dari asatidzah atau kader WI itu, yang hanya berbicara bagus jika ada duit lalu mencela jika tidak diberi duit??? Subhanallah hadza buhtanun Adzim.!!!!

Tidak puas sampai disitu, kebohongan dan tuduhan serta upaya merusak nama baik dilanjutkan dengan ucapan batil yang indikasinya sangat buruk. Perhatikan ucapan diatas: “kemudian yang melakukan pengeboman di Makassar adalah kebanyakan orang-orang yang ikut pengajian mereka“. Subhanallah… ini merupakan perkataan sesat yang berusaha menggiring opini publik bersangka buruk dan menarik kesimpulan bahwa WI adalah jama’ah teroris…kami tidak hendak menuduh. Namun dalam tulisan-tulisan lainnya ternyata tuduhan secara tidak langsung ini telah berubah menjadi tuduhan langsung berdasar berita-berita koran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Yang dapat kami katakan, bahwa ucapan ini merupakan perkataan batil lantaran hanya dilandasi hawa nafsu. Sebab indikasinya, bisa pula melebar pada ulama-ulama Rabbani lainnya. Sebagai contoh dari konsekwensi buruk ucapan batil ini, tatkala mereka menuduh Syaikh Dr. Safar al-Hawali dan Syaikh Salman al-Audah sebagai ahli bid’ah, bahkan sebagai teroris (oleh ustadz salafy Lukman Ba’abduh), apakah kemudian kita akan melemparkan tuduhan yang sama kepada Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz, dan juga Syekh Muhammad Al-Amin As-Syinqity rahimahulloh ??[21] sebab keduanya merupakan murid-murid beliau yang banyak duduk di majelis beliau untuk menimba ilmu darinya bahkan Syaikh bin Baz telah memberi tazkiyah pada mereka berdua. Ma’adzallah….Demikian pula guru-guru para asatidzah WI selama di Universitas Islam Madinah al-Munawwarah, apakah mereka juga antum tuduh sebagai teroris lantaran murid-muridnya di Makassar (menurut tuduhan dusta antum terlibat) jaringan teroris??? Sekali lagi ini merupakan ucapan batil. Dan yang lebih parah lagi, ternyata pelaku-pelaku teror di tanah air banyak melakukan kajian-kajian terhadap buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kenyataan ini, jika memakai kacamata dan ucapan keji di atas, maka akan berindikasi kita-pun melemparkan tuduhan teroris pada kedua ulama Ahli Sunnah di atas. Ma’adzallah.

Karenanya, sangat naif jika kita terlalu tergesa jika mengambil kesimpulan hanya lantaran perbuatan satu oknum. Apalagi oktum tersebut secara struktural tidak terdaftar dalam jajaran pengurus bahkan kader WI. Tuduhan antum bisa diterima jika ternyata seluruh kader WI yang jumlahnya kurang lebih 15 ribu orang bersikap dan berprilaku sama. Akan tetapi dari sekian puluh ribu yang kami disebutkan, hanya ada satu atau dua orang yang antum klaim sering mengikuti pengajian WI yang terlibat. Apalagi sikap WI terhadap jaringan Teroris sangat tegas, bahwa hal tersebut merupakan satu kekeliruan dan bukan merupakan manhaj yang benar. Olehnya, sekali lagi kami nasehatkan antum, hati-hati dan jaga lisan antum dari mengucapkan satu kata fitnah dan dusta. Sebab, serapi-rapi antum sembunyikan fitnah dan dusta, suatu saat bakal tercium juga.!!!

Edisi 1 Dzulhijjah 1430 H

Bersambung InsyaAllah…


[1]. Lihat tafsir Ibnu Katsir.

[2].‘Adalah artinya kelurusan seorang perawi dan tidak memiliki kecacatan sampai dari sisi muru’ah/estetika. Dan media seperti itu, bagaimana mungkin kita menerima begitu saja setiap berita darinya yang sarat percampuraduan antara yang hak dan batil tanpa tabayun ??!!.

Pembaca budiman, tengoklah buku “Mereka Adalah Teroris”, karya Ust. Lukman Ba’abduh yang amat dipuji oleh kalangan “Salafy”, termasuk dalam tulisan al-akh Sofyan Khalid –hadahulloh- yang berjudul “Mengapa Saya Keluar dari Wahdah Islamiyah”, kala menghujat Fadhilatus Syaikh Dr. Safar bin Abdur Rahman al-Hawali berkaitan dengan karya beliau “Wa’du Kissinger” yang membongkar skenario dan konspirasi AS di Timur Tengah, dengan perkataannya: “…Kesimpulan ini dia ambil dari sumber-sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kemudian dengan jiwa dan emosi kekanak-kanakan dia menyimpulkan dan menyikapi berita tersebut….”. (Lihat: Mereka Adalah Teroris, h. 384). Nah, tatkala perbuatan yang sama mereka lakukan, yakni hanya asal comot dari berita-berita koran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, tidak ada komentar yang mengatakan: “Bahwa kaum salafy makassar menyimpulkan berdasarkan emosi dan kekanak-kanakan”. Kami Khawatir bahwa ini merupakan buah dari sebuah kaidah yang berlaku dikalangan kawan-kawan salafy kita: “Bagi kami boleh dan bagi kalian tidak boleh”, Wallahu al-Musta’an.

[3]. Dan berita tersebut langsung diklarifikasi oleh Koran Tribun pada edisi berikutnya. Alhamdulillah.

[4]. Situs ini merupakan salah satu situs yang getol menyebar fitnah dan hujatan khususnya pada Wahdah Islamiyah. Silahkan baca artikel-artikel yang termuat di dalamnya beserta bumbu-bumbu komentar dari pembacanya, Anda akan mengetahui hakikat sebenarnya !! Dan yang paling aneh, katanya untuk mencari kebenaran, namun kenyataannya telah berulang kali kami, bahkan ikhwah-ikhwah WI lainnya berusaha mengirimkan tanggapan balik secara langsung pada situs ini, namun sekali-pun tidak pernah dimuat. Kami khawatir jangan sampai situs ini memang sengaja dibuat hanya untuk menebar fitnah dalam barisan kaum muslimin. Wallahu al-Musta’an.

[5] Video rekamannya kami miliki namun kami mohon maaf belum sempat kami posting lewat situs ini dan akan kami usahakan pada tulisan-tulisan berikutnya, begitu pula audio dan video lainnya yang berhubungan dengan topic ini.

[6] . Q.S. Yusuf : 108.

[7] . Kutipan dari firman Allah Ta’ala pada surah al-Hajj : 78. (Pentrj).

[8] . HR. Muslim, Kitab al-Birr, wa al-Shilah, wa al-Adab, Bab Nasru al-Akh Dzaliman au Madzulaman.

[9] . Dan semisalnya seperti dalam riwayat Abu Daud, Kitab al-Adab, Bab Fi al-Ashabiyah.

[10] Demonstrasi dalam istlah arab dikenal dengan ‘Mudzoharorh’

[11] . Keterangan ini disampaikan oleh akhuna salah seorang asatidzah kami, Alumnus Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah thn ajaran 1429 H – mengutip penjelasan Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Al-Ruhaili, Dosen Fakultas Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah ketika mengajar beliau mata pelajaran Tauhid thn kedua. Uniknya, penjelasan ini terkait dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada beliau berkaitan dengan Tauhid Hakimiyah dari seorang mahasiswa asal kuwait, yakni al–akh al-fadhil Faisol sayid. Beliau berani bersumpah, bahwa keterangan tersebut beliau dengar langsung dari Samahatus Syaikh).

[12] Kami memiliki data akurat baik tulisan maupun rekaman dari apa yang kami sebutkan diatas..dan pada tulisan berikutnya kami akan menukil fatwa serta pembelaan para ulama kibar pada masyayekh dan du’at tersebut diatas dengan audio serta tulisan yang kami terjemahkan..

[13] Siyar A’lam nubala (8/448)

[14] Siyar A’lam Nubala (14/40)

[15] Diriwayatkan oleh Al-khotib fil Kifayah (hal.79), At-Tamhid (11/170), Sifatus Shofwah (2/81).

[16] Diriwayatkan oleh Al-Muhamily fi Amaalyh (460), Al-Baihaqy fi Syi’ab (324-6/323).

[17] . Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, X/366. Program al-Maktabah al-Syamilah, vol. 3.3.

[18] . Lihat: Duruus li al-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, VII/7, Program al-Maktabah al-Syamilah, vol. 3.3.

[19] Yang diplesetkan oleh sebagian ikhwah ‘halal wal halal’ dan bukan ‘halal wal haram’

[20] . Http://www.alqlm.com/index.cfm?method=home.con&Contentld=207.Fatawa tertanggal 30/8/2005 M.

[21] Syekh Salman termasuk salah seorang murid Syekh Bin Baz, adapun Syekh Safar mengambil tafsir langsung dari Syekh Syekh Syinqty rahimahulloh



print halaman ini
Langganan Posting Via Email

Masukkan Alamat Email Anda :

Artikel Terkait



Comments :

30 komentar to “SILSILAH PEMBELAAN PARA ULAMA DAN DU’AT (bagian I)”

masyaAllah. semoga orang dapat mengambil faidah dari penjelasan ini. smg Allah mjadikan amalan ini ikhlas krn- mengharap wajah-Nya.

abu abdirrahman mengatakan...
on 

sangat bermanfaat…

Yudi mengatakan...
on 

sepertinya page ini dan sambungannya akan mendapat sambutan hangat :-)

ana kasih masukan nah…
tolong pisahin pertanyaan/pernyataan per paragraf, ana lihat ada yg nyambung antara paragraf sebelumnya dengan paragraf pernyataan baru (contohnya pada pernyataaan yg dinukil dari ’sebelah’ dan jawabannya), jadi bingung juga bacanya ;-)

‘alaa kulli haalin,
semoga hal ini betul2 membawa manfaat dan bisa menjawab keragu-raguan ikhwah/akhawaat dan kaum muslimin secara umum atas manhaj dakwah yg digunakan oleh Wahdah Islamiyah.

Yurin mengatakan...
on 

Semoga semua pihak semakin inshaf dalam menyikapi perbadaan diantara par Du’aat ahlissunnah.Jazaakallaahu khair Yaa ustaadz.

Abu Muhammad mengatakan...
on 

alhamdulillah. munculnya situs2 spt ini akan membantu kaum muslimin unt mendapatkan info yg benar dan klarifikasi yg bertanggung jawab seputar fitnah2 yg dilontarkan oleh tukang gunjing, para peng-klaim-salafy.

betapa orang-orang salafy itu lebih dikenal di kalangan aktivis dan masyarakat luas sebagai penggunjing dan tukang fitnah daripada pengikut salaf. semoga Allah membersihkan dakwah ini dari org2 macam mereka.

abu masyhur al atsari mengatakan...
on 

subhanallah

amin mengatakan...
on 

it’s good.

abu wafa mengatakan...
on 

para ulama salaf adalah orang-orang yang lebih mengetahui al-Haq, sangat bersemangat untuk da’wah ini sampai kepada manusia, dan sangat tegas dalam menolak kebathilan tetapi disisi lain mereka adalah orang-orang yang sangat cinta kepada manusia terkhusus pada umat islam dan sangat menginginkan kebaikan untuk mereka dan bukan malah menjauhkan mereka dari belajar agama dengan cara mengkleim sebagian kelompok dengan kata sesat atau ahlul bid’ah dan kemudian mengatakan hanya kelompoknyalah yang selamat. semoga alinshof bisa tetap ada dan menjelaskan kepada umat akan al-Haq.

Mukron mengatakan...
on 

Salah satu problematika umat khususnya dikalangan umat islam yang mengaku dirinya berada dalam lingkaran Ahlu sunnah wal jamaah yang perlu untuk kita kemudian membaca dan mengoreksi kembali pada diri-diri kita adalah problematika moral dan budi pekerti yang kalau kita memperhatikan apa yang terjadi dilapangan maka kita melihat berbagai perselisihan dan perpecahan yang bahkan sampai pada tingkat pencapan dan pengelompokan bahwa kelompok tersebut kelompok yang sesat dan meyesatkan dan berbagai stempel yang memiliki makna yang buruk seakan-akan kebenaran itu cuman milik suatu kelompok tertentu atau dengan kata lain kelompok yang tidak berada pada jalan mereka maka mereka bukanlah masuk dalam golongan Ahlu sunnah Wal Jamaah.
Dan tidaklah problematika ini ada kecuali karena disebabkan hilangnya keteguhan dalam memegang konsep beretika yang baik. Dan yang lebih mengherankan lagi bahwa dari kelompok-kelompok yang berpecah tersebut kita melihat akan kesatuan dalam prinsip serta kesamaan metode dalam pengambilan dalil dan hokum. Namun kesamaan tersebut tidak kemudian menjadikan mereka bersatu akan tetapi malah perpecahan dan perselisihan yang ada. Sehingga ada baiknya bagi kita mungkin untuk membaca dan menelusuri sejarah perjalanan para ulama salaf dalam penyikapan mereka kepada manusia dan terkhusus kepada kita umat islam, maka kita akan mendapatkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang begitu paham akan kebenaran, membanta syubhat-syubhat dari ahli bid’ah dan begitu semangat dalam menyampaikan da’wah kepada manusia, namun kita juga mendapati bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat cinta kepada sesama manusia untuk kemudian mendapatkan hidayah dan sangat menginginkan kebaikan pada umat ini.dan dalam perjalanan da’wah Rasulullah kita sudah melihat bagaimana Rasulullah bersikap kasih sayang kepada manusia dimana ketika beliau harus mendapat penolakan, dan kezholiman dari kaumnya sehingga kemudian malaikat mendatanginya untuk kemudian memberikan balasan kepada orang-orang yang telah menyakiti rasul Allah tapi apa yang beliau katakan kepada malaikat utusan Allah tersebut, beliau kemudian berkata :” saya berharap akan lahir dari mereka suatu generasi yang dimana mereka tiadalah menyembah kecuali kepada Allah serta tidak berbuat kesyirikan “.
Dan jalan atau manhaj bagaimana Rasulullah berinteraksi dengan manusia kemudian diamalkan dan di implementasikan oleh para sahabat serta orang-orang yang datang setelah mereka “.

Mukron mengatakan...
on 

Ali bin Abi Tholib – Radiallahu Anhu – ketika orang-orang menangkap Abdurrahman ibnu Muljim yang telah menusuk beliau, dan membawanya kehadapan beliau untuk mengadilinya beliau berkata :”kalau saya hidup maka urusannya kembali pada diriku, dan kalau saya mati maka urusan itu kembali kepada kalian, dan jika kalian ingin menerapkan hokum maka yang membunuh harus dibunuh, dan kalau kalian memaafkannya maka sesungguhnya yang demikian itu lebih dekat kepada ketakwaan “.
Umar bin Abdul Aziz – Rahimahullah – pada suatu hari didatangi oleh putranya dan berkata kepada ayahnya : ” Wahai Amiril Mu’minin ! apa yang akan engkau katakan nanti esok dihadapan Allah ketika Allah bertanya kepadamu : engkau melihat kebid’ahan namun engkau tidak menghilangkannya, dan engkau melihat sesuatu yang sunnah namun engkau belum menghidupkannya? Kemudian berkata Umar kepada anaknya : semoga Allah merahmatimu dan menjadikanmu anak yang sholeh ! wahai anakku, sesungguhnya kaummu telah berlebih-lebihan dalam perihal agama mereka secara perlahan-lahan, dan kapan saya bersifat keras terhadap apa yang sekarang mereka didalamnya maka saya tidak merasa aman dari akan terjadinya pertumpahan darah, dan demi Allah, sesungguhnya hilangnya dunia ini maka itu lebih muda bagi saya dibandingkan tumpahnya darah yang disebabkan oleh tangan ini! Apakah engkau tidak menginginkan bahwa akan datang suatu hari dimana hari itu kecuali kebid’ahan itu akan hilang dan sunnah-sunnah itu akan hidup ? “.
Abu Umamah al-baahily ketika melihat kepala-kepala dari orang-orang khawarij yang bergelantungan disebuah tempat di kota Damsiq beliau menangis dan berkata : ” saya menangis karena kasih sayangku kepada mereka ketika saya melihat bahwa mereka adalah masih merupakan bagian dari umat islam “.

Inilah sebagian cerita tentang kemulian para ulama salaf dalam menghadapi terjadinya perselisihan dan pertentangan dalam da’wah dijalan Allah yang semoga kita meniti jalan yang telah mereka tempuh untuk kemuliaan islam sehingga dunia ini semua menjadi tempat yang indah untuk beribadah dan menyembah kepada Allah. Wallahu A’lam.

Mukron mengatakan...
on 

Masyaallah, bau fitnah itu bakal tercium juga kendati dikemas dengan sangat rapat. Teruslah berjuang membela harga diri dan kehormatan para ulama dan du’at.

Raihanah mengatakan...
on 

Selamat….teruslah berjuang membela kehormatan kaum muslimin. Kepada saudara-saudaraku salafi, lebih bermanfaat jika kita menyibukkan diri kita dalam thalabil ilmi syar’i ketimbang mengais-ngais kesalahan orang lain, apalagi para ulama. Dan saudaraku kader WI, tetaplah berjuang membela al-qur’an dan as-sunnah hingga tegak izzul islam wal muslimin.

Wujdan al-Endrekaniyah mengatakan...
on 

subhanallah…segala puji bagi Allah yg selalu membela hamba2Nya yg teguh di atas perjuangan.mudah2n bantahan2 yg dimunculkan dlm web ini,bisa lebih membuka hati kita semua terhadap kebenaran

abu said mengatakan...
on 

Assalamu ‘alaikum warahmatullah, saya heran dengan situs almakassari.com, setiap sanggahan atau bantahan terhadap kedustaan-kedustaan mereka tidak dimunculkan, namun berita media (tribun timur) yg mana berita tsb keliru dimunculkan, mana bukti keadilan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yg berbuat adil

Abu Umar mengatakan...
on 

Subhanallah, pemaparan ustadz pengelola situs ini menarik sekali dan sangat ilmiah.Syukron ustadz atas penjelasannya semoga memberikan pencerahan kepada ana terkhusus para tholabul ‘ilmi syar’i yang banyak tersibukkan dengan dunia ‘tahdzir mentahdzir’ dan ’syubhat mensyubuhat’ daripada menuntut ilmu yang bermanfaat.Ana setuju dengan pendapat ustadz bahwa janganlah waktu kita banyak terkuras untuk mengurusi masalah-masalah fitnah dari orang-orang yang selalu mengklaim diri ‘paling salafy’ namun perlu sekali-kali kita membuat counter yang ilmiah menanggapi fitnah-fitnah tersebut. Ana sangat kenal dengan karakter para saudara-saudara kita tersebut.Salah satu karakter mereka yang paling menonjol adalah ‘tidak mau kalah’.Sebaik dan seilmiah apapun argumen kita maka mereka tetap susah untuk mengakui dan menerimanya. Padahal banyak diantara syubhat dan tuduhan tersebut yang akhirnya mereka amalkan sendiri namun karena sifat ‘tidak mau kalah’ mereka enggan dengan gentle mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada orang-orang yang teleh mereka dzalimi dengan fitnah-fitnah tsb. Sebagai contoh, dulu mereka menyesatkan Wahdah Islamiyah karena membuat Yayasan dan organisasi namun sekarang mereka juga membolehkan Yayasan dan struktur organisasi , silahkan lihat salah satu situs dakwah mereka http://www.darussalaf.or.id pada menu Yayasan. Mereka membid’ahkan ‘Tarbiyah dan marhalah’ namun sekarang membolehkannya bahkan disitus mereka http://www.almakassari.com, ustadz mereka mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengatakan bahwa tarbiyah dan marhalah adalah bid’ah yang mereka bid’ahkan adalah tarbiyah sirriyah dan marhalah hizbiyyah. Padahal yang ana dan saya yakin juga para kader WI bahwa mereka dari dulu mendakwahkan syubhat bid’ahnya Tarbiyah dan marhalah secara umum dan mutlak tanpa merinci bahwa ada tarbiyah dan marhalah yang bukan bid’ah.Bhkan gara-gara syubhat ini banyak kader-kader WI yang’menyeberang’ ke mereka.wallahu musta’an.Dan banyak lagi bukti ketidakkonsistenan mereka.Mereka mudah membid’ahkan sesuatu namun ketika tidak lagi memiliki argumen mereka mencabut pendapat mereka. Sebenarnya ini satu hal yang ana syukuri bahwa mereka mau ruju’ ilal haq namun yang ana sangat sayangkan bahwa tidak ada sikap ‘jantan’ dari para asatidzah/ustadz-ustadz mereka sebagai pihak yang paling bertanggung jawab berkaitan dengan berbagai tuduhan dan syhubhat yang mereka lontarkan kepada Wahdah yang mau mengakui kekeliruan ‘ijtihad’ mereka di masa-masa lalu sehingga menjadi penyebab timbulnya ‘huru-hara’ di kalangan penegak dakwah ahlussunnah dengan cara meminta maaf secara terbuka kepada para asatidzah WI karena asbab syubhat2 tsbut mereka telah merusak kehormatan para asatidzah dan seluruh kader Wi dengan label sesat, ahlu bid’ah dsb.

Abu Fairuz mengatakan...
on 

Terimakasih atas sanggahannya yg saya kira sudah lebih dari cukup, memang untuk terus ribut dalam masalah ini hanya akan membuat waktu dan potensi kita habis pada hal-hal yang sebenarnya masih ada perkara-perkara penting yang seharusnya lebih kita perhatikan.
Perlu dikatakan disini, bahwa saya sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa dengan ormas islam bernama WI ini, namun saya sangat simpati dengan upaya-upaya dakwah yang telah dilakukan olh WI dalam rangka memberikan pencerahan kepada umat islam indonesia yg sudah sjk lama terperangkap dalam lingkaran syubhat dan kebutaan terhadap sbgian masalah2 prinsipil dalam agama. Maka, dengan hadirnya WI untuk turut mengambil peran dalam proyek besar dakwah ini merupakan satu hal yang patut kami syukuri.
Sejak dulu saya tidak pernah bisa memberi stempel “ma’sum” kepada gerakan islam tertentu, karena disamping kapasitas saya yang jauh dari urusan “cap mengecap” juga karena saya sangat yakin bahwa hampir tidak ada ormas atau kelompok dalam islam yang tidak memiliki cacat dan kekeliruan. Hal itu karena kema’suman hanya ada pada Rasulullah saw.
Berangkat dari logika ini, saya hanya ingin berpesan kepada kader2 WI untuk tetap bersikap terbuka dan legowo terhadap kritikan yang diarahkan kepada WI, anggaplah hal itu sebagai sarana untuk mengaca dan membangun diri (evaluasi). Dan saran saya kepada yg mengklaim diri “salafi” agar menggunakan etika dalam mengkritisi hal-hal yng barangkali perlu dikritisi. Karena pada akhirnya kita semua sepakat bahwa persatuan diatas Aqidah dan Sunnah jauh lebih baik dari pada perpecahan dan permusuhan.
Terakhir, wasiat saya buat ikhwah-ikhwah di WI dan ikhwah-ikhwah “salafi” teruslah belajar dan belajar, saya mecintai kalian semua karena Allah..Amiin

kader Hidayatullah mengatakan...
on 

Afwan, tulisan arabnya banyak yang tidak kelihatan. Mungkin bisa dikoreksi. Syukron. Semoga hati dan mata mereka dapat terbuka.

Fery mengatakan...
on 

afwan..kami masih tahap pembenahan…syukron dan doakan kami

Al-Inshof mengatakan...
on 

Ana setuju dengan apa yang dikatakan oleh saudaraku dari Hidayatullah bahwa kita jangan menyibukkan diri sehingga menguras seluruh potensi kita untuk mengcounter tuduhan dan syubhat dari saudara-saudara kita yang slalu mengklaim paling ’salafy’.Masih banyak yang harus kita kerjakan dan lebih prioritas diantaranya meningkatkan intensitas dakwah ahlussunnah ke tengah2 masyarakat kita yang masih jauh dari addien ini dan masih terkungkung dalam degradasi aqidah, ibadah dan akhlak yang tentu saja mengedepankan dakwah bilhikmah dan penuh kelemahlembutan termasuk berupaya melakukan perbaikan terhadap diri kita pribadi.Karena bagaimana mungkin kita mau memperbaiki orang lain sedangkan kita sendiri masih memiliki banyak kekurangan?Termasuk yang perlu menjadi perhatian kita sebagai kader WI agar menjauhkan diri dari sikap ta’asshub (fanatik) terhadap lembaga dan mau menerima kritik dan kebenaran dari siapa saja dengan sikap tasamuh apalagi klo kritikan itu sebagai bentuk kasih sayang dan kepedulian terhadap lembaga kita.Ana masih ingat nasehat para ustadz/asatidzah kita diantaranya Ust.Ihsan Zainuddin hafidzahulloh bahwa kebenaran bukan hanya milik Wahdah dan lembaga kita hanyalah merupakan sarana untuk memudahkan kita menyebarkan dakwah ahlussunnah demi perbaikan ummat. Dan Wahdah tidak akan mungkin bisa memperbaiki ummat ini secara ‘one man show’ namun kita membutuhkan ta’awun dengan saudara-saudara kita dari lembaga lain yang memiliki kesamaan aqidah dan manhaj.Karena persatuan yang haqiqi hanya bisa diwujudkan di atas persatuan aqidah dan manhaj.

Abu Fairuz mengatakan...
on 

“Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada kita dan mereka”

Imron mengatakan...
on 

(o) artikel yang sangat bermanfaat, jazakumullahu khoir
(o) artikel ini banyak nukilan, bahkan nukilan bernukil, ahsan menggunakan editing yang cakep, misal huruf miring, bold, variasi font & ukuran, variasi warna (tapi konsisten). Semoga memudahkan pemahaman baca dan tersampaikannya muatan materi, serta meminimalisir distorsi penulisan
(o) font arabic nya kok keriting-keriting
(o) kami menduga artikel ini akan banyak komentar, diskusi bahkan cenderung jidal, semoga pengelola tidak kuwalahan nantinya
(o) semoga keluarnya artikel ini, dan sambungan nantinya menambah ketundukan sikap hati kita serta kedewasaan dalam bermanhaj
Barokallahu fiikum…

bramantya mengatakan...
on 

Mari kita buktikan lawan fitnah mereka (para salafikir) dengan amal nyata yang bermanfaat untuk diri, keluarga dan ummat. Seyogyanya kalau kita merasa yakin dengan manhaj Wahdah Islamiyah saat ini, mari kita sebarkan tulisan2 ini di link2 kita dan kalu bisa kita upayakan dicetak dalam bentuk buletin atau fotocopy kertas untuk disebar, karena tidak setiap kader dan kaum muslimin dapat “menyentuh” dunia maya ini. Semangat terus! Menagambil manfaat dan memberi manfaat. salam sudaramu di Yogya.

Kang Yudi mengatakan...
on 

kepada asatidzah kami, Uhibbukum Fiilah wahafizhokumullah jami’an. inilah yang udah lama kami nanti-nantikan, agar bisa lbh membuka mata mereka untuk lebih memahami manhaj salaf yang betul2 salaf, bukan hanya sekedar pengakuan belaka.Ya Allah tunjukkilah pada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berilah kemapuan kami untuk melaksanakan kebenaran itu,dan tunjukkilah kami bahwa yang batil itu adalah kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk meninggalkan kebatilan itu,aamiin.

Abu abdurrahman Al-awwad mengatakan...
on 

assalamu ‘alaikum…
syukran atas penjelasan ust, smoga semua pihak dapat mengambil faedahnya dan kembali mau merajut tali ukhuwah yg renggang karena sikap yg “kurang bijak”
masukan dari ana, tolong tulisan arabnya agar di posting ulang agar dpt di baca,syukran.

abu shalih mengatakan...
on 

as salamualaikum ..smoga sang “mufti besar” abad ini al’allamah al mushonnif akh sofyan khalid segera menyadari kekeliruannya dan bertaubat kpd Allah atas seabrek fitnah yg telah ia semburkan dari lisannya dan menyebabkan perpecahan di tengah ahlissunnah wal jama’ah di kota sebrang (makassar)

Muh. Shobir mengatakan...
on 

bismillah….ust ana minta izin mencopy artikel ini dan silsilahnya kedepan, semoga hal ini dpt menjadi pelajaran berharga bagi “mantan ikwah2 ana” yg kini tak lagi ingin menegur walau hanya dgn sekedar menjwab salam. Allahu yahdina wa yahdihim.

hamka al banjary mengatakan...
on 

Ala kullin….mari fokus perbaiki diri…sungguh fitnah adalah sunnatullah dalam dakwah. Untuk penulis…Kami ucapkan Jazaakumullah khairan untuk ilmunya. moga saudara2 kita yang masih seneng aja memperhatikan kita hingga suka untuk memberi peringatan bisa dikit menyeimbangkan akal..ilmu…dan perasaannya…keep jaahadu!

Qurrata`A'yun mengatakan...
on 

Semoga menjadi penawar bagi hati yang curiga. Menuduh orang awam adalah bukan kebaikan dan keburukannya semakin besar jika sasarannya adalah para da’i. Semua akan dipertanggungjawabkan. Salut, syukran!

Rahmat mengatakan...
on 

Tegakkan kbenaran di atas manhaj yg hak..
Insya Allah Ikhwah tolitoli utamanya d Bajugan trus Bjuang membantu WI.
Barakallahu Fikh
salam Ukhwah Cabang WI Tolitoli.

Akh@yyub mengatakan...
on 

MANTAP MENTONG

Aisyah khansa mengatakan...
on 

Posting Komentar

" Afwan, Kami hanya menampilkan komentar yang ilmiah dan kritikan yang membangun "

Next previous home