Sabtu, 19 Desember 2009

Nasehat Untuk Thullabul Ilmi

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasul-Nya Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du: Tidak diragukan lagi bahwa menuntut ilmu termasuk dari ibadah (taqarrub) yang paling utama dan merupakan sebab-sebab keberuntungan meraih syurga serta kemuliaan bagi siapa yangmengamalkannya.

Termasuk dari perkara yang paling penting dalam hal ini adalah ikhlas dalam menuntutnya, yaitu hendaknya menuntut ilmu itu karena Allah, bukan karena tujuan yang lain. Karena hal itu adalah jalan untuk mendapat manfaat dari ilmu dan diberi taufik untuk meraih tingkatan-tingkatan yang tinggi, baik di dunia maupun di akhirat.

Telah disebutkan dalam hadits dari Nabi Salallahu Alaihi Wasalam, bahwa beliau bersabda:

Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya dicari hanya karena mengharap wajah Allah lalu ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan tujuan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau syurga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan).

Dan Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang ada kelemahan didalamnya dari Nabi Salallahu Alaihi Wasalam bahwa beliau bersabda:

Barang siapa menuntut ilmu untuk berdebat dengan para ulama atau menyelisihi orang-orang bodoh atau untuk memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya kedalam neraka.” (HR. Tirmidzi)

Maka saya wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan setiap muslim yang membaca pesan ini agar mengikhlaskan niat karena Allah dalam semua perbuatan (amal) sebagai pengamalan dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (QS.Al-Kahfi (18): 110).

Dan dalam shahih Muslim dari Nabi Salallahu Alaihi Wasalam, bahwa beliau bersabda:

Allah ‘‘Azza Wa Jalla berfirman,’ Aku adalah serikat yang paling kaya dan tidak butuh dengan serikat barang siapa yang melakukan suatu amal dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku didalamnya, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.”(HR. Muslim).

Sebagaimana saya wasiatkan kepada setiap penuntut ilmu dan setiap muslim agar takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyadari bahwa Dia selalu mengawasinya dalam setiap urusan, hal ini merupakan pengamalan dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (QS. Al-Mulk (67): 12).

Dan firman-Nya: (QS. Ar-Rahman (55): 46).

Dan telah berkata sebagian salaf, “ Kepala ilmu itu ialah takut kepada Allah.”

Dan berkata pula Abdullah bin Mas’ud ra, “Cukuplah takut kepada Allah itu suatu ilmu, dan cukuplah tertipu (tidak takut) dengan-Nya itu suatu kebodohan.”

Sebagian salaf yang lain berkata, “Barang siapa yang kepada Allah dia lebih mengenal, niscaya terhadap-Nya ia lebih takut.”

Sebagai dalil yang membenarkan ungkapan tersebut ialah sabda Nabi Salallahu Alaihi Wasalam kepada para sahabatnya:

“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah diantara kalian.”

Maka semakin kuat ilmu seorang hamba terhadap Allah, niscaya hal itu akan menjadi sebab kesempurnaan ketakwaan dan keikhlasannya serta berhentinya seorang hamba pada hudud (batasan-batasan Allah) dan kewaspadaannya dari maksiat-maksiat. Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: (QS. Faathir (35): 28).

Maka orang-orang yang berilmu tentang Allah dan agama-Nya mereka adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah serta paling lurus dalam dien-Nya, diatas mereka semua itu adalah para Nabi dan rasul Alaihi Salam, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan.

Oleh karena itu Nabi Salallahu Alaihi Waslaam memberitahu bahwa termasuk dari tanda-tanda kebahagiaan adalah jika Allah memahamkan seorang hamba-Nya terhadap dien-Nya, maka bersabda Rasulullah Salallahu Alaihi Waslam:

Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya niscaya Dia fahamkan orang itu tentang dien.” (HR.Bukhari dan Muslim -dari sahabat Mu’awiyah RadhiallahuAnhu-)

Hal itu tidak lain karena kepahaman tentang dien akan mendorong sesorang untuk mengerjakan perintah-perintah Allah, takut kepada-Nya, mengerjakan apa yang difardhukan oleh-Nya dan hati-hati dari kemurkaan-Nya serta menuntunnya kepada akhlak-akhlak yang mulia, amal-amal yang baik dan nasehat (menunaikan hak-hak) Allah serta hamba-hamba-Nya.

Maka saya mohon kepada Allah ‘Azza Wa Jalla aga Dia berkenan mengaruniakan kepada kita, para penuntut ilmu dan seluruh kaum muslimin kepahaman tentang dien-Nya dan istiqamah diatasnya serta melindungi kita semua dari keburukan-keburukan diri kita dan kejelekan-kejelekan amal kita. Sesungguhnya Dia-lah yang paling layak dan maha berkuasa atas hal itu.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas hamba dan rasul-Nya Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Tawshiyat

Beberapa wasiat yang sering diulang-ulang oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah [2]

Wasiat-wasiat Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah sangat banyak dan berbeda-beda, tergantung kondisi dan orang-orang yang dinasehati. Akan tetapi ada beberapa wasiat-wasiat tertentu yang beliau sering mengulang-ulangnya, baik dalam sambutan-sambutannya, ceramah-ceramahnya, surat-suratnya maupun nasehat-nasehat secara lisan kepada beberapa orang. Di antara wasiat-wasiat tersebut ialah :

  1. Wasiat untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
  2. Memberikan perhatian terhadap Al-Qur’an Al Karim, baik dengan menghafalnya, mentadabburinya, berhukum dengannya dan mengamalkannya.
  3. Memberikan perhatian terhadap As-Sunnah, mengamalkannya dan menghafal apa yang mudah darinya.
  4. Bersungguh- sungguh dalam berdakwah menyeru manusia kepada Allah, amar ma’ruf dan nahi munkar serta bersabar atasnya
  5. Memberikan perhatian terhadap kitab-kitab aqidah, beliau berwasiat untuk menghafal apa yang mudah darinya seperti Aqidah wasithiyah, Risalah at Tadmuriah dan selainnya dari kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah; dan Kitab tauhid, Tsalatsatul Ushuul serta Kasyfu Asy-Syubuhat karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
  6. berwasiat untuk membaca kitab-kitab hadits, seperti : Bukhari, Muslim dan kitab-kitab sunnah serta musnad yang lainnya dan menghafal apa yang mudah darinya seperti : ‘Umdatul Ahkam karya Al Maqdisi rahimahullah, Bulughul Maram karya Ibnu Hajar rahimahullah dan Al Arba’in An Nawawiyah karya An Nawawi rahimahullah beserta pelengkapnya karya Ibnu Rajab rahimahullah.
  7. Berwasiat untuk menjaga persatuan kalimat kaum muslimin dan peringatan untuk menjauhi perpecahan dan perselisihan.

[1] Dikutip dari kitab Jawaanib Min Siirati Al Imam Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, oleh Syaikh Muhammad bin Musa al Musa. Hlm. 427

[2] Dikutip dari kitab Jawaanib Min Siirati Al Imam Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, oleh Syaikh Muhammad bin Musa al Musa. Hlm. 429

print halaman ini
Langganan Posting Via Email

Masukkan Alamat Email Anda :

Artikel Terkait



Comments :

6 komentar to “Nasehat Untuk Thullabul Ilmi”

Allaahumma rzuqnaa ‘Ilman Naafi’aan

Abu Muhammad mengatakan...
on 

saat ini betapa butuhnya kita akan nasihat-nasihat yang membangkitkan semangat untuk terus menggali dan mencari ilmu untuk kita kemudian mengangkat kebodohan dari diri-diri kita dan kemudian kita mengamalkannya dan mendakwakannya sekalipun dalam perjalanan menuntut ilmu dibutuhkan kesabaran dan kesusahan.
namun kita harus yakin bahwa setelah kesusahan pasti akan datang kemudahan sebagaimana perkataan ibnu mas’ud – Radiallahu Anhu- : ” tidaklah kesusahan itu masuk dalam sebuah lubang kecuali kemudahan akan mengikutinya “.
semoga alinshof bisa tetap memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kita para penuntut ilmu yang masih begitu butuh akan bimbingan dan nasihat dari para ustadz-ustadz dan semoga apa yang telah diperbuat oleh ustadz-ustadz pengelola situs ini tetap eksis dan menjadikannya suatu amalan yang akan mendapat balasan pahala kelak di akhirat.
dan semoga juga ilmu ini akan bisa diwarisi oleh anak-anak kita nanti sebagimana dalam suatu perkataan ulama salaf : ” orang-orang dahulu telah menanam dan sekarang kita memakannya, dan sekarang kita menanam untuk kemudian orang-orang yang datang setelah kita bisa menikmatinya”.

Mukran mengatakan...
on 

Membaca adalah kunci untuk mendapatkan ilmu, dan ilmu merupakan pondasi pertama dari kebangkitan umat, dan umat islam dahulu jaya karena ditopang oleh kematangan ilmu yang ada pada para ulama dan khalifah yang mereka sebarkan melalui lisan dan tulisan sampai seorang khalifah al-Manshour – khalifah bani Ab’bas – memerintahkan kepada Imam Malik – Rahimahullah – untuk menulis sebuah buku – dan sang khalifah menjelaskan bentuk dan sifat buku – dan setelah Imam Malik selesai dari menulis kitab al-Muwattho’ sang khalifah ingin menjadikan kitab tersebut menjadi sebuah undang-undang negara, namun Imam Malik menolak keinginan khalifah…dan Imam Malik berkata : ” sesungguhnya khalifah telah mengajarkan kepada saya dalam menyusun buku “.
kami menantikan dan selalu menantikan karya-karya ilmu terbaru yang telah dituangkan dalam bentuk tulisan dan disebarkan pada situs ini untuk menambah wahana bacaan kami. selamat berkarya!

Mukron mengatakan...
on 

smoga Allah Membalas kebaikan antum smua dgn sebaik2 balasan di dunia dan yg terpenting di akhirat kelak insyaAllah

abu usamah mengatakan...
on 

Salamun ‘alaikum.ana izin copy tulisannya…syukran

jurnal ahmad mengatakan...
on 

semoga Allah melembutkan hati-hati kita...untuk senantiasa bersemangat dan ikhlas dalam menuntut ilmu. jazakallahu khairan tim Al Inshof banyak pahala buat antum... Amin.

Muslim Pendamba ukhuwah mengatakan...
on 

Posting Komentar

" Afwan, Kami hanya menampilkan komentar yang ilmiah dan kritikan yang membangun "

Next previous home