Sabtu, 19 Desember 2009

Jangan Mempersempit Makna Salafiyah

Oleh : Fadhilah As-Syekh DR.Abdulloh Al-Muthlaq (anggota haiah kibar ulama)

Dalam sebuah rekaman muhadhorah di kota Hail pada hari Rabu 19-Sya’ban-1424 H yang bertemakan “Al-Fitan Asbabuha wa ‘ilajuha” .

Syekh DR.Abdullah Al-Muthlaq menjelaskan sebagai berikut :

“Wahai saudaraku-saudaraku yang tercinta…mereka itu adalah orang-orang yang mempersempit makna salafiyah.

Mereka adalah orang -orang yang mengambil bagian persangkaan, orang-orang yang tidak menerima taubat, orang-orang yang memperbincangkan manusia dan tidak mau menyebarkan kebaikan. Merekalah orang-orang yang lebih banyak memberikan mudhorat kepada salafiyah daripada kebaikan yang mereka berikan kepadanya.

Sesungguhnya jika anda melihat pada para ulama Saudi maka berapakah jumlah mereka? (cukup banyak!!!) sementara orang-orang itu hanya menginginkan tiga atau empat ulama saja, sementara yang lain “bukan termasuk salaf”?!!

Ini adalah musibah besar. Sesungguhnya jika anda meliahat kepada ulama di dunia Islam saat ini, anda akan mendapati bahwa pada diri mereka terdapat kesalahan-kesalahan. Jika melihat kepada para ulama umat ini yang memberikan pelayanan pada agama semisal Ibnu Hajar, An-Nawawi, Ibnu Qudamah penulis kitab al-Mughni dan kitab-kitab bermanfaat lain, Ibnu Uqail, dan Ibnul Jauzi maka anda akan mendapatkan bahwa mereka memiliki karya-karya yang bisa mengeluarkan mereka dari salafiyah, karena terdapat beberapa kritikan di sana.

Orang-orang yang menyempitkan makna salafiyah tersebut telah berbuat buruk pada umat ini. Oleh karena itu , lihat kepada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahulloh, dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahulloh, bagaimana keduanya bermuamalah dengan manusia. Bagaimana keduanya memperindah akhlak-akhlak mereka, bagaimana kedunya menerima para thalabul ‘ilmi (penuntut ilmu), bagaimana keduanya menghormati para ulama? Apakah manhaj seperti ini ada pada mereka (orang-orang yang mempersempit makna salafiyah itu)? Tidak. Mereka tidak ridho kecuali dari sejumlah kecil yang terbatas dengan hitungan jari jemari dari para thalabul ‘ilmi, yang menyibukkan diri dengan memakan daging para ulama dalam majelis-majelis mereka. Dan kadang memaksakan ucapan-ucapan mereka kepada apa yang tidak terkandung di dalamnya, bahkan kadang mereka berdusta atas nama mereka. Tidak ada dalam kamus mereka kata taubat. Mereka tidak menerima seorangpun untuk kembali. Mereka mempersempit agama ini. Mereka bergembira dengan keluarnya manusia darinya, dan tidak bergembira dengan menerima udzur manusia dan masuknya mereka kedalamnya.

Ini adalah sebuah musibah wahai saudaraku. Lihatlah wahai ikhwah fillah kepada kelembutan akhlak Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahulloh dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahulloh, bagaimana mereka memberikan fatwa kepada seluruh generasi dunia islam sekalipun mereka berbeda-beda, di Eropa, Amerika, Afrika, Jepang, Indonesia dan Australia. Siapa yang ridho dengan keputusan mereka? Siapa yang ridho? Anda akan mendapati mereka menerima ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahulloh, dan Muhammad Ibnu ‘Utsaimin rahimahulloh dan fulan dan fulan. Akan tetapi apakah mereka (orang-orang itu) meridhoi masyayikh mereka? Tidak demi Alloh, mereka tidak meridhoinya. Mereka tidak akan menerimanya.

Sesungguhya titan mereka – mudah-mudahan Alloh Subhanahu wata’ala memberikan taufiq kepada mereka dan memberikan hidayah kepada mereka – adalah mempersempit makna salafiyah dan membuat orang lari dari salafiyah. Mereka menjadikan salafiyah sebagai sebuah makna sempit lagi terbatas. Kebanyakan perbuatan mereka adalah mengkafirkan manusia, menfasikkan manusia, mengumpulkan kesalahan-kesalahan mereka,merusak nama baik manusia, serta mencoreng kehormatan mereka.” (AR)

print halaman ini
Langganan Posting Via Email

Masukkan Alamat Email Anda :

Artikel Terkait



Comments :

8 komentar to “Jangan Mempersempit Makna Salafiyah”

Subhanallah, kalimat ini keluar dari seorang ulama besar, anggota Haiah Kibar Ulama (komisi Ulama Besar) Saudi Arabiyah. Apakah antum tidak mengambil pelajaran jadinya?? kalau bukan mereka yang antum dengar maka siapa lagi??? Allahu Musta’an.

Raihanah mengatakan...
on 

Dan sungguh benar bahwa saat ini orang-orang yang mengaku dirinya bermanhaj salaf telah menyempitkan makna salaf itu sendiri seolah-olah cuman merekalah yang berhak mnyematkan lencana kalimat salafi itu pada perorangan atau organisasi,dan sesungguhnya manhaj salaf sangat jauh dari apa yang mereka pahami karena salaf sangat menjaga lisan-lisan mereka dari perbuatan gibah apatah lagi gibah yang tidak didasarkan pada ilmu.dan kepada mereka yang sering menjadikan majlis hanya sekedar membicarakan kejelekan seseorang apatahlagi kepada yayasan besar seperti WI,Maka kita katakan kepada mereka “bahwa perjanjian kita nanti diakhirat” dan katakan sepuasmu tentang WI, maka sesungguhnya engkau cuman memuaskan hawa nafsumu didunia dan pengadilanmu nanti dihari akhirat.

Mukran mengatakan...
on 

semakin mereka melancarkan tuduhan – tuduhan fitnahnya maka semakin nampak kebohongan dan ketidak jujuran mereka dalam pengklaiman manhaj, maka kita katakan kepada mereka bahwa PELAJARILAH BAGAIMANA AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DALAM MENILAI ORANG
saya mengajak kepada kita semua untuk mendoakan kepada Allah agar mereka – mereka yang termasuk kedalam kelompok yang mengklaim dirinya salafi tapi sifatnya jauh dari sifat para salaf ini diberi hidayah oleh Allah Subuhanahu wata’ala

insan pengabdi mengatakan...
on 

Barakallahu fik

abu usamah mengatakan...
on 

Assalamu’alaikum,uhibbukum fillah jami’an,untuk kita semua yang telah membaca uraian diatas untuk berusaha menyematkanya dalam prilaku kita dalam menyikapi saudara-saudara kita yang mungkin berlaku kurang baik terhadap diri kita dengan sehikmah dan sebijak mungkin sesuai manhaj salaf kita, jangan sampai kebaikan yang telah berada dalam genggaman, raib begitu saja akibat kurang waspadanya kita dalam menerapkan manhaj yang hanif tersebut ketika kita merespon saudara kita dengan keburukan yang sama dimana kita membalas cacian dengan hujatan yang menyebabkan derajat kita terjerembab dalam titik nadir yang sama,waliyaudzu billah.

alhaq mengatakan...
on 

الإنسان محل الخطء و النسيان manusia adalah tempatnya salah dan lupa, yah memang benar adanya..tidak ada satupun dari kita sehebat apapun kualitas ilmu dan iman yg dimiliki dapat terlepas dari kesalahan alpa dan khilaf,oleh krenanya tidak di benarkan bagi siapapun (selain Nabi) mengklaim kebenaran pd dirinya secara mutlaq yg bahasa Al Qur'annya di sebut tazkiyah Allah berfirman ولاتزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى jgnlah kalian mentazkiyah(mengklaim paling suci/benar) Dia Allah yg lebih mengetahui siapa yg bertaqwa. lalu mengapa ada sebagian ikhwah2 kita menempuh jalan ini?? mentazkiyah diri dan kelompok mereka paling salafi dan paling atsari ????? dan selin mereka adalah mubtadi' sesat dan menyesatkan?????? hmmm enthlah....

abu khair mengatakan...
on 

yang jelasnya salafi bukan lah sebuah perusahaan yang dengan seenaknya para pemilik saham mengeluarkan orang lain dari perusahaannya jika sudah tidak sesuai dengan keinginannya. salafi adalah islam itu sendiri. bukankah sebaik2 salafi adalah Rasulullah?

abu abdirrahman abdillah al duriy al atsari mengatakan...
on 

afwan ustadz, kami membina halaqoh jajwid beberapa ibu2 yg mereka juga aktif kajian di pengajian "salaf" (mereka tdk punya pengajar quran wanita yg mau bermujahadah sampai ke tempat mereka, makanya meminta kami). kemudian mrk bertanya kpd ustadz salaf senior d surabaya, maka ustadzx lgsung menyesatkan Wahdah dan menyuruh ibu tsb melihat buktix d internet.
Maka ibu itupun bingung, jika mmg ustadz yg mentahdzir itu salah,,, knp bisa sprt itu, ilmux kan banyak, kalau ceramah sangat ilmiah lengkap dgn dalil2x sampai no.hadits dihafal smua. tentux perkataan yg keluar dari lidahx juga terukur dari ilmunya. gimana itu ustadz, bagaimana sebaiknya ana menjelaskannya, agar bisa ttp adil jg kpd ustadz tsb.

ummu aisyah mengatakan...
on 

Posting Komentar

" Afwan, Kami hanya menampilkan komentar yang ilmiah dan kritikan yang membangun "

Next previous home